HARKITNAS

Oleh: Andi Firdaus

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebentar lagi dirayakan. Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf rencananya bertindak selalu Inspektur Upacara di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Denyut antusiasme masyarakat biasa saja. Karena, rakyat lebih memilih diskusi soal kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), ketimbang memeriahkan upacara tersebut. Apa relevansi Harkitnas di tengah keterpurukan ekonomi melanda masyarakat?


Relevansinya tetap ada, jika dilihat dari semangat lahirnya pendirian perkumpulan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Pendirian itu sebagai embrio perlawanan intelektual terhadap penjajahan Belanda merebut kemerdekaan. Itu dulu, ketika situasi dan kondisi memaksa intelektual bangkit, dan hari ini sudah dijadikan sebagai hari yang terus diperingati.

Tetapi ini tahun 2008. Ketika rakyat sedang menghadapi situasi dilematis antara kenaikan BBM dan terjadinya inflasi hampir semua barang. Sementara gaji yang didapatkan serta hasil usaha masih dibawah berkecukupan. Kalau dulu para intelektual merebut kemerdekaan atas kondisi dan situasi penjajahan, maka kini rakyat masih berjuang merebut kesejahteraan. Termasuk unjukrasa yang kerap dilakukan mahasiswa sebagai inteletual muda.

Itu baru soal harga BBM melilit leher rakyat. Ada lagi perjuangan belum tuntas, ketika elemen sipil—kaum intelektual—berjuang memberantas korupsi. Ketegasan pemerintah harus dibuktikan menjelang Harkitnas. Sebab rakyat selalu berharap, perayaan tersebut bukan hanya sekadar seremonial, namun harus benar-benar diaplikasikan dalam perjuangan memerdekakan rakyat dari jeritan ulah koruptor, spekulan dan pejabat yang masih mengabaikan kepentingan publik.

Tepat hari Selasa, 20 Mei 2008 ini, peringatan Harkitnas seharusnya dimanfaatkan pemerintah Aceh sebagai momen mengajak rakyat berjuang atas penderitaannya. Ini sebagai langkah tepat, karena masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) pemerintah Irwandi-Nazar pascakonflik di Aceh. Jutaan masyarakat menanti perubahan, dan pemerintah secepatnya merelevansikan Harkitnas langkah awal membangkitkan semangat cita-cita indatu.






Artikel Terkait