SABAR MENUNGGU

Oleh: Andi Firdaus

SEORANG teman pernah cerita ketika saya masih memakai seragam sekolah. Ini cerita tahun 90-an saat hidup saya belum punya beban, apalagi tanggungan seperti sekarang. Memang ada yang bilang, masa remaja paling indah. Main dan gaul dua hal yang selalu menjadi incaran. Itu dulu.

Ada keceriaan tersendiri di usia itu. Saat kumpul di jembatan, di kantin sekolah, dan bahkan di lapangan bola saat istirahat sehabis pertandingan. Ceritanya ringan. Ceplosan dan juga kerap menyindir. Dari soal pendekatan hingga kecewa dengan seorang cewek.
Tema politik jarang jadi obrolan. Alur ceritanya terlewatkan begitu saja dengan aneka tema dalam satu atau dua jam. Selepas itu bubar.

Ada satu hal yang membekas jika mengingat kenangan. Di samping ada di antara teman yang kocak, serius, sedikit pintar dan bahkan sering menjadi ‘olokan’. Diskusinya tanpa manajemen, pemimpin, moderator dan sudah pasti tanpa beban. Lebih parahnya, tanpa tujuan untuk sebuah kepentingan yang lebih besar. Meski begitu, ada juga teman yang merasa lelah dan marah jika apa yang dia bicarakan tak ada yang mendengar. Aneh, padahal tanpa tujuan.

Sekarang saya berada dalam komunitas yang sangat berbeda. Jauh dari tahun 90-an. Saat ini saya berada dalam komunitas orang-orang terpercaya dan bukan karena sedikit pintar, tapi memang pintar. Kini saya sedang bicara dalam komunitas sarat tujuan. Komunitas penuh perhitungan dan bahkan sarat kepentingan; kalau bukan bisnis, tentu soal perubahan informasi.

Sekali lagi, kini saya berada dalam ‘kawanan’ orang-orang yang punya beban dan tanggungjawab. Punya pemimpin, ada manajemen, dan yang lebih penting ada tujuan. Inilah yang kerap menjadi pembicaraan saya dalam komunitas baru. Bukan lagi soal pendekatan dengan cewek. Tapi pendekatan dengan pembaca, karena di situ ada karya saya dan teman-teman. Itulah yang sering saya diskusikan agar karya yang dihasilkan menjadi sebuah strategi mendekatkan diri dengan pembaca. Makanya, soal tampilan, perwajahan, update berita, tak ketinggalan informasi dan pembagian job description menjadi obrolan sehari-hari.

Kembali soal cerita teman dulu, dan hingga kini masih membekas dalam kepala saya. “Pakén kah hana cewèk sampé uröe njöe (Kenapa kamu tak ada cewek sampai sekarang),” tanya saya. Dengan sedikit bangga dia menjawab, “Buet njang paléng ku benci nakéuh bak préh-préh (Kerja yang paling aku benci adalah menunggu). Kira-kira jawaban saya ketika itu begini; makanya kamu tak punya cewek, karena kesabaran tak ada. Sekali lagi, itu dulu ketika kami belum punya tujuan dan tanpa beban.

Bagaimana dengan sekarang? Untuk mendapatkan cewek (baca: masyarakat pembaca), saya dan rekan harus menunggu dan sabar. Meski tanpa mesin cetak, televisi, pembagian tugas dan kantor permanen. Karena saya dan mungkin rekan-rekan sudah memiliki beban dan tanggungjawab. Bukan seperti dulu ketika usia SMA. Ya, saya dan kawan-kawan berusaha menunggu, karena ingin mendapatkan cewek. ***






Artikel Terkait