KAWAN

Oleh: Andi Firdaus

Belakangan kucoba renung kembali. Renungan yang tak begitu berarti, tapi minimal membawa alam bawah sadar saya pada dua hal. Pertama soal hubungan kerja, dan yang kedua adalah penamaan kebersamaan dalam ruang lingkup solidaritas.

Hubungan kerja awalnya hanya dibentuk pada penyamaan tujuan. Persepsi yang sama akan membawa keinginan dalam menindaklanjuti sesuatu yang belum terwujud. Dalam pemahaman ini, perlu juga diungkapkan seberapa besar kesamaan kerja bisa mempengaruhi semangat kerja. Berbalik-balik deh.


Sebelum menelusuri kenapa persamaan bisa terbentuk menjadi solidaritas, mungkin kita harus bertanya seberapa penting memahami istilah filosofi membentuk konsistensi budaya kerja? Ini perlu agar tidak melewati kontribusi dan keinginan porsi.

Mungkin jawabannya adalah seberapa konsistensi tersebut merasuk menjadi sebuah kerangka berpikir yang kokoh, sehingga filosofi mampu menjadi cermin. Memantulkan sinar semangat untuk bekerja secara bersama untuk merealitaskan ide-ide yang terkukung.

Apa hubungannya? Tetap saja ada jika dilihat dari konsistensi pemikiran yang disumbangkan dalam mengembangkan sebuah usaha. Kesalahan terbesar bangsa kita adalah meminta sesuatu melebihi porsi benefit yang diciptakan—mungkin ada keadilan yang tak tercipta.

Jika melihat kehancuran bangsa bahkan perusahaan sekali pun, itu disebabkan oleh orang yang cenderung meminta benefit melebihi kontribusi yang diberikan. Hingga menjadi ending saling menjatuhkan dalam kontek persaingan pemikiran yang tak sehat—seperti anak kecil yang dijatuhkan permen dan saling berebut.

Jarang memahi filosofi tepat untuk membangun. Substansi menjadi saling berbagi ketika kebersamaan membangun dikedepankan, ketimbang porsi awal tak menentu dibangun untuk sebuah kemajuan. Kesejahteraan yang diinginkan tak berujung pada solidaritas kebersamaan.

Kawan dalam ruang kebersamaan adalah kawan yang mencoba memahami filosofi tersebut. Jika dianggap kawan sebagai kepentingan, maka menyatukan dua kontek penciptaan porsi benefit dengan kontek kontribusi selalu bertabrakan. Hasilnya? Menciptakan kesenjangan perebutan yang tak perlu diperebutkan.

Saya pernah menyadari, menabrakkan diri pada keinginan benefit bagi kebanyakan orang dianggap munafik. Tapi bagi ketidakmunafikan adalah memalukan, karena saya adalah porsi tersendiri yang tak bersinggungan dengan nama latar belakang. Menghargai latar belakang atau kekinian?

Kawan, mungkin alam bawah sadar menjadi petaka untuk tidak selamanya ada. Karena ada banyak ungkapan sering diucapkan; Tak ada kawan sejati karena yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Itu pun tak membuat saya optimis dalam konsistensi kerja. Karena saya ingat pepatah dari antah barantah; Jangan pernah percaya perempuan yang mengucapkan cinta kepada kamu dalam keadaan telanjang. Masih optimis kawan?


Artikel Terkait