Oleh: Andi Firdaus
Parahnya, kini sektor pangan kita telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai segelintir perusahaan raksasa. Dan ini sangat bertentangan dengan mandat konstitusi Republik Indonesia (RI), bahwa hajat hidup orang banyak dikuasasi negara demi kemakmuran rakyat.
Krisis pangan kembali menghiasi halaman media. Sejak depresi ekonomi tahun 1930, inilah krisis pangan terparah di dunia.
Di Indonesia, sebelum krisis saja, ada lima juta balita kurang gizi dan busung lapar. Jika tak diantisipasi, maka Indonesia-lah negara paling banyak jatuh korban akibat kematian secara tak langsung.
Di Haiti, lima orang tewas dalam aksi unjukrasa menentang kenaikan harga makanan dan bahan bakar. Selain Haiti, Mesir, Kamerun, Filipina, dan Indonesia merupakan persoalan tersendiri menghadapi ulah spekulan ekonomi dunia.
Krisis pangan sebenarnya sudah menjadi masalah klasik bangsa ini. Ironi bagi negara agraris yang tanahnya subur. Namun, ironi itu bisa terbantahkan ketika negara tergantung pada importir, dan harga pun tak terkendali.
Ujung-ujungnya pengusaha melakukan ekspor, karena harga lebih tinggi. Sementara harga pangan dalam negeri menurun drastis. Akar masalah ini tidak hanya parsial dari aspek impor, seperti diberitakan pers dan kampanye pemerintah.
Parahnya, kini sektor pangan kita telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai segelintir perusahaan raksasa. Dan ini sangat bertentangan dengan mandat konstitusi Republik Indonesia (RI), bahwa hajat hidup orang banyak dikuasasi negara demi kemakmuran rakyat.
Faktanya, Bulog hanya dijadikan privat. Sementara perusahaan seperti Cargill dan Charoen Phokpand lebih menguasai. Hingga mayoritas rakyat Indonesia bekerja sebagai kuli dan menjadi konsumen di sektor pangan.
Intinya adalah krisis pangan awal 2008 ini menunjukkan bahwa, tesis pasar bebas tidak berlaku untuk keselamatan umat manusia—terutama dalam hal pangan. Bahkan sejak aktifnya perdagangan bebas ini dipromosikan World Trade Organization (WTO), angka kelaparan di dunia semakin meningkat menjadi 853 juta jiwa.
Krisis Pangan
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan April 21, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email