PENGKHIANAT

Oleh Andi Firdaus

Aceh!
Tepuk-tepuk dada seragam hilang berantakan
Tak ada lagi keangkuhan di alam-alam sejagat
Romantisme dan kemesraaan telah ditinggalkan

Aceh!
Imajinasi yang kunanti sekian tahun tak kunjung datang
Angguk kepala tanda serentak berbalik sudah
Pendurhaka dan penjaja sumpah bertabur angkuh

Aceh!
Aku tak mengerti sombongmu hari ini
Aku hanya tau nurani yang miskin kau tinggalkan
Kau lari jauh hingga aku sesat dan menjadi pengkhianat

Aceh!
Cukupkah Aku tertawa serakah
Hanya menanti ketidakpastian berubah karena ulah
Sekali lagi Aku tak ingin menjadi laknat

Aceh!
Aku tak akan minta maaf pada pemangsa berbulu manusia
Hingga tetes darah sebangsa jadi hiburan-hiburan di gedung terhormat
Teruskan…..teruskan

Cot Panglima, 2 Desember 09

SELAMATKAN KONSTRUKSI SOSIAL

Oleh Andi Firdaus

Jika saja melihat teori Manuel Castells (1983) dalam bukunya “The City and The Grass Roots,” justru lebih tajam untuk memahami gerakan sosial. Bahkan Castells menegaskan bahwa kota adalah sebagai kreasi warga. Maka apa yang menjadi kekhawatiran dan penafsiran masyarakat Pidie Jaya terhadap kebijakan pemerintah merupakan konsep atas penafsiran, sehingga terfokus pembangunan kota oleh penduduknya sendiri, termasuk jalan layang.


***
Ada yang menarik dibicarakan masyarakat soal hadir dan tidaknya pembangunan jalan layang di Kabupaten Pidie Jaya. Satu sisi kehadiran jembatan layang merupakan terobosan pertama di Aceh. Namun di sisi lain, terbesit pertanyaan, seberapa penting jembatan tersebut di bangun tanpa merusak dukungan sosial?
Sebagai warga dan penduduk Pidie Jaya, saya berkepentingan mengutarakan pendapat mengenai kebijakan tersebut, sehingga polemik dan tudingan negatif yang dialamatkan kepada Pemkab dibawah pimpinan Bupati Gade Salam diharapkan menjadi transformasi informasi sebagai pencerdasan publik.
Tudingan masyarakat kepada pemerintah yang lebih mementingkan proyek besar untuk sebuah sensasi ada benarnya. Ini sebagai penjawantahan pemikiran masyarakat setelah hidup dalam keterpurukan ekonomi akibat konflik selama bertahun-tahun. Misalkan saja, bertahun warga di desa pinggiran gunung Jiem-Jiem harus menempuh jalan berbatu untuk menuju kota Kecamatan Bandar Baru.
Memang tak salah, jika keputusan DPRK Pidie Jaya menyepakati rencana eksekutif membangun jalan layang dari jalan Banda Aceh-Medan menuju pusat perkantoran kabupaten, kawasan Cot Trieng. Tapi pertimbangan lain dalam gerahnya pembangunan jalan-jalan desa adalah sebuah realitas yang perlu dijelaskan secara transparan. Sehingga tercipta budaya pencerdasan publik yang bisa dimengerti.
Sedangkan alasan dewan lainnya adalah, demi menyelamatkan dana hibah provinsi sebesar Rp12,8 miliar, dan waktu yang tersedia tidak memungkinkan lagi proyek tersebut dialihkan. Pernyataan tersebut dikatakan Wakil Ketua Sementara DPRK Pidie Jaya, H Sulaiman Ary (Serambi Indonesia, Rabu 14/10). Jika itu alasannya, maka ke depan pemerintah perlu melakukan perencanaan yang matang dalam merumuskan sebuah pembangunan.
Saya juga ingin bertanya, kenapa waktu yang tersedia begitu terburu-buru hingga proyek yang masih menjadi pro dan kontra tidak bisa dialihkan? Apakah ini ada kesalahan eksekutif, sehingga pengajuan proposal dana hibah ke provinsi tanpa ada koordinasi dengan legislatif? Kita tidak ingin soal lemahnya koordinasi dan konsolidasi di tataran Pemkab Pidie Jaya menjadi bumerang yang pada ujungnya berimbas pada pembangunan yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat grassroot.
Anehnya, anggota legislatif lainnya justru dengan terpaksa menyetujui pembangunan jalan layang tersebut, seperti disampaikan H Syahrul Nufa yang beranggapan, secara pribadi dia tidak menyepati jalan layang dalam sidang dengar pendapat (hearing) pada Selasa, 13 Oktober 2009 di aula dewan. Ada apa sebenarnya? Inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Eksekutif atas persepsi tersebut.
Sikap kritis masyarakat sebagai kontrol eksekutif harus ditanggapi secara bijak. Rencana proyek yang menelan dana sekitar Rp 47 miliar bukanlah dana yang sedikit dalam bayangan masyarakat kita. Sebab di depan mereka ada jalan-jalan berbatu, rumah-rumah tak layak huni dan berbagai infrastruktur lainnya yang tak berfungsi untuk dijadikan referensi penggunaan keuangan.
Saya juga perlu menyarankan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pidie Jaya, Hanief Ibrahim atas pernyataannya di media Serambi Indonesia (14/7), bahwa jalan layang dapat menyelamatkan lahan sawah dari pembangunan toko-toko. Sebagai orang PU, wajar Hanief tidak bisa menganalisa bagaimana pertumbuhan ekonomi sebuah kabupaten yang baru lahir tanpa didukung oleh infrastruktur yang baik.
Bagaimana sebuah kota kabupaten bisa maju, jika transaksi ekonomi masyarakat di pedesaan terkendala akibat susahnya sarana transportasi jalan. Ini berakibat fatal pada tujuan pemerintah dalam memajukan dan mensejahterakan ekonomi masyarakat kelas bawah, terutama petani. Sehingga teori memprioritaskan pembangunan kota kabupaten lebih awal sebagai simbul kemajuan daerah perlu dikaji ulang.
Bila pola pikir masyarakat tidak bisa dikalaborasikan dengan cara pikir pelaku pengambil kebijakan, maka pembangunan dan rekonstruksi pemikiran yang sedang dilakukan menjadi gagal. Jika saja dilihat bahwa bangunan itu tidak hanya dalam bentuk fisik dan gedung, tapi juga bangunan pikiran yang kuat demi kebersamaan.
Padahal Bapak Hanif yang terhormat mengetahui, bahwa proyek tersebut mendapat tanggapan pesimis dari masyarakat. Bahkan anggapan masyarakat yang menilai Pemkab lebih mementingkan jalan layang daripada jalan rusak di kampung-kampung sebagai persepsi yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ini bukan hanya kerja dalam bentuk fisik, seyogyanya juga dalam bentuk pembangunan pola pikir yang mesti diperhatikan.
Tanpa rasa menyesal saya juga ingin mengungkapkan kepada Bupati Pidie Jaya. Bahwa kehadiran elemen sipil dan tokoh masyarakat sebagai kontrol sosial jangan dianggap sebagai lawan. Kita menyadari, kepercayaaan masyarakat pada pemilihan tanggal 17 Desember 2009 adalah bagian dari komitmen membangun Pidie Jaya secara bersama.
Masyarakat menyadari, anggaran yang dimiliki Pemkab sebesar Rp 315 miliar dari APBK memang tidak bisa diandalkan untuk pembangunan menyeluruh. Apalagi dana tersebut sudah terkuras 75 persen untuk biaya tidak langsung dan biaya rutin. Masyarakat sadar pembangunan diperlukan bantuan hibah dan bantuan lainnya dari luar.
Untuk itu, pernyataan Bupati di media (Waspada Online, 16/10) yang berharap semua pihak terutama para mahasiwa jangan banyak berpolitik seharusnya tidak perlu dinyatakan, jika bupati menganggap politik sebagai bagian dari sebuah konsolidasi. Kesadaran ini tidak serta merta dapat dibangun tanpa pemahaman yang kuat dan keterlibatan partisipatif semua elemen masyarakat.
Jika saja melihat teori Manuel Castells (1983) dalam bukunya “The City and The Grass Roots,” justru lebih tajam untuk memahami gerakan sosial. Bahkan Castells menegaskan bahwa kota adalah sebagai kreasi warga. Maka apa yang menjadi kekhawatiran dan penafsiran masyarakat Pidie Jaya terhadap kebijakan pemerintah merupakan konsep atas penafsiran, sehingga terfokus pembangunan kota oleh penduduknya sendiri.
Kontoversi pembangunan jalan layang yang hanya 800 meter jangan sampai memecah konsentrasi dukungan masyarakat kepada pemerintah terpilih. Keterbukaan dan kejelasan pada setiap informasi menjadi penting dalam membangun tatanan sosial yang berkelanjutan. Tak berharap seperti dinasti yang otoriter tanpa melihat kepentingan yang lebih besar dalam ranah perpolitikan dan pembangun yang sedang digalakkan.
Belum lagi sisa dana sebesar Rp2,2 miliar dari total bantuan hibah sebesar Rp 15 miliar yang direncanakan untuk guest house--semacam rumah terima tamu—juga perlu pertimbangan yang bijaksana agar tidak menimbulkan persepsi negatif, yang kemudian dianggap bupati lebih mementingkan tempat terima tamu ketimbang rumah korban konflik.
Sehingga kebijakan apapun yang diambil demi kemakmuran dan ksejahteraan rakyat tidak terus menerus menjadi jargon tanpa mampu dibuktikan dengan frame logika. Program pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan harus dimentahkan dalam program yang rasional dan dapat diukur, sehingga tidak menjadi utopia (cét langét).
Inilah yang perlu ditransformasikan ke dalam wacana masyarakat untuk berpikir kritis, tanpa menyuguhkan angin surga yang hanya sesaat terninabobokan. Kesadaran semua elemen sipil dan pemerintah Kabupaten Pidie Jaya perlu diperlihatkan secara berbeda. Karena masyarakat pada dasarnya mendukung setiap program yang jelas dan bisa diukur secara kasat mata.
Rekonstruksi jalan layang perlu, tapi rekonstruksi pemikiran pasca pemilihan dan pasca konflik jauh lebih perlu. Ini menjadi harapan ke depan agar pemerintah Pidie Jaya tidak ditinggalkan di tengah jalan hanya karena egoisme dalam pengambilan kebijakan. Terapkan koordinasi dan jadikan masyarakat sebagai kotrol kemajuan yang sedang dilakukan bertahap.
Tak hanya sekadar jalan layang, unsur lainnya juga perlu dipertimbangkan untuk memajukan sebuah daerah. Lihat saja seperti apa yang dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Ramli Daud SH MM (Serambi Indonesia, Rabu 14/10), soal masih adanya 50 persen pejabat eselon II Pidie Jaya yang masih tinggal di luar daerah. Jika ini terjadi, bukan hanya pelayanan publik bisa terganggu, tetapi perputaran uang yang juga tidak menguntungkan masyarakat setempat.
Kini masyarakat menunggu kebijakan apapun dalam memajukan kabupaten yang dikenal lumbung padi tersebut. Tanpa dibumbui banyak unsur kepentingan, tanpa rasa takut demi kepentingan publik, dan tentunya perlu ide yang brilian yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa euforia. Jalan layang jangan sampai menghancurkan konstruksi pemikiran dan melayangnya dukungan masyarakat . Semoga!

*) Tulisan ini pernah dimuat di halaman Opini Koran Harian Aceh
*) Direktur Center for Humanitarian and Social Empowerment (CHSE) Aceh.


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (3)

Oleh Andi Firdaus

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin


Dua malam yang lalu, ocehan demi ocehan telah Aku tulis. Tak berharap apapun dari tulisan sebelumnya. Ini malam ketiga setelah dua tulisan sebelumnya Aku rangkai perlahan dengan maksud tak menyinggung perasaan. Ya!

Malam ini—saat tulisan kecil sedang tertoreh—adalah malam menyambut hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Pertanda malam ini merupakan kemenangan bagi orang-orang yang sudah menjalankan ibadah puasa. Bagaimana yang tidak? Aku tak membahasnya di tulisan ini. Maaf!

Dari lantai dua sebuah ruko, dalam kamar ukuran 3x4 sederhana, Aku berada di depan netbook mungil yang Aku beli bukan hasil korupsi. Ini jelas-jelas netbook bermerk Acer hasil keringat yang Aku kumpulkan sejak enam bulan silam. Untung Aku membelinya sudah dilengkapi fasilitas 3G.

Sambil layarnya Aku pandang, gaduh suara motor, mobil, kumandang takbir dan suara marcon—mengingat kembali letusan senjata saat Aku berada dalam kontak senjata di Bireun antara tentara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—masuk ke telinga. Tapi kenangan suara letusan senjata kubiarkan berlalu.

Pikiranku ingin mengoceh dalam malam-malam menjelang Idul Fitri. Aku tak bermaksud mencela dengan ocehan gelisah dan sakit hati. Hanya sekadar ingin mengoceh agar suara batin tertera di atas kertas microsoft office word di layar netbook. Itu saja, tidak lebih.

Masih di depan layar, tanpa menggunakan baju, kubiarkan saja kulit badan terlihat terang. Rasa ingin keluar menyemarakkan suasana jelang lebaran Aku urungkan. Tak berselera jalan-jalan, apalagi meng-eforia-kan keadaan lantaran pikiran dan kondisi badan lelah setelah seharian tidur pulas.

Hanphone Nexian seharga 1,2 juta produk lokal—bukan karena cinta produk Indonesia, tapi memang harganya murah akibat kondisi keuangan menurun—tidak berhenti berbunyi. Sort Service Message (SMS) hampir saja memakan memori yang hanya berukuran 500 MB lantaran ucapan selamat dan minta maaf. Aku senyum.

Mata kupandang layar netbook, jari terus bermain di atas huruf-huruf A, B dan C. Di lain kesempatan, Aku lihat juga layar Handphone yang berukuran 3 atau 4 cemtimeter saja. Pertanda ada pesan masuk yang aneka ragam. Ada pantun, ada juga mewakili organisasi dan bahkan mewakili dirinya sendiri. Intinya mohon maaf!

Di luar suasana semakin kacau akibat kenderaan roda dua dan empat tak beraturan. Polisi lalu lintas tak bisa bicara banyak. Simpang empat Keunire, Kota Sigli padat. Tak sepadat pengetahuan mereka mengetahui aturan lalu lintas. Ku vonis saja karena lampu merah, hijau dan kuning tak menjadi acuan berkenderaan. Oh malam yang hilang aturan!

Dari lantai dua, mata terus memandang suasana jalan. Ada rombongan yang sesak oleh orang-orang berpeci religius. Di atasnya suara Allahu Akbar berkumandang. Di samping jalan ada sepeda motor melaju pelan yang dikendarai oleh dua insan. Bercengkrama seakan kemenagan mereka rebut setelah puasa penuh sebulan. Ramai sekali!

Meski ramai, Aku tak terpengaruh untuk ikut jalan-jalan menghabiskan malam. Toko-toko diserbu pembeli baju baru. Benar-benar suasana yang belum tentu menang. Tapi otak dan benakku sedikit bermain. Memang Aku akui, bahwa Aku bukan orang suci dan sok baik yang berpikir tentang janda dan anak yatim yang lolos dari keceriaan malam lebaran ini.

Bahkan SMS rekan sejawat dari berbagai pelosok tak Aku reply akibat pulsa Simpati tak sempat terisi. Kawan yang dijanjikan bertemu pun tak kunjung datang dengan alasan diserang hujan lebat di sekitar Caleu, Kecamatan Indrajaya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.21 We-Ie-Be.

Lalu lalang pemuda dan pemudi seakan menyiratkan pesan; malam ini milik kita berdua, tak ada Wilayatul Hisbah (WH) mencegah. Malam yang benar-benar bebas melakukan kehendak. Bersenang-senanglah di saat mereka tak punya daya bertindak. Tak punya kuasa melarang. Teruskanlah! Ini malam lebaran.

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin (bersambung)


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (2)

Oleh Andi Firdaus

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan bisikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu dan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

***

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya, bukan karena menjelang lebaran tiba maupun suasana hati gembira. Malam ini adalah tanggal 19 September 2009, persis menjelang hiruk-pikuk pasar hewan menunggu suasana meugang ke-esokan harinya. Tapi bukan karena itu!

Pukul 20 kosong-kosong We-Ie-Be adalah yang pertama Aku mudik dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Sigli, Pidie. Menggunakan sepeda motor honda produk tahun 2006, perjalanan diguyur hujan sepanjang jalan menjadi hal yang belum pernah Aku lakukan dalam kurun empat tahun terakhir. Kondisi cuaca tak bersahabat Aku anggap sebagai pengalaman menjelang lebaran tiba.

Dua alenia di atas hanya sekadar gambaran bayangan. Tetapi ada sekilas bayangan pengalaman yang hendak Aku tulis sebagai renungan kekhawatiran. Dalam tikungan-tikungan hutan di kilometer 50 hingga sekian, dalam redup malam Aku dihadapkan pada jalan-jalan berlubang tanpa perhatian. Di saat perlawanan gencar disuarakan, tak ada perhatian pembangunan dilakukan untuk alam-alam dan jalan-jalan.

Pengalaman pertama kata sebuah iklan memang menggoda. Tapi akankah pengalaman berkelok dalam gelap hutan negeri Antara dengan lobang-lobang di tengah jalan akan terus menjadi pengalaman? Atau dibiarkan saja menjadi perangsang warga di sana agar bernafsu menggugat, hingga syahwat mereka kuat untuk bersuara lantang.

Di pinggir-pinggir jalan ada bunga bermekar warna warni. Aku tak sempat mencium baunya, karena sibuk dengan lelucon dan obrolan kecil di atas sepeda motor tua (semoga tidak bagi mereka yang duduk di kursi terhormat). Sesekali terlihat terang wajah-wajah oleh sinar lampu pijar ukuran standar. Di bawahnya ada lelaki berselimut tebal, dan di sampingnya ada wajah berambut panjang. Dari harapan, tak ada yang diharapkan. Mungkin!

Wajahku tertutup kain songket pemberian sejawat setahun yang lalu. Duduk bersahaja di atas sepeda motor dengan dua bola mata terus memandang pinggiran sepanjang jalan negeri itu. Dalam diam, kebisuan, keluguan dan dinginnya hawa malam, Aku bertanya dengan mata hati. Mungkinkah, hati mereka akan terus begitu? Atau mereka keras ingin melawan untuk tetap tidak bersama kita. Aceh!

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan besikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu. Atau suaramu suatu saat digantikan dengan pembangunan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

Dalam sedang kupikirkan, sebuah mobil Inova--nomor polisi kelihatan remang-- melaju kencang melewati sepeda motor butut kami. Aku perkirakan kecepatan sekitar 60 Km/ jam. Namun kecepatan itu dapat memercikkan air di jalan hingga celana bawahku sedikit basah. Dalam gelap malam itu, pikiranku kembali tertuju ke penghuni di dalam mbil tanpa nurani.

"Begini jika menjadi orang miskin, basah di guyur hujan ditambah basah oleh keangkuhan pemilik modal," pikirku sekejab dalam hati. Atau keangkuhan di negeri ini bukan hanya dalam kontek kelas sosial yang memang sudah jauh tertinggal, namun keangkuhan pemilik modal yang mencoba memperkosa kekayaan hutan-hutan, hingga longsor menjadi kekhawatiran di saat kami dalam perjalan.

Mungkin mereka ikut mudik, buru-buru agar secepatnya bertemu keluarga sebab hari raya lusa. Mereka mungkin ingin minta maaf pada orang tua, sanak famili, keluarga bahkan tetangga. Aku juga berpikir sebentar saja, tak adakah yang minta maaf pada alam yang telah mereka perkosa? Minta maaf pada wajah-wajah tanpa dosa yang terus bergelut dengan pemiskinan hampir di setiap pelosok desa. tak ada! (Bersambung)