KRIMINALITAS

Oleh: Andi Firdaus

BENARKAH pasca MoU Helsinki, Aceh merupakan daerah tertinggi kriminalitas? Sehingga banyak pihak menganggap Aceh bagai “neraka” investasi? Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar pernah mengatakan, bahwa Aceh saat ini sudah aman. Namun tindak kriminal meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelum perjanjian damai Helsinki. Jika Wagub menganggap bahwa, meningkatnya angka kriminalitas akibat naiknya harga barang, harga pangan dan lain sebagainya, separah itu kah kondisi ekonomi masyarakat Aceh saat ini? Hingga berakibat hilangnya kendali moral dalam negeri berwajah syariat?

Selain Wagub, hasil penelitian World Bank (Bank dunia), statistik kekerasan dan kriminalitas di Aceh terus bergerak naik. Menurut WB, jika tahun 2007 hanya terjadi 27 kasus, maka pada tahun 2008 mencapai 30 kasus. Lagi-lagi WB, melalui Muslahuddin Daud, peneliti Conflict and Development Team World Bank Aceh, juga menganggap bahwa ekonomi dan uang juga faktor terjadi kejahatan tersebut.

Jika saja dilihat dalam kontek agama, maraknya kriminalitas bisa saja karena hilangnya “nilai-nilai” yang dijunjung tinggi dalam masyarakat kita. Mungkin juga benar kata Thomas Hobbes, bahwa menguatnya prinsip “homo homoni lupus” (manusia yang satu merupakan mangsa bagi manusia yang lain).

Penyakit—mungkin tumbuh pascatsunami—pengaruh globalisasi, tidak peduli lingkungan, permisif, hidup boros alias hedonisme menjadi “kanker” pembunuh pola pikir positif. Melupakan petuah-petuah lama adalah petaka, seperti diucapkan orang tua ketika berpisah “Beu seulamat iman”. Satu hal lagi “Bek lage nyan neuk, male di kalon le gob”.

Budaya malu seharusnya menjadi ukuran melihat perubahan kelakuan terjadinya tindakan di luar prosedur hukum. Kriminal bukan hanya ada di terminal, di pelosok desa, di kolong jembatan, di gang-gang kota. Tapi kriminal juga sudah terjadi di tubuh BRR, DPR, Kejaksaan, Kepolisian, Kehakiman dengan berbagai macam bentuk wajah criminal lainnya.

Sekali lagi, “Bek lage nyan neuk, male di kalon le gob”. Artinya, jangan seperti itu Nak, malu kita dilihat orang. ***






Artikel Terkait