Harapan

Oleh: Andi Firdaus

INI BUKAN amarah. Bukan juga kutampakkan kesetiaan sekejab. Perlahan ku mencoba menarik kertas bintik tanpa isu. Terlihat, terpampang dan ingin ku telan. Rasa muak dan suntuk kadang menghampiri. Mencoba menjauh mungkin bukan solusi. Ya, kini dalam realitas sempit, seperti kaku, bertutur, beraturan berusaha melepas. Tapi payah, sangat payah.

Ini saatnya kertas-kertas di depan ingin aku buang. Perlahan dengan sedikit pelan. Berharap cahaya kemajuan mengundang perubahan. Aku tak bermaksud menjaja ide, apalagi menjual sampah. Tak akan pernah ku lakukan, meski hanya sesaat dan sesingkat waktu berjalan.

Ada yang beda, unik, dan bahkan meluap. Rasa gembira yang ku tunggu untuk tak lagi mencari kertas bintik membosankan. Berharap kerja karya yang tiap hari kupandang tak menjadi sampah dan balutan emosi. Kusingkir saja agar tak masuk ke pori-pori otak. Singkirkan, sekali lagi dengan tegas aku ucapkan, singkirkan semua yang membuat benak dan ketidakpuasan lengket dalam kebosanan. Harus.

Dan pasti cahaya perubahan mulai terang. Berharap nuansa baru akan mengundang dalam usia yang begitu matang. Usia yang tak ada orang percaya. Hanya segelintir manusia saja yang berani mengatakan pasti dan maju. Manusia seperti mengunyah kepedihan segaligus derita agar jadi sampah. Ini saatnya nur perubahan terlihat dalam ampas yang kukunyah, kemudian aku ludah ke tanah agar pesimis tenggelam. Baru optimis datang menyapa.

Aku seorang penjaja ide dengan segudang kerinduan untuk disapa. Sangat rindu bahkan tak ada bahasa mengungkapkan rasa optimis. Meski banyak orang, mata, ide menelantarkan karya kami. Memang, sakit bila ditonjok terus terdiam. Ini biasa aku anggap sebagai lelucon dalam bisnis, serta biasa pula aku anggap sebagai langkah mula.

Ada ketapian apa yang aku ucapkan. Bukan hanya optimis, lantas lewat tanpa kepedulian, sama sekali tidak. Aku secara individu telah rindu tentang cahaya yang aku tunggu untuk secarik kertas bintik. Aku berharap ini masukan buat proses perubahan. Sehingga kerinduan menyapa dengan isu terpelajar, mendidik, memberi masukan dan tentu dalam bahasa santun. Itu yang sedang aku harap dalam secarik kertas kusam di atas meja. Hingga amarah redam jika kertas-kertas di atas meja dibuang. Karena aku sudah memiliki kekuatan, dan ia baru kembali dengan segudang asa.





Artikel Terkait