Oleh: Andi Firdaus
Hidup kadang seperti seni, lakon dan mainan. Kadang asik, kadang menjengkelkan. Bahkan, Aristoteles mengungkapnya sebagai seni dalam hidup. Seni yang diperankan seperti drama di atas pentas. Berbentuk lakon-lakon, teater, serius bahkan berbagai bentuk acting lainnya.
Ada yang keliatan bodoh, tapi pintar memainkan kebodohannya. Ada berlagak pintar, tapi tak mampu melihat kepandaian si bodoh. Ini hanya lakon dalam sebuah pertunjukan. Sementara, penonton bersorak riuh dari sudut pandang individu dalam kerumunan.
Tertawa kadang bukan ditujukan ke pemeran si bodoh, justru sebaliknya. Begitulah kemeriahan sebuah pentas dari group seni yang baru pertama muncul di depan publik. Ada segelintir yang memuji, dan tak sedikit mencaci. Ini memang resiko jika bermain di depan ratusan pandangan mata.
Ada dua pihak, penonton dan pemain. Kita kerap melupakan berada di antara keduanya. Berbeda dengan Aristoteles, maka Goffman justru mendalaminya dari sudut sosiolagi. Bahkan ia kerap mentransformasikan aneka perilaku interaksi dalam kehidupannya. Perilaku itu diaduk ke dalam sebuah terminology sosial untuk dijadikan kepuasan ‘sepakat'.
Tak jarang perilaku itu tanpa disadari menonjolkan diri, bahkan menarik diri untuk menjadi aktor dadakan. Sementara penonton tertawa geli hingga menjadi tak berarti. Melakonkan diri terus bermain, tanpa melihat bahasa komunikasi verbal yang kerap berujung permainan di luar naskah.
Memahami karakter publik, rekan dan lainnya adalah bahasa verbal yang sungguh harus digunakan. Jangan disalahartikan, karena rekan dan publik akan meninggalkan pertunjukan yang egois. Pada ujungnya adalah menyembunyikan pertunjukan yang gagal secara diam-diam.
Bila kerja adalah pentas drama, maka kendalinya pada sutradara. Bagaimana kalau pentas adalah karakter? Jelas dan pasti, sutradara hanya bisa berkutat pada naskah, bukan menaskahkan karakter. Ini perlu dimengerti jika ingin pertunjukan tak hanya selesai, tapi memuaskan.
Sehingga tepuk sorak bukan sekadar manipulasi, tapi kepuasan. Jika tidak, maka keringat yang sedang dipersiapkan untuk sebuah tujuan adalah utopia. Persiapan drama pun akan mengambang tanpa interaksi komunikasi yang dipersiapkan. Ada dua kemungkinan, kalau bukan penonton yang kecewa, tentu pemain yang jera.
Dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran, sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita inginkan. Mungkin, seorang pelakon yang tak bijak, lebih baik penonton kecewa, ketimbang dirinya jera. Toh, karena hanya pelakon, bukan panitia.
PELAKON
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan Juli 14, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email