Oleh: Andi Firdaus
Bermain-main dengan topeng. Wah, permainan ini menyadarkan kembali masa kecilku setelah lama terlupakan begitu saja. Kesadaran menghayati kekanak-kanakan bangkit saat membaca tulisan seorang teman di ruangan péh tém. Memang unik!
Saya mencoba merenung kembali permainan itu. Permainan penuh canda dan tawa hingga lupa pada waktu. Peran-peran yang kucoba renungkan kembali meski aku sendiri tak ingat. Peran yang kulakonkan menjadi sirna dalam memori kepala.
Topeng masa kecil tak banyak polemik dan intrik. Benar-benar hanya sekadar topeng menyembunyikan keaslian, bukan menyembunyikan kepalsuan. Topeng kemunafikan dalam lingkup-lingkup kecil sekalipun.
Saya tak ingin komentar soal topeng itu lagi. Karena ada yang lebih unik jika dibandingkan dengan rekaman-rekaman kisah ketika saya berhadapan dengan komunitas di luar Sumatera. Ada permainan yang kerap dijadikan bisnis untuk kepentingan pribadi tanpa pertimbangan rasa.
Permainan “Topeng Monyet”. Pemainnya bukan manusia, tapi hanya seekor monyet yang dipaksa berlakon bertingkah manusia. Ada wajah monyet yang gelisah bercampur derita karena dipaksa menghasilkan karya agar penonton jadi ceria. Soalnya ya, jika penonton tidak ceria, gak bakal dikasih uang. Bisa-bisa permainan atraksi bisa gulung tikar.
Atraksi macam-macam! Jadi tertawa sendiri, sebab ada yang gaya seperti ‘Bos’ dan satunya lagi ‘bawahan’ sambil disuruh-suruh. Tingkah dibuat-buat saja biar penonton jadi lucu. Padahal saya tertawa bukan karena lucu, tapi kasihan (gak selamanya donk tertawa karena lucu).
Kasihan juga donk lihat monyetnya, kelelahan mencari uang. Banyak luka di sana sini yang tidak diobati. “Dasar tidak berperi kemonyetan, mau uangnya doang,” batinku. “Monyet itu tidurnya di mana ya?” Kasihan kalau tidur di sembarang tempat, bisa demam atau masuk angin.
Sambil senyum-senyum terlintas juga dipikiran jelek ini. Eh, monyet itu cewek atau cowok? Kalau cowok gimana dong gak pernah bertemu pacarnya. Begitu juga sebaliknya. “Kebutuhan biologis ditahan!”
Kok jadi cerita topeng monyet sich? Oke-oke begini aja deh! Pilih pawangnya atau monyetnya. Pilih nurani atau rezeki.
TOPENG
✔
Andi Firdhaus
Diterbitkan September 09, 2008
Share to your friends
Artikel Terkait
Newsletter
Berlangganan artikel terbaru dari blog ini langsung via email