Oleh: Andi Firdaus
Sebuah tontonan kematian sudah berakhir. Layar perang ditutup pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Jutaan mata menjadi saksi atas berakhirnya drama berdarah itu. Aceh ‘selesai’.
Episode konflik membuat penonton histeris. Menumpahkan air mata dan tak sedikit mencela. Ini drama kebiadaban yang digelar para tokoh. Sedangkan pemain larut dalam skenario sutradara untuk ambisi kepentingan. Lupakan drama masa lalu.
Kini suasananya sudah berbeda. Iklim demokrasi kian terasa. Ada pemain-pemain yang beralih peran untuk drama selanjutnya. Menjadi politikus yang sebelumnya hanya berperan sebagai tukang sapu. Menjadi kontraktor, padahal dulu hanya ‘mafia’.
Ini ‘mungkin’ hanya sekadar evaluasi atas kegagalan drama berdarah sebelumnya. Kemudian yang memiliki kepentingan mentransisikan permainan baru untuk kepentingan baru pula. Dan, penonton gamang, mana sebenarnya tokoh utama yang harus dipercayakan, sebab sutradara selalu bermain di belakang layar.
Ada yang berbeda, ketika peralihan situasi maka sebagian yang lain mengusik syahwat politiknya. Tak hanya tokoh politik, tetapi kalangan praktisi, elit partai dan pemimpin organisasi mulai tergoda dengan peran baru. Politik praktis. Terang-terangan mengejar ambisi, karena ini drama baru.
Sebenarnya penonton tahu, bahwa pemain drama sekarang adalah pemain yang sama. Hanya lipstik, simbol dan penampilannya yang berbeda. Bahkan tak ada yang berubah dari hiasan dan pernak-pernik menarik simpati. Jika dulu merah, sekarang masih merah, jika dulu kuning, kini masih sama.
Memang bicara politik bukan harga mati. Apalagi dikaitkan dengan untung rugi. Berbeda dengan bisnis. Misalnya, dulu orang memilih tokoh A karena berani, sekarang memilih tokoh B karena ngeri. Apalagi dipaksakan senang setelah sodoran intimidasi. Atau demokrasi hanya ada dalam pikiran, bukan di alam kenyataan.
Diakui atau tidak, bahwa pergeseran pergerakan untuk perubahan bukan berarti tak bermasalah. Bahkan sering kekerasan berbicara dalam bentuk fisik. Ketakutan penonton jangan terus diperlihatkan, karena semakin sering terjadi seiring itu pula kebosanan mewarnai.
Saya tak menganggap ‘pertunjukan’ di Aceh adalah tradisi. Apalagi memahami bahwa praktik ‘politik kekerasan’ merupakan warisan indatu. Saya hanya melihat, bahwa kerangka permainan ‘konflik’ berawal dari perbedaan perspektif berpikir. Tentu ada ketentuan konsep ideologi berbeda yang sedang bergentayangan di Aceh.
Gentayangan itu sensitif. Sedikit saja tersinggung, bukan tak mungkin fisik bertemu dalam suasana musuh. Perkawanan menjadi urutan kedua, karena kepentingan sudah lebih awal di nomor satu. Kepentingan merebut jatah otoritas politik di kursi-kursi masa bodoh. Perkawanan di masa lalu hanya sekadar romantisme kelam, hitam dan menyedihkan.
Kawan yang sekarang menjadi peserta kontestasi di berbagai ajang. Kawan yang sudah lelah dalam permusuhan dan kini mencari ruang-ruang kedinginan. Kawan yang lupa pada korban akibat disiksa di pengungsian. Kawan melupakan para pengorban nyawa. Dan bahkan kawan yang lupa pada kebiadaban membunuh bagi tanpa dosa.
Kini kawan itu tak terduga telah menjadi aktor berbeda. Dari sebelumnya hanya aktor pembantu, sekarang menjadi aktor kawakan. Bahkan ingin menjadi pemimpin drama, seperti mengatur skenario di gedung dewan. Ambisi menjadi sutradara merambah perpolitikan di Aceh. Meski tak mengerti isi-isi naskah yang disukai penonton, karena baginya dia tetap seorang ‘aktor’.
Ambisi tersebut mulai diperlihatkan secara terang-terangan. Karena dalam pikirannya hanya satu “penonton tidak tahu”. Padahal apa yang diperankan telah lucu. Sekali lagi, jika drama berdarah sebelumnya penonton menjadi saksi bisu, jangan harap akan selamanya begitu. Karena penonton akan mencela pelakon yang bermain tak sesuai skenario perubahan Aceh. Cita-cita indatu.
Kejarlah ambisi politik yang sudah kamu perjuangkan selama puluhan tahun. Bak wanita cantik yang sedang diperebutkan, sementara istri lama ditinggalkan tanpa bekas penghargaan kesetiaan. Ini drama Teungku, jangan terlalu terjebak mencari simpati, sebab wajah dan gerak semakin jauh dari kesan terkesima. Dan penonton bukan diam, tetapi sedang mencari strategi untuk mencela.
Ada empat juta penonton di Aceh. Bukan tak mengerti seni peran, namun sedang berpikir merancang taktik, sebab fase drama ini tak selamanya terjadi. Ada fase drama selanjutnya, dan bagaimana menyingkirkan pelakon yang lupa pada fase drama-drama sebelumnya. Karena seni pertunjukan perpolitikan Aceh membuat penonton pintar dalam penilaian tokoh terbaik.
Teruslah bermain dengan drama politik sebelum layar ditutup. Jika tidak, maka pada pertunjukan selanjutnya tak lebih sebagai pecundang. Apalagi ini bisnis di ladang ekonomi yang merangsang untuk maju dalam pertarungan selanjutnya. Ambisi hanya karena syahwat pada demokrasi menjelang Pemilu 2009. Terserah!
Mengejar Ambisi Politik
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan Agustus 13, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email