Oleh: Andi Firdaus
Lama tak menulis di péh tém. Kini saya mencoba menorehkan ide dalam tulisan yang terbatas. Meski tak bermakna, namun setidaknya ini sebuah realita dalam kegamangan tanpa arah.
Ini hanya soal pergaulan yang kerap kita jumpai. Terutama orang-orang tertentu yang sulit dihadapi. Mungkin ‘manusia’ jenis ini kita jumpai di kantor dan pergaulan dalam berbagai variasi, watak serta pola pikirnya.
Sebut saja tipe orang yang tak hentinya bicara. Bicara lugas terhadap sebuah realitas untuk perubahan. Ini soal ambisi yang harus disesuaikan dengan karater dalam pergulatan dan pergaulan keseharian. Satu sisi positif, namun tak sedikit menjadi negative.
Lebih parahnya lagi, ada kalanya ada teman sering mengkritik, meski bukan bidangnya. Apalagi bidang yang menjadi ahlinya. Ini juga perlu dilihat sebagai sensasi dalam ruang hampa tanpa demokrasi. Artinya, kebijakan pada kesadaran individu yang tak dilahirkan dalam lingkup kebersamaan.
Ada juga orang dengan ketidakkomitmennya. Tidak menghargai komitmen dalam pengertian merubah sebuah kondisi awal ke kondisi yang baru. Hingga sering dalam perjalanan menjadi ‘abu-abu’ di antara hitam dan putih. Di antara melakukan gebrakan dengan bertahan di tempat.
Bagaimana dengan orang yang membentuk ‘geng’ tanpa sepengetahun kita? Mungkin pada awalnya tidak menjadi masalah. Pada akhir gilirannya tetap akan menjadi persoalan tersediri yang berpengaruh pada lingkup kita. Sebab ‘geng’ adalah bagian terkecil dari kelemahan melakukan sebuah terobosan. Perlukah ditelusuri?
Menurut kolumnis soal Sumber Daya Manusia (SDM), Susan M Heathfield, bila kita mendiamkan sulit seperti itu, maka dengan sendirinya situasi akan berubah. Biasanya menjadi lebih buruk. Cuek atau hanya sekadar memperbaiki situasi di atas permukaan yang sebenarnya adalah konflik, sehingga kontraproduktif pun meledak.
Bisa saja ‘shock’ jika kemudian dianggap tak professional maka renungkan bahwa sebuah situasi sulit sedang terjadi. Jika kita menyadarinya, bukan merupakan pilihan terbaik berlama-lama pada kondisi itu. Kemudian melangkah ke situasi yang semakin tak rasional.
Alangkah baiknya, jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit tapi masih bersikap objektif dan dapat mengendalikan emosi. Lebih penting lagi adalah membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan bukan hanya kita dianggap ‘tidak becus layaknya sebagai pekerja profesional’ bahkan kita sendiri akan dicap sebagai orang sulit.
Saya tak ingin berada pada posisi sulit dan menyulitkan untuk sebuag variable pemicu konflik. Tahapan ada pada genggam kemesraan melakukan terobasan. Jangan kerap menunggu yang kemudian terus menjadi ‘abu-abu’. Sulit.
SULIT
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan Agustus 29, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email