STAGNASI

Oleh: Andi Firdaus

Ada ungkapan nyentrik tidak bertele. Ada kalanya langkah terhenti oleh tindakan tersendiri dalam realitas. Di alam nyata, pengujian potensi diri sering terbentur oleh sebuah situasi. Potensi yang menuju kepada menguji kemampuan. Termasuk tindakan politik, gerakan sosial maupun komunikasi antar komunitas.

Proses itu tidak semudah menumpahkan segelas air atau mencabut sehelai rambut di kepala. Tetapi butuh perjuangan keras, pengorbanan, cinta, ketulusan bahkan butuh keyakinan penting. Jangan menganggap kerap seperti alur sungai tanpa bebatuan besar. Mengalir.


Kadang juga dalam pergulatan situasi seperti itu sering terbentur. Bahkan harus dan terpaksa berhenti di pertengahan akibat sebuah situasi yang terpaksa. Ini yang dinamakan stagnasi. Berhenti pada sebuah keadaan yang sulit menuju proses yang rumit.

Dalam kamus bahasa, stagnasi bisa diartikan sebagai keadaan yang berhenti, tidak bergerak, atau diam. Jika dibenturkan dalam realitas konteks Aceh, maka situasi politik yang stagnasi bisa jadi sebuah kendala pada cita-cita perubahan pascadamai. Atau bisa menjadi dilema pada situasi yang top.

Mungkin saja, stagnasi boleh disebut sebagai kemacetan jiwa. Saat sepeti ini ada rentan yang sangat dekat pada kemunduran. Rapuh dan mudah patah. Jika guncangan terjadi pada penghuninya, maka tak lama ia berhenti pada tujuan ekstremnya. Jika mengumpamakan cita-cita perubahan Aceh, maka akan terbentur yang kemudian menjadi mundur.

Dampak yang paling kontras adalah membiarkan kondisi tersebut. Jika kita ibaratkan Aceh, masih terlalu kekanak-kanakan karena masa transisi baru tiga tahun pasca-Helsinki. Dalam saat-saat sepeti ini, kebodohan, apatis, individualis semarak di mana-mana. Euforia muncul ke permukaan meski tak punya nilai.

Jika masa stagnasi ini berlaku, ada perlawanan yang seharusnya kita menjadi agent of change terhadap diri kita sendiri. Ini mungkin pergumulan wisata jiwa yang sedang bergentayangan mencari jati diri. Dan pada akhirnya harus sadar, bahwa keadaan yang statis, merupakan mundur ke belakang.

Aceh dalam realita yang bukan cet langet dengan segudang amunisi ide-de, notabene bergerak maju ke depan. Romantisme masa lalu mungkin sekadar cermin yang tak perlu diretakkan, apalagi dipecahkan. Cermin masa lalu sebagai background untuk menjadi senjata membunuh stagnasi. Maju!



Artikel Terkait