Mantan TNA Buka Lahan Perkebunan

Oleh: Andi Firdaus

Sementara Abu Yus, mantan intelijen GAM juga menuturkan, pembukaan lahan tersebut sudah direncanakan setahun yang lalu. Namun jarak tempuh yang sulit membuat pembukaan lahan belum berhasil dilaksanakan. “Baru sekarang berhasil dibuka, itu pun tidak semuanya,” katanya.


Pembukaan lahan baru yang pada awalnya direncanakan seluas 2000 hektar di kaki Bukit Barisan, Lembah Lhok Gadong, Kecamatan Geulumpang Tiga Pidie, Senin (17/03), turut disaksikan mantan panglima GAM wilayah Pidie, Abu Razak.

Sejumlah 400 mantan Teuntra Nangroe Aceh (TNA) kembali naik gunung, melalui koperasi Lhok Gadong mereka membuka lahan perkebunan sawit dan coklat seluas 260 hektar. Lahan tersebut wujud dari reintegrasi mantan kombatan dengan masyarakat.

Selain mantan TNA, lahan tersebut juga diperuntukkan bagi 300 anggota masyarakat. “Program ini didanai oleh BRR melalui koperasi terpadu,” kata pengurus koperasi Lhok Gadong, Teungku Zulfadli kepada Harian Aceh Independen, Senin (17/03)

Menurut Zulfadli, pembukaan lahan merupakan bagian dari reintegrasi mantan TNA dengan masyarakat yang sudah diamanahkan dalam kesepakatan Helsinki dan dituangkan dalam butir MoU. “Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dan anggota GAM,” ujarnya.

Dia juga menambahkan, nantinya perkebunan itu akan ditanam coklat dan sawit. Sulitnya menempuh lokasi juga merupakan kendala tersendiri saat membuka lahan, sehingga kata dia, banyak pekerjaan tidak maksimal.

“Jarak lahan sekitar 12 kilometer dari jalan Banda Aceh-Medan, untuk menempuh lokasi membutuhkan waktu kira-kira 3 jam,” ucap Zulfadli sembari mengatakan, jika musim hujan pihaknya sangat sulit menempuh areal perkebunan karena jalan berlumpur.

Selain Zulfadli, salah seorang mantan TNA, Teungku hasbi juga berharap agar pemerintah memberi perhatian kepada kawasan tersebut. “Kami minta pemerintah untuk memperbaiki jalan menuju kawasan itu, karena merupakan lumbung hasil perkebunan ,” kata hasbi.

Hasbi yang lebih akrab dipanggil Teungku Pulo juga menjelaskan, jika fasilitas menuju perkebunan baik, maka memudahkan hasil pertanian diangkut ke pasar Kecamatan. “Kalau sarana transportasi bagus, hasil mudah dipasarkan,” kata mantan anggota TNA yang pernah ditangkap dan diasingkan ke Kalimantan.

Sementara Abu Yus, mantan intelijen GAM juga menuturkan, pembukaan lahan tersebut sudah direncanakan setahun yang lalu. Namun jarak tempuh yang sulit membuat pembukaan lahan belum berhasil dilaksanakan. “Baru sekarang berhasil dibuka, itu pun tidak semuanya,” katanya.

“Masih ada sekitar 400 hektar lagi kebun yang belum dibersihkan,” terang Abu Yus sambil memperlihatkan bekas tembakan di perutnya. Kata dia, jika areal perkebunan ini berhasil, maka ke depan akan dibersihkan lagi lahan yang masih tersisa.

Menanggapi pembukaan lahan baru bagi mantan TNA dan masyarakat, manager program Center for Humanitarian and Social Empowerment (CHSE) Pidie berharap, agar program tersebut dapat menjadi proses awal terwujudnya hak ekonomi mantan kombatan.

“Ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi mantan TNA, sehingga apa yang telah diperjuangkan seperti dalam MoU Helsiki bisa terealisasi di lapangan,” ujar Faisal kepada harian Aceh Independen saat diminta tanggap berkenaan program pembukaan perkebunan tersebut.

Selain itu tambahnya, program pemberdayaan ekonomi tersebut juga merupakan bagian dari membangun perdamaian. “Disamping pemberdayaan ekonomi untuk reintegrasi juga bagian penting membangun perdamaian,” kata Faisal.




Artikel Terkait