HIV/ AIDS

Oleh: Andi Firdaus

Malam renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2008 di Taman Sari Banda Aceh, Jumat 23 Mei 2008 sudah berlalu. Apa sebenarnya yang perlu direnungkan? Bukan acaranya, tapi ada banyak hal yang perlu dilakukan bukan sekadar merenung. Namun menjadikan malam itu sebagai langkah awal membuka stigma baru di Aceh bagi orang yang terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sering disingkat dengan Orang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Adanya mitos dan stigma negatif terhadap ODHA dalam masyarakat. Kemudian menjadi masalah psikososial yang rumit bagi mereka. Termasuk dikucilkan dan diskriminasi, sehingga ODHA kerap kehilangan hak asasi sebagai manusia. Bahkan luasnya masalah sosial berkaitan dengan mitos dan stigma ini, tidak jarang ODHA dikesampingkan dalam berbagai bentuk pelayanan kesehatan.

Lebih parahnya ketika mitos berkembang dalam masyarakat, lalu menganggap ini sebagai kutukan dari tuhan. Kutukan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan melanggar kodrat. Padahal, mitos tersebut kemudian terbantahkan dengan penemuan bahwa, virus HIV juga bisa menular melalui transfusi darah dan suntikan. Namun temuan itu belum mampu merubah mitos dalam masyarakat kita yang sudah terlanjur berkembang.

Jika mitos dan stigma negative terus berkembang, bukan hanya ODHA yang selalu dirugikan dalam mendapatkan hak asasi sebagai manusia. Tapi imbas yang paling besar adalah mereka yang berpotensi tertular virus pun menjadi enggan memeriksakan diri. Karena takut dipandang negatif dan dikucilkan masyarakat.

Keterlibatan berbagai pihak diharapkan mampu mengatasi permasalahan psikososial ini. Pemahaman yang benar mengenai AIDS perlu disebarluaskan. Pemerintah juga tidak terjebak dengan mitos dan stigma negatif yang sedang berkembang. Karena kenyataannya bahwa dalam era obat antiretroviral, AIDS dapat dikendalikan. Sosialisasi ini hendaknya perlu dilakukan pemerintah dengan mengajak semua pihak, termasuk ulama, tokoh masyarakat dan wartawan agar mitos dan stigma negative tidak membunuh pikiran intelektual kita.

Sosialisasi perlu segera dilakukan demi mematahkan perspektif masyarakat yang salah. Karena mensosialisasikan konsep tersebut, bukan hanya memberikan harapan kepada ODHA, tetapi juga memberi pemahaman kepada orang yang berpotensi tertular virus. Pada akhirnya, memberi pemahaman tentang HIV/AIDS yang benar, merupakan bagian dari pencegahan itu sendiri dan bagian memaknai arti kemanusiaan yang universal.***




Artikel Terkait