OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (1)

Oleh: Andi Firdaus

Malam ini kesekian kalinya Aku kembali menulis setelah hampir enam bulan absen. Aku juga bukan penulis murung yang selalu bergelut dengan kritikan kebijakan. Apalagi membenarkan yang salah dalam kasus tertentu. Sekadar meruahkan kegelisahan pada diri sendiri, maka tulisan ini tidak terpaksa Aku tulis. Dengan iklas dan sedikit senyum Aku mencoba merangkai lagi kalimat dengan harapan tidak panjang-panjang.

Menurunkan ide melalui jemari di atas keybord komputer memang sulit. Mengingatkan kembali pada pelatihan jurnalistik dasar ketika masih kuliah. Penulis pemula memang susah mengawali tulisan, tapi sulit pula mencari ending. Terkadang tidak sedikit tersesat hingga tulisan menjadi gado-gado. Aku juga tidak mengerti bagimana seseorang menilai tulisan itu bagus atau tidak. Apakah karena ide, cara tulisnya, penggunaan kata, mengatur kalimat atau bertabur bahasa istilah.

Tapi Aku tak ingin berlama-lama berpikir tentang itu. Jam sudah menunjukkan pukul kosong tiga we-ie-be. Segelas kopi hitam buatan sendiri tinggal sekitar satu sentimeter. Sekali teguk kopi, sekali pula bayangan pikiran mengarak ke petani kopi yang tergilas oleh arogansi pengusaha bermodal besar. Sekali pula kadang terbayang pemberontakan. Tapi ini ide gila menyuruh orang berontak dalam jaman kekinian yang notabenenya damai.

Bicara pemberontakan, mengingatkan kembali era dua ribu delapan. Era mistis dengan penonjolan heroisme atas ketidakadilan. Tak tahu kenapa ada rasa bangga jika dicap sebagai provokator dan lain sebagainya. Era memaksa dan meminta orang-orang untuk melawan yang kemudian dianggap sebagai pahlawan. Namun itu dulu ketika mimpi dan harapan belum ditukar dengan hotel mewah dan gedung-gedung terhormat.

Bergesa-gesa Aku tolehkan pikiran ke hal lain. Aku tidak berprasangka karena takut dianggap barisan sakit hati, atau lebih parahnya dianggap barisan tidak punya kesempatan. Biarkan waktu berlabuh, karena suatu saat akan menjadi kenyataan, sebab setiap era ada kelahiran-kelahiran tokoh dan intelektual baru. Mungkin inilah jaman yang melahirkan.

Aku kembali meneguk sedikit kopi dingin yang dipengaruhi hawa dingin tengah malam. Tapi yang namanya pikiran kembali berpikir, kenapa gelas kopi ini pun didatangkan dari luar tanah kelahiranku, Aceh. Pikiranku yang goblok!

Jemari melengking pelan di atas keybord. Mata terbelalak menancap layar komputer ukuran sepuluh inci. Kali ini pandanganku hanya berjarak sekitar dua puluh centimeter dengan layar yang penuh tulisan artikel tentang ke-acehan. Tulisan yang ditulis oleh pemikir-pemikir masa depan Aceh. Mereka banyak tahu soal konflik Aceh, bahkan apa yang akan terjadi di Aceh ke depan. Aceh baru.

Berbeda dengan Tuan Ramli di pelosok desa yang terisolir akibat ketiadaan informasi. Jangankan internet, membaca koran saja harus merangkak dengan jalan berbatu dua kilometer ke pusat kecamatan. Belum lagi yang disampaikan koran soal serimonial pejabat, kucuran dana untuk Aceh, pelantikan anggota dewan terpilih dan korupsi yang meredam. Ini jelas membuat Tuan Ramli tak perlu tahu.

Nek Halimah, janda tua berumur 50 tahun tidak berbeda dengan Tuan Ramli. Janda yang berharap rumahnya bukan dari dinding rumbia itu terus meratap sedih. Ratapan yang sudah dilaluinya 20 tahun lalu akibat sang kekasihnya (Suami) ditembak membabi buta di depan mata oleh orang berbaju loreng. Malam itu, tak seorang pun yang kenal identitas mereka. Jika pun tahu, pura-pura bodoh lebih baik.

Maaf, tulisan ini berputar-putar seperti gado-gado. Kalau redaktur media menilai, tulisan ini tidak fokus, tidak langsung pada inti apa yang ingin disampaikan, tidak menyentuh pembaca dan bahkan sering dianggap tidak layak jual dan bukan kebutuhan publik. Saya juga bosan dengan penilain media seperti itu, tapi apa hendak dikata cakap orang seberang.

Jika Aku sebagai tokoh politik dan pejabat teras, maka akan kusampaikan informasi nina bobo sebagai redam kekecewaaan Tuan Ramli dan Nek Halimah begini; Aceh kini mendapat subsidi dana minyak dan Gas, bahkan Aceh ke depan akan mendapat sekian persen hasil APBN. Jadi jumlahnya sekian triliun rupiah dan sekian dolar Amerika Serikat.

Bagaimana jika Saya sebagai elit politik? Apa yang perlu kusampaikan di media agar rakyat tahu Aku sebagai pembelanya dan sebagai tokohnya? Akan Aku sampaikan begini, “Pemerintah Aceh tak mengerti melakukan pemberantasan kemiskinan. Serapan dana saja tidak mampu menaikkan persentasi. Memang pemerintah Aceh bodoh!”. Padahal Aku asal cuap-cuap.

Bagaimana jika Aku menjadi pemimpin redaksi sebuah koran? Itu gampang! Tinggal perintahkan redaktur media untuk menulis judul bombastis yang kontroversi. Soal isi belakangan. Contohnya? LSM Tuding Pemerintah Aceh Gagal. Itu judulnya, meski isinya hanya kegagalan soal kecil. Atau begini; Dana Eks Kombatan Disunat!

Kini bukan gelas kopi yang ku angkat. Sebatang rokok perlahan Aku keluarkan dari bungkus kemudian sebuah korek warna-warni kupercikkan api hingga si api biru keluar dari lobangnya. Sambil Api kupandang, semakin hilang rasa optimisku terhadap PT Arun LNG. Sepuluh tahun lagi dia akan berlalu? Jika benar, kemana akan dipandahkan? Apalagi yang dapat dibanggakan Aceh? Jika pun ada, apa pentingnya untuk kesejahteraan kita! Cukup bertanya. (Bersambung)



Artikel Terkait