Oleh: Andi Firdaus
Gabungan individu-individu merapatkan diri dalam barisan, seharusnya dapat dipahami bukan sebagai keterpaksaan perubahan. Aneka bentuk dorongan kerap menghampiri kita untuk mengatakan YA dan TIDAK. Motifasi oleh sederet masalah hingga berakhir pada menggabungkan diri dalam sebuah komunitas baru, bersahaja, dan disengaja.
Begitu juga dengan kita, kami dan mereka. Bagi kami, ketika sejumlah individu bersedia menjadi bagian dari solidaritas, maka tantangan pertama yang harus dihindari adalah stabilitas emosi. Kerap egoisme menghampiri saat bekerja. Inilah tantangan, ketika solidaritas dari team dituntut dengan sendirinya tanpa memasukkan unsur senioritas dan “ego” akulah.
Pengembangan komunitas kadang diperlukan banyak bagian. Selain tidak mencoba mamaksa karakter “aku” ke dalam kerakter orang lain, juga berusaha mencoba memahami dengan cara mengkompromikan karakter-karakter yang ada dalam komunitas. Sehingga, yang muncul adalah karakter bersama.
Selain ada banyak pengembangan, ketika kita telah mengatakan sepakat mendidirkan media. Segudang sepakat pula tercurahkan untuk kecerdasan. Bukan motto yang sering diucapkan orang-orang berbaju safari di zaman ‘Bebek” dengan kata “demi Aceh bermartabat.” Pencerdasan yang didorong oleh komunitas kita adalah, pencerdasan kebebasan memaknai arti hakikat individu yang terus berkreasi, aktif, bebas dan kritis.
Komunitas yang menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras mendorong pembaca tak hanya sekadar tahu, tapi mendidik. Ada kalanya, bisnis yang kita geluti tak hanya sekadar laba-rugi, tapi komitmen moral perubahan merupakan tanggungjawab masa depan. Menyesatkan gampang, namun mengembalikan kesesatan butuh masa dan kerja berkeringat.
Kami sadar, bahwa memaksa tersenyum bagi sikecil dalam usia dua bulan sangat tak mungkin. Bayi yang sedang diperdebatkan hari demi hari. Bahkan ada yang memberi nama proses, ada juga yang memberi nama baru. Semua masih diperdebatkan dalam satu ruang lingkup kebersamaan dengan menggabungkan pluralisme karakter dan ego sentrik.
Belum lagi jika ditilik dari keberagaman background pola pikir. Ini juga perlu diramu dengan metode dan tehnik khusus oleh pengendara yang dipercayakan dalam sebuah team. Kita bisa lihat, hingga saat ini kami pun masih mencari sosok yang layak menjadi pemimpin dalam team solidaritas ini. Tak lama lagi, kami hadir dengan wajah-wajah solidaritas baru. Pasti!
Wajah Solidaritas
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan April 27, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email