Ketidaksepakatan

Oleh: Andi Firdaus

DALAM dilema ketidakpastian, kadang terbesit keinginan berubah. Saya hanya individu terbuang oleh rasa keingintahuan. Melihat, mendengar dan meraba-raba sesuatu untuk sebuah kepastian. Belajar dari awal hanya bagian dari berproses. Itu asa untuk tidak cet langet.


Berangkat dari realitas di atas, saya mencoba men-defrag ulang memori yang telah lama tersimpan. Me-refresh kembali sisa-sisa kemampuan sekedar memberi yang terbaik. Tak ada maksud mendahului kenyataan saat ini. Sama sekali tidak.

Ada karakter dalam benak individual tak bisa dirubah. Seperti saya sebagai individu yang sama sekali tak bisa memendam sesuatu bersifat mekanik. Gerakan seperti mesin, tapi di tempat. Bukan hanya saya mungkin, tapi semua relasi menginginkan bahwa kita terbaik demi kerja profesi.

Berangkat dari itu, sesuai pengalaman melirik lingkungan baru. Saya mencoba bertanya pada si A, jawabnya pelan-pelan dengan sedikit tak sepakat. Bertanya pada si B, jawabnya juga seharusnya begini, begitu dan lain-lain. Bertanya pada si C, jawabnya juga seharusnya di sini perubahannya, tapi saya tak punya otoritas, hanya tukang layout.

Satu, dua, tiga, empat, lima dan enam orang. Semuanya menginginkan adanya kerjasama, bukan sama-sama kerja. Meningkatkan solidarity bagi kebersamaan membangun sebuah perusahaan, penting. Di samping loyalitas, komitmen dan atasnama “kita bisa.”

Jika semua sudah menganggap bahwa, ketidaksepakatan apa yang dilihat adalah kritik membangun, maka sudah seharusnya sepakat dimunculkan perlahan dan pelan. Sebab, manusia yang ingin perubahan adalah manusia yang melihat sesuatu tanpa diam, namun bersuara.

Pada akhirnya, satu tak sepakat, dua tak sepakat, tiga tak sepakat, empat tak sepakat, lima tak sepakat dan enam orang tak sepakat, sebenarnya kekuatan untuk menjadi terdepan. Jangan sampai tidak sepakat secara individu, dikalahkan oleh ketidaksepakatan bersama yang tak terencana. Bagaimana?







Artikel Terkait