Politik Apa Ma'in


Oleh: Andi Firdaus

Di sebuah warung, apa Ma’in menebar senyum. “Péu haba anéuk rantô,” celutuk sambil sebatang rokok ‘plat’ merah menyentuh bibirnya. Sudah kebiasaan sapaan ala kadarnya menyerang pemuda yang baru saja pulang dari rantau. Apa Ma’in kenal betul wajah dan gaya orang asing.


Apa Ma’in adalah penghuni tetap desa itu hampir 50 tahun. Maklum dia kenal betul siapa saja yang lewat di depannya. Tak jarang, sesangging senyum dilempar begitu saja. “Péu nacan di rantô, Ku déungê makmu,” sorot matanya menantang. Dia tak sekadar jeli melihat fasion dan orang asing, tapi kondisi politik juga tak dibiarkan lewat begitu saja.

Kebiasaan meukliép di satu tempat sudah seperti tradisi. Duduk di warung kopi untuk sekadar obrolan lepas memang biasa. Separuh kopi hitam ikut menghias meja di depannya. Meski jarum jam mendekati angka 2 siang itu, tak membuat Apa Ma’in beranjak dari kursi bambu panjang yang terlihat lapuk.

Geraknya ceria, santai bersahaja. Raut wajah tak memperlihatkan ia seorang yang sedang dirundung gelisah. Tak juga menampakkan khawatir. Jika pun ditanyakan soal politik kekinian, tanpa olah pikir pun Apa Ma’in spontan bisa menjawab. “Pulitek péu, ka 40 thön gampöng manténg lagé njöe (Politik apa, 40 desa masih seperti ini),” celutuknya

Perlahan dia angkat sarung. “Njöe ija krông manténg hana èk tablöe le (Kain sarung aja tak sanggup kita beli lagi),” pelan-pelan sarungnya dirunkan kembali. Celoteh soal pembangunan siapa saja boleh. Bicara péumakmu gampông hampir setiap hari di televisi. Apalagi ini zaman caleg-caleg tahun 2009 mendatang. “Ken caleg, tapi celeng,” maksudnya semacam celeng yang bisa kumpulkan uang bayak.

Celeng Masjid, celang anak yatim, rumah dhuafa, dan bahkan celeng korban cacat dan sebagainya. Bicara soal celeng, Apa Ma’in punya cara dan pola pikir tersendiri. “Méukesud Apa Ma’in péu?” karena penasaran saya ikut komentar juga. “Nyan hana katéupu! Rugo kajak sikula panyang,” helanya.

Kamu kan bisa lihat betapa banyak celeng-celeng muncul menjelang tahun 2009 mendatang. Mereka sudah tentu dan pasti menjadi celeng, bukan caleg. Karena setelah mereka jadi celeng benaran, pasti akan dikumpulkan uang pembangunan Masjid, uang korban konflik, uang kaum dhuafa, untuk dikumpulkan dalam satu celeng. Ditabung!

Apa Ma’in hanya korban positif atas analisanya sendiri dengan melihat lakon para elite. Perdebatan di desa-desa menjadi apatisme tersendiri melihat karakter pemimpin. Mereka tak pandai berdebat, tapi mereka lebih pintar berdialektika dengan realitas apa yang menjadi nyata di depan mata. Percaya tidak percaya, njöe kéu biet-biet!



Artikel Terkait