Oleh: Andi Firdaus
Meski emping melinjo terkenal di Kabupaten Pidie, namun pemerintah setempat lebih memprioritaskan tanaman Kakao. Padahal, komoditi tersebut merupakan andalan khas daerah yang kualitasnya menembus pasar Malaysia.
Dari hasil pemeriksaan Departemen Kesehatan, kualitas emping melinjo Kabupaten Pidie ternyata tidak banyak mengandung getah, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. “Emping melinjo kita di Pidie terbebas dari resiko penyakit asam urat,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pidie, Muhammad Amin Affan.
Menurutnya, budidaya tanaman melinjo sektornya pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura, bukan pada Dinas yang dipimpinnya. ”Tetapi hak ini tidak dijadikan program perioritas,” katanya. Padahal tambahnya, jika dikembangkan dengan baik maka dampaknya sangat berpengaruh bagi Penghasilan Asli Daerah (PAD).
Lebih jauh Muhammad Amin menjelaskan, selama ini tanaman melinjo kurang mendapat perhatian, meski salah satu komoditi Kabupaten Pidie yang sudah tembus pasar luar negeri. “Karena tidak ada perhatian khusus, maka makanan khas Pidie ini justru tenggelam,” sebutnya sembari mengatakan, para pengusaha daerah lain akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengekspor ke luar negeri.
Padahal tambahnya, pemerintah Pidie bisa melakukannya sendiri. Sementara pengusahan emping melinjo dalam bentuk industri home dapat dijumpai di sejumlah desa di kawasan Pidie. Seperti desa Teubeng Kecamatan Pidie, terdapat hamper 80 persen perempuan sebagai pekerja pembuat emping melinjo.
Dari penghasilan tersebut, para perempuan dapat meningkatkan pendapatan keluarga dengan upah Rp 3.500 per kilogram. Sementara setiap orang mampu menghasilan rata-rata 10 kilogram setiap harinya. Pekerjaan Peh Kuerupuk tersebut sudah menjadi pekerjaan turun menurun bagi warga desa setempat. Sedangkan bagi pengusaha, pendapatan mencapai Rp. 150 ribu setiap harinya. (andi firdaus)
Meski emping melinjo terkenal di Kabupaten Pidie, namun pemerintah setempat lebih memprioritaskan tanaman Kakao. Padahal, komoditi tersebut merupakan andalan khas daerah yang kualitasnya menembus pasar Malaysia.
Dari hasil pemeriksaan Departemen Kesehatan, kualitas emping melinjo Kabupaten Pidie ternyata tidak banyak mengandung getah, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. “Emping melinjo kita di Pidie terbebas dari resiko penyakit asam urat,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pidie, Muhammad Amin Affan.
Menurutnya, budidaya tanaman melinjo sektornya pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura, bukan pada Dinas yang dipimpinnya. ”Tetapi hak ini tidak dijadikan program perioritas,” katanya. Padahal tambahnya, jika dikembangkan dengan baik maka dampaknya sangat berpengaruh bagi Penghasilan Asli Daerah (PAD).
Lebih jauh Muhammad Amin menjelaskan, selama ini tanaman melinjo kurang mendapat perhatian, meski salah satu komoditi Kabupaten Pidie yang sudah tembus pasar luar negeri. “Karena tidak ada perhatian khusus, maka makanan khas Pidie ini justru tenggelam,” sebutnya sembari mengatakan, para pengusaha daerah lain akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengekspor ke luar negeri.
Padahal tambahnya, pemerintah Pidie bisa melakukannya sendiri. Sementara pengusahan emping melinjo dalam bentuk industri home dapat dijumpai di sejumlah desa di kawasan Pidie. Seperti desa Teubeng Kecamatan Pidie, terdapat hamper 80 persen perempuan sebagai pekerja pembuat emping melinjo.
Dari penghasilan tersebut, para perempuan dapat meningkatkan pendapatan keluarga dengan upah Rp 3.500 per kilogram. Sementara setiap orang mampu menghasilan rata-rata 10 kilogram setiap harinya. Pekerjaan Peh Kuerupuk tersebut sudah menjadi pekerjaan turun menurun bagi warga desa setempat. Sedangkan bagi pengusaha, pendapatan mencapai Rp. 150 ribu setiap harinya. (andi firdaus)