Oleh: Andi Firdaus
Sekejab! Bukan vonis atas sebuah dilema realitas dalam kehidupan. Ada banyak hal menjadi barometer dari sebuah situasi. Misalnya, mengapa manusia alergi dengan perubahan? Mungkin jawabnya sederhana. Dalam kontek kekinian, manusia rasional ingin mempertahankan hidup.
Jawaban tak dibesar-besarkan. Bahkan alam sendiri mengajari makhluk hidup untuk dapat menghemat energi. Ular jarang bergerak bukan karena malas, tapi karena menghemat energi. Kura-kura malas mengeluarkan kepala karena ada saatnya energi digunakan pada waktu yang tepat.
Perubahan lingkungan, rumah dan pekerjaan, tentu menguras lebih banyak energi, bahkan perubahan diluar batas kemampuan dan batas toleransi dapat mengorbankan hal yang prinsip dan melanggar norma-norma yang berlaku. Pada dasarnya manusia juga sama dengan makhluk lainnya, tidak suka perubahan.
Secara alami manusia membuat ‘pola’ dalam tindakan, respon dan berpikir. Kebanyakan pola atau persepsi ini memang banyak menghemat energi. Sebagaimana kita tidak perlu mempertimbangkan, jika di pipi kita menempel seekor nyamuk, secara refleks kita ayunkan tangan untuk menampar pipi kita. Perubahan terhadap persepsi dan pola tindak, jelas kurang disukai karena kita harus memprogram ulang respon kita.
Sekarang jelas bahwa secara anatominya, resistensi terhadap perubahan adalah rasional dan seringkali juga tindakan pengamanan untuk ‘survive’, meskipun seringkali resistensi juga menghambat kemajuan budaya manusia. Perlu sebuah jawaban dari pertanyaan bagaimana seharusnya ‘melawan’ resistensi?
Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar ‘tidak ikut’, apatis, sampai pada aksi ‘perlawanan’, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan individu/komunitas yang resisten. Sikap resisten akan terlihat jelas apabila program transformasi diwujudkan, ada yang bersikap mencoba mencari titik lemah dari transformasi tersebut ataupun berusaha menjauhinya.
Jika begini maka manusia adalah bagian dari keingin individu yang selalu mencoba untuk tidak ingin berubah. Lantasan secara global menjadi sering ditanykan kepada banyak orang. Apakah perubahan itu datangnya dari luar? Atau dari dalam. Memungkinkan untuk dijawab secara rasional, bukan karena refleksi dari sebuah keadaan atau lingkungan.
RESISTENSI
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan September 12, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email