OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (3)

Oleh Andi Firdaus

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin


Dua malam yang lalu, ocehan demi ocehan telah Aku tulis. Tak berharap apapun dari tulisan sebelumnya. Ini malam ketiga setelah dua tulisan sebelumnya Aku rangkai perlahan dengan maksud tak menyinggung perasaan. Ya!

Malam ini—saat tulisan kecil sedang tertoreh—adalah malam menyambut hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Pertanda malam ini merupakan kemenangan bagi orang-orang yang sudah menjalankan ibadah puasa. Bagaimana yang tidak? Aku tak membahasnya di tulisan ini. Maaf!

Dari lantai dua sebuah ruko, dalam kamar ukuran 3x4 sederhana, Aku berada di depan netbook mungil yang Aku beli bukan hasil korupsi. Ini jelas-jelas netbook bermerk Acer hasil keringat yang Aku kumpulkan sejak enam bulan silam. Untung Aku membelinya sudah dilengkapi fasilitas 3G.

Sambil layarnya Aku pandang, gaduh suara motor, mobil, kumandang takbir dan suara marcon—mengingat kembali letusan senjata saat Aku berada dalam kontak senjata di Bireun antara tentara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—masuk ke telinga. Tapi kenangan suara letusan senjata kubiarkan berlalu.

Pikiranku ingin mengoceh dalam malam-malam menjelang Idul Fitri. Aku tak bermaksud mencela dengan ocehan gelisah dan sakit hati. Hanya sekadar ingin mengoceh agar suara batin tertera di atas kertas microsoft office word di layar netbook. Itu saja, tidak lebih.

Masih di depan layar, tanpa menggunakan baju, kubiarkan saja kulit badan terlihat terang. Rasa ingin keluar menyemarakkan suasana jelang lebaran Aku urungkan. Tak berselera jalan-jalan, apalagi meng-eforia-kan keadaan lantaran pikiran dan kondisi badan lelah setelah seharian tidur pulas.

Hanphone Nexian seharga 1,2 juta produk lokal—bukan karena cinta produk Indonesia, tapi memang harganya murah akibat kondisi keuangan menurun—tidak berhenti berbunyi. Sort Service Message (SMS) hampir saja memakan memori yang hanya berukuran 500 MB lantaran ucapan selamat dan minta maaf. Aku senyum.

Mata kupandang layar netbook, jari terus bermain di atas huruf-huruf A, B dan C. Di lain kesempatan, Aku lihat juga layar Handphone yang berukuran 3 atau 4 cemtimeter saja. Pertanda ada pesan masuk yang aneka ragam. Ada pantun, ada juga mewakili organisasi dan bahkan mewakili dirinya sendiri. Intinya mohon maaf!

Di luar suasana semakin kacau akibat kenderaan roda dua dan empat tak beraturan. Polisi lalu lintas tak bisa bicara banyak. Simpang empat Keunire, Kota Sigli padat. Tak sepadat pengetahuan mereka mengetahui aturan lalu lintas. Ku vonis saja karena lampu merah, hijau dan kuning tak menjadi acuan berkenderaan. Oh malam yang hilang aturan!

Dari lantai dua, mata terus memandang suasana jalan. Ada rombongan yang sesak oleh orang-orang berpeci religius. Di atasnya suara Allahu Akbar berkumandang. Di samping jalan ada sepeda motor melaju pelan yang dikendarai oleh dua insan. Bercengkrama seakan kemenagan mereka rebut setelah puasa penuh sebulan. Ramai sekali!

Meski ramai, Aku tak terpengaruh untuk ikut jalan-jalan menghabiskan malam. Toko-toko diserbu pembeli baju baru. Benar-benar suasana yang belum tentu menang. Tapi otak dan benakku sedikit bermain. Memang Aku akui, bahwa Aku bukan orang suci dan sok baik yang berpikir tentang janda dan anak yatim yang lolos dari keceriaan malam lebaran ini.

Bahkan SMS rekan sejawat dari berbagai pelosok tak Aku reply akibat pulsa Simpati tak sempat terisi. Kawan yang dijanjikan bertemu pun tak kunjung datang dengan alasan diserang hujan lebat di sekitar Caleu, Kecamatan Indrajaya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.21 We-Ie-Be.

Lalu lalang pemuda dan pemudi seakan menyiratkan pesan; malam ini milik kita berdua, tak ada Wilayatul Hisbah (WH) mencegah. Malam yang benar-benar bebas melakukan kehendak. Bersenang-senanglah di saat mereka tak punya daya bertindak. Tak punya kuasa melarang. Teruskanlah! Ini malam lebaran.

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin (bersambung)


Artikel Terkait