Oleh: Andi Firdaus
Meski pemerintah sudah melakukan rehab rekon untuk sekolah rusak dan terbakar akibat konflik dan bencana tsunami. Namun hingga kini SMP Negeri 4 Jiem-Jiem, Kecamatan Bandar Baru, Pidie luput perhatian. Padahal pihak sekolah pernah mengajukan permohonan pada pemerintah melalui Dinas Pendidikan, baik di level Provinsi maupun Kabupaten.
Hal itu dikatakan Isfandiar SAg, kepada Independen, Rabu (03/04), menyikapi kondisi kantor guru di sekolah Jiem-Jiem, Bandar Baru yang sampai sekarang belum diperhatikan pemerintah. Sehingga sejumlah guru terpaksa berkantor di ruang laboratorium. “Lab itu sendiri kan punya fungsinya tersendiri,” ucapnya.
“Ruang itu besarnya sekitar 7x15 meter, namun sangat penting untuk kantor para guru dalam melaksanakan aktivitas belajar mengajar,” kata Isfandiar alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh pada tahun 2001. Kata dia, selama ini para guru mengeluh karena fasilitas yang diharapkan tak kunjung datang.
Sebelumnya, SMP tersebut salah satu sasaran pembakaran oleh Orang Tak Dikenal (OTK) ketika konflik melanda Aceh. Padahal pemerintah sudah melakukan rehap rekon untuk sekolah-sekolah yang rusak dan terbakar akibat Tsunami dan Konflik. “Sampai saat ini SMP kami luput perhatian,” ungkap Isfandiar, salah seorang guru yang baru diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) formasi 2006 lalu.
Selain itu dia juga berharap, pemerintah segera merehab kantor tersebut, agar proses belajar mengajar bisa lancar. Bahkan sejak tahun didirikan pada tahun 2002 jumlah murid pun masih sangat terbatas. “Mungkin ini karena kurangnya fasilitas yang ada, sehingga para orang tua lebih memilih anaknya sekolah di Kecamatan Bandar Baru,” ucapnya.
Untuk murid perempuan sekitar 80 orang katanya, sedangkan laki-laki sekitar 50 murid. Sementara fasilitas belajar siswa belum mendapat perhatian pemerintah, sepeti buku dan alat peraga belajar lainnya. “Kalau alat di laboratorium memang tidak ada sama sekali,” jelasnya. Bahkan satu bulan lagi akan dilaksanakan ujian nasional (UN).
Kendati begitu, pihaknya tetap melakukan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi murid untuk memenuhi target nilai UN yang akan dilaksanakan ke depan. “Meski tak ada fasilitas belajar yang memadai, guru tetap mengajar demi siswa,” cetusnya optimis.
Dia tidak menampik, bahwa sebelumnya pemerintah pernah memberi bantuan dalam bentuk buku bacaan dan 1 unit computer untuk menunjang kegiatan guru dan siswa. “Semua sudah hancur karena dilanda banjir, dan semua buku tak bisa digunakan lagi,” ujar mantan aktivis pejuang demokrasi itu.
Dia juga menggambarkan, lokasi sekolah tersebut jarak tempuh 10 kilometer dari kota Kecamatan Bandar Baru. Selain jauh katanya, kondisi jalan juga rusak parah, sehingga membutuhkan waktu sekitar 2 jam menggunakan kenderaan roda dua. “Ini disebabkan lalu lalang truk pengangkut pasir, makanya jalan jadi hancur,” tegasnya. (andi firdaus)
Meski pemerintah sudah melakukan rehab rekon untuk sekolah rusak dan terbakar akibat konflik dan bencana tsunami. Namun hingga kini SMP Negeri 4 Jiem-Jiem, Kecamatan Bandar Baru, Pidie luput perhatian. Padahal pihak sekolah pernah mengajukan permohonan pada pemerintah melalui Dinas Pendidikan, baik di level Provinsi maupun Kabupaten.
Hal itu dikatakan Isfandiar SAg, kepada Independen, Rabu (03/04), menyikapi kondisi kantor guru di sekolah Jiem-Jiem, Bandar Baru yang sampai sekarang belum diperhatikan pemerintah. Sehingga sejumlah guru terpaksa berkantor di ruang laboratorium. “Lab itu sendiri kan punya fungsinya tersendiri,” ucapnya.
“Ruang itu besarnya sekitar 7x15 meter, namun sangat penting untuk kantor para guru dalam melaksanakan aktivitas belajar mengajar,” kata Isfandiar alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh pada tahun 2001. Kata dia, selama ini para guru mengeluh karena fasilitas yang diharapkan tak kunjung datang.
Sebelumnya, SMP tersebut salah satu sasaran pembakaran oleh Orang Tak Dikenal (OTK) ketika konflik melanda Aceh. Padahal pemerintah sudah melakukan rehap rekon untuk sekolah-sekolah yang rusak dan terbakar akibat Tsunami dan Konflik. “Sampai saat ini SMP kami luput perhatian,” ungkap Isfandiar, salah seorang guru yang baru diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) formasi 2006 lalu.
Selain itu dia juga berharap, pemerintah segera merehab kantor tersebut, agar proses belajar mengajar bisa lancar. Bahkan sejak tahun didirikan pada tahun 2002 jumlah murid pun masih sangat terbatas. “Mungkin ini karena kurangnya fasilitas yang ada, sehingga para orang tua lebih memilih anaknya sekolah di Kecamatan Bandar Baru,” ucapnya.
Untuk murid perempuan sekitar 80 orang katanya, sedangkan laki-laki sekitar 50 murid. Sementara fasilitas belajar siswa belum mendapat perhatian pemerintah, sepeti buku dan alat peraga belajar lainnya. “Kalau alat di laboratorium memang tidak ada sama sekali,” jelasnya. Bahkan satu bulan lagi akan dilaksanakan ujian nasional (UN).
Kendati begitu, pihaknya tetap melakukan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi murid untuk memenuhi target nilai UN yang akan dilaksanakan ke depan. “Meski tak ada fasilitas belajar yang memadai, guru tetap mengajar demi siswa,” cetusnya optimis.
Dia tidak menampik, bahwa sebelumnya pemerintah pernah memberi bantuan dalam bentuk buku bacaan dan 1 unit computer untuk menunjang kegiatan guru dan siswa. “Semua sudah hancur karena dilanda banjir, dan semua buku tak bisa digunakan lagi,” ujar mantan aktivis pejuang demokrasi itu.
Dia juga menggambarkan, lokasi sekolah tersebut jarak tempuh 10 kilometer dari kota Kecamatan Bandar Baru. Selain jauh katanya, kondisi jalan juga rusak parah, sehingga membutuhkan waktu sekitar 2 jam menggunakan kenderaan roda dua. “Ini disebabkan lalu lalang truk pengangkut pasir, makanya jalan jadi hancur,” tegasnya. (andi firdaus)