Oleh: Andi Firdaus
Media kita baru terbit dan mungkin saja kurang mendapatkan kepercayaan. Maklum saja, dengan beberapa tenaga kerja sebagai editor, kadang kami harus buru-buru menyelesaikan naskah berita untuk dimuat keesokan harinya. Biasa menjelang deadline.
Kami yakin, tak mungkin pembaca memaksa kami tersenyum. Seperti memaksa bayi berumur satu bulan tertawa. Sama sekali tak mungkin. Sebagai proses, kami mencoba pelan-pelan, bukan hanya tersenyum tapi juga tertawa.
Waktu yang singkat ini, seharusnya berpikirlah berdasarkan rasionalitas. Jangan berpikir idealitas. Berpikir tanpa berangkat dari sebuah keadaan, maka yang terjadi adalah kehancuran. Percayalah, kami akan berusaha maksimal dan terbaik demi perusahaan dan juga pembaca.
Kami juga sadar, tak ada yang menginginkan perusahaan media seperti sekarang ini. Jika percaya pada proses, maka Anda sebagai pembaca akan tersenyum. Namun jika sebaliknya, maka makian dan hujatan kerap kami terima.
Saya sedikit melihat di luar kontek Aceh. Misalnya, di Indonesia saja hanya ada sekitar 7 ribu wartawan, sementara yang tertampung hanya di 292 perusahaan pers, termasuk tabloid, majalah dan media pers cetak lainnya. Berarti rata-rata satu perusahan pers hanya memiliki 30 orang wartawan. Bandingkan di Jerman yang kini memiliki 60 ribu wartawan penuh waktu dan setengah waktu.
Lepaskan pikiran ke Jerman atau Indonesia. Misalnya tempat media kami bekerja, Aceh. Di samping media kami baru, kekurangan redaktur dan wartawan juga menjadi kerumitan tersendiri. Misalnya soal perwajahan dan pemberitaan yang belum memenuhi standar. Sekali lagi kami akui.
Jika saya berpikir ideal, maka yang pertama akan saya pikirkan adalah, ada dua redaktur jurnalistik dan redaktur bahasa. Satu mengutak-atik struktur berita dan satunya lagi mengamati akurasi isinya sampai ejaan dan tanda baca.
Apa yang saya pikirkan adalah ideal. Tapi kami saat ini berada pada realitas yang jauh dari ideal. Contoh, jangankan mencari redaktur, merekrut wartawan saja kesulitan. Kami terus mencoba tersenyum dalam usia satu setengah bulan, meski pahit. Tapi harus terbit, inilah komitmen.
Harus Terbit
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan Mei 06, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email