Oleh: Andi Firdaus
Jika sudah sepakat menggabungkan diri dalam komunitas pekerja, maka hal utama yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana menjadikan produk sebagai esensi perubahan. Dalam rubrik ini, sedikit saya mencoba membedah produk publik yang saban hari terbit. Sebab banyak karya kita terpajang menjadi konsumsi ribuan pembaca di negeri Serambi Mekah.
Kami mengakui, bahwa kerap kebijakan pemerintah berawal dari pemberitaan media massa. Bayangkan jika berita selalu disuguhkan soal perampokan, kekerasan, penculikan, dan berbagai bentuk intimidasi politik lainnya. Apa yang terjadi kemudian? Aceh terus menerpa image ketidakstabilan keamanan, kekacauan dan juga stabilitas politik yang belum kondusif.
Berangkat dari pemberitaan salah, maka sudah pasti analisis realitas pun kerap selalu salah. Padahal belum tentu apa yang diberitakan sesuai dengan kebijakan yang diambil penguasa di negeri ini. Referensi dari media inilah yang kami takutkan, karena bukan hanya media menjadi korban atas kebijakan, tapi masyarakat sebagai ending dari setiap rumusan itu.
Pemberitaan yang selalu memojokkan, kadang belum tentu membawa positif bagi perubahan. Media sebagai pembawa perubahan pun seharusnya menyadari, ini bagian penting melayani informasi dengan fakta. Mencoba mengungkapnya, kami butuh ketelitian agar informasi yang kami berikan tidak hanya sekadar laga-rugi.
Dan produk publik dalam bentuk media ini menjadikan pembaca tidak hanya sekadar tahu, tapi bagaimana memaksa menjadi referensi penting dalam setiap rumusan kebijakan. Karena menciptakan isu hanya demi kepentingan bisnis tanpa melihat resiko secara keseluruhan, akan berimbas pada kepentingan publik yang lebih besar.
Sehingga apa yang kami suguhkan dengan teste baru yang belum menyentuh selera pembaca, adalah hal yang selalu kami pikirkan dalam menghasilkan produk. Karena dalam ‘memaksa’ pembaca, kami harus selalu berwajah segar, termasuk penampilan, gaya penyajian dan bahkan asesoris berita. Ada satu hal lagi, kami yakin bahasa sebagai kekuatan menciptakan perubahan.
Produk Publik
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan Mei 21, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email