GELAP

Oleh: Andi Firdaus

Secercah pelangi harapan mendulang dalam redup malam. Aku sendiri berharap cahaya dari pelangi remang. Bukan sekadar berharap kemudian terus pergi. Mungkin ada banyak rekan takut kegelapan, hingga perlu sedikit cahaya penerangan. Jika satu sisi kegelapan adalah ketakutan, maka sisi yang lain berarti ilusi.

Ada banyak orang, inspirasi lahir ketika gelap. Tapi tak sedikit bahwa gelap adalah petaka. Memahami ide sambil menerang, kemudian yang terlihat adalah gulita. Mungkin ada di antara kita, mencoba melihat pelangi dalam gelap. Memejamkan mata, kemudian melihat warna-warni.
Melihat pelangi dalam gelap jangan berharap jadi kenyataan. Sama seperti berpikir atas ilusi dan utopia perubahan. Tak akan pernah menjadi sebuah realitas memaknai kekinian perubahan. Boleh berangan-angan, maka akan terbayang keindahan, masa depan dan sebagainya. Tapi tanpa alat ukur, maka ide perubahan adalah cet langet.

Masalah pada kenyataan inilah yang membebani pikiran banyak orang. Gamang boleh jadi. Namun yang lebih menyiksa adalah membebani perasaan orang yang mengalaminya. Kemudian kerap respons emosional sering kali berkutat dan menjadi rumit. Sebab tak ada platform dan format sebagai kerangka acuan untuk bergerak.

Jika si buta berjalan dalam kegelapan, maka tongkat menjadi ukuran sejauh mana dia harus berjalan. Bagaimana dengan kita? Onani pemikiran menjadi kelucuan, dan penonton akan tertawa terbahak. Sebab, bermain drama dalam gelap tanpa konsep menjadi olokan dan bahan tertawa. Ini drama publik.

Inilah gelap model kita ‘mungkin’. Gelap yang bagi banyak orang menganggap tak kunjung selesai. Bahkan tak sedikit yang meyakini, semakin hari kegelapan semakin kusut. Jika masih bertahan boleh jadi, namun apa jadinya jika tahap akhir berada di jalan pintas?

Memang ini menjadi pekerjaan tersendiri, termasuk melihat pelangi dalam gelap. Bahkan menerawang dengan tongkat penyangka. Hasilnya, ketika mata terbuka tak juga menjadi nyata, Pelangi dalam gelap hanya ada dalam ilusi belaka.



Artikel Terkait