OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (2)

Oleh Andi Firdaus

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan bisikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu dan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

***

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya, bukan karena menjelang lebaran tiba maupun suasana hati gembira. Malam ini adalah tanggal 19 September 2009, persis menjelang hiruk-pikuk pasar hewan menunggu suasana meugang ke-esokan harinya. Tapi bukan karena itu!

Pukul 20 kosong-kosong We-Ie-Be adalah yang pertama Aku mudik dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Sigli, Pidie. Menggunakan sepeda motor honda produk tahun 2006, perjalanan diguyur hujan sepanjang jalan menjadi hal yang belum pernah Aku lakukan dalam kurun empat tahun terakhir. Kondisi cuaca tak bersahabat Aku anggap sebagai pengalaman menjelang lebaran tiba.

Dua alenia di atas hanya sekadar gambaran bayangan. Tetapi ada sekilas bayangan pengalaman yang hendak Aku tulis sebagai renungan kekhawatiran. Dalam tikungan-tikungan hutan di kilometer 50 hingga sekian, dalam redup malam Aku dihadapkan pada jalan-jalan berlubang tanpa perhatian. Di saat perlawanan gencar disuarakan, tak ada perhatian pembangunan dilakukan untuk alam-alam dan jalan-jalan.

Pengalaman pertama kata sebuah iklan memang menggoda. Tapi akankah pengalaman berkelok dalam gelap hutan negeri Antara dengan lobang-lobang di tengah jalan akan terus menjadi pengalaman? Atau dibiarkan saja menjadi perangsang warga di sana agar bernafsu menggugat, hingga syahwat mereka kuat untuk bersuara lantang.

Di pinggir-pinggir jalan ada bunga bermekar warna warni. Aku tak sempat mencium baunya, karena sibuk dengan lelucon dan obrolan kecil di atas sepeda motor tua (semoga tidak bagi mereka yang duduk di kursi terhormat). Sesekali terlihat terang wajah-wajah oleh sinar lampu pijar ukuran standar. Di bawahnya ada lelaki berselimut tebal, dan di sampingnya ada wajah berambut panjang. Dari harapan, tak ada yang diharapkan. Mungkin!

Wajahku tertutup kain songket pemberian sejawat setahun yang lalu. Duduk bersahaja di atas sepeda motor dengan dua bola mata terus memandang pinggiran sepanjang jalan negeri itu. Dalam diam, kebisuan, keluguan dan dinginnya hawa malam, Aku bertanya dengan mata hati. Mungkinkah, hati mereka akan terus begitu? Atau mereka keras ingin melawan untuk tetap tidak bersama kita. Aceh!

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan besikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu. Atau suaramu suatu saat digantikan dengan pembangunan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

Dalam sedang kupikirkan, sebuah mobil Inova--nomor polisi kelihatan remang-- melaju kencang melewati sepeda motor butut kami. Aku perkirakan kecepatan sekitar 60 Km/ jam. Namun kecepatan itu dapat memercikkan air di jalan hingga celana bawahku sedikit basah. Dalam gelap malam itu, pikiranku kembali tertuju ke penghuni di dalam mbil tanpa nurani.

"Begini jika menjadi orang miskin, basah di guyur hujan ditambah basah oleh keangkuhan pemilik modal," pikirku sekejab dalam hati. Atau keangkuhan di negeri ini bukan hanya dalam kontek kelas sosial yang memang sudah jauh tertinggal, namun keangkuhan pemilik modal yang mencoba memperkosa kekayaan hutan-hutan, hingga longsor menjadi kekhawatiran di saat kami dalam perjalan.

Mungkin mereka ikut mudik, buru-buru agar secepatnya bertemu keluarga sebab hari raya lusa. Mereka mungkin ingin minta maaf pada orang tua, sanak famili, keluarga bahkan tetangga. Aku juga berpikir sebentar saja, tak adakah yang minta maaf pada alam yang telah mereka perkosa? Minta maaf pada wajah-wajah tanpa dosa yang terus bergelut dengan pemiskinan hampir di setiap pelosok desa. tak ada! (Bersambung)



Artikel Terkait