TEROR

Oleh: Andi Firdaus

MASYARAKAT kembali dalam logika rimba “yang kuat dia menang” dipahami sebagai kebenaran bertindak. Mengapa harus jadi rusa kalau bisa jadi singa. Dan kita masih bisa bangga dan berpendapat, bahwa itu hanya emosi sebagian orang. Bagaimana sebahagian yang lain?

Pertanyaan pertama jika mendengar teror adalah, mengapa ketidakpuasan masih diekspresikan melalui teror? Bisa saja pemahaman kebenaran masih dilihat sebagai kebenaran kuasa. Lewat senjata, alat komunikasi, surat kemudian dijadikan media alternatif mengekspresikan ketidakpuasan.

Ada aneka kepentingan sebagai alasan. Biasa saja ketidakpuasan politik, ekonomi, dan kepentingan kekuasaan bagian lahirnya teror. Hingga logika purba pun dilakoni sebagai pembenaran sesaat. Lebih dari dua ribu tahun, ribuan pemikir, filosof dan politikus mencoba memperbaikinya.

Hasilnya adalah, masyarakat yang kembali dalam logika rimba “yang kuat dia menang” dipahami sebagai kebenaran untuk bertindak. Mengapa harus jadi rusa kalau bisa menjadi singa. Dan kita masih bisa bangga dan berpendapat, bahwa itu hanya emosi sebagian orang. Bagaimana sebahagian yang lain?

Macam-macam reaksinya. Seperti matematika, minus dikali minus menjadi positif, dunia teror yang diteror bisa jadi membuat kita arif. Membuat kita kian






Artikel Terkait