Lobang Kemiskinan

Oleh: Andi Firdaus

Berdebar dan gelisah. Itulah detik-detik menunggu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Istana Presiden semalam. Betapa tidak, wacana kenaikan BBM sudah lama dihembuskan. Menunggu pengumuman resmi pemerintah sudah diperlihatkan dengan demontrasi, paparan ilmiah, antrian di SPBU dan melambungnya harga barang. Itulah dampak dari rencana pemerintah sebelumnya.

Akhirnya, detik berdebar itu pun terjawab. Setelah presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan kenaikan harga BBM bersubsidi rata-rata 28,7 persen. Keputusan ini diambil saat rapat finalisasi penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat 23 Mei 2008. Keputusan tersebut berlaku mulai Sabtu, 24 Mei pukul 00.00.

Demikian diumumkan pemerintah yang dibacakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, harga BBM bersubsidi rata-rata naik 28,7 persen. Berdasarkan skenario yang dikaji Depkeu, harga BBM jenis premium akan naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, solar naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter, dan minyak tanah naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.300 per liter.

Inilah hasil akhir gerakan SBY-JK serta seluruh kabinetnya yang dinanti dengan penuh rasa pilu dan duka. Rasa pilu dan duka itu pun rasanya tidak bisa dihibur sekadar menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), karena kebijakan tersebut hanyalah lipstik. Kenaikan dengan alasan apapun, jelas membuat rakyat sulit dan penghidupannya semakin sempit.

Isu BLT malah cenderung menciptakan konflik antar masyarakat. Kepala desa menjadi sasaran amuk warga yang tidak tercatat sebagai penerima. Kemarahan masyarakat dialihkan menjadi konflik horizontal, dan bukannya ditujukan vertikal pada negara yang telah gagal mengemban kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat.

Pada akhirnya, jeritan rakyat belum mempu membendung rencana pemerintah tersebut. Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun tidak bisa dijadikan tumpuan harapan. Jeritan rakyat tak mampu menggugah para elit. Ini negara setelah lebih 50 tahun merdeka, namun belum mampu memerdekaan lilitan kesengsaraan rakyat yang terus terjerumus ke dalam lobang kemiskinan.



Artikel Terkait