Tampilkan postingan dengan label Peh Tem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peh Tem. Tampilkan semua postingan

OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (3)

Oleh Andi Firdaus

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin


Dua malam yang lalu, ocehan demi ocehan telah Aku tulis. Tak berharap apapun dari tulisan sebelumnya. Ini malam ketiga setelah dua tulisan sebelumnya Aku rangkai perlahan dengan maksud tak menyinggung perasaan. Ya!

Malam ini—saat tulisan kecil sedang tertoreh—adalah malam menyambut hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Pertanda malam ini merupakan kemenangan bagi orang-orang yang sudah menjalankan ibadah puasa. Bagaimana yang tidak? Aku tak membahasnya di tulisan ini. Maaf!

Dari lantai dua sebuah ruko, dalam kamar ukuran 3x4 sederhana, Aku berada di depan netbook mungil yang Aku beli bukan hasil korupsi. Ini jelas-jelas netbook bermerk Acer hasil keringat yang Aku kumpulkan sejak enam bulan silam. Untung Aku membelinya sudah dilengkapi fasilitas 3G.

Sambil layarnya Aku pandang, gaduh suara motor, mobil, kumandang takbir dan suara marcon—mengingat kembali letusan senjata saat Aku berada dalam kontak senjata di Bireun antara tentara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—masuk ke telinga. Tapi kenangan suara letusan senjata kubiarkan berlalu.

Pikiranku ingin mengoceh dalam malam-malam menjelang Idul Fitri. Aku tak bermaksud mencela dengan ocehan gelisah dan sakit hati. Hanya sekadar ingin mengoceh agar suara batin tertera di atas kertas microsoft office word di layar netbook. Itu saja, tidak lebih.

Masih di depan layar, tanpa menggunakan baju, kubiarkan saja kulit badan terlihat terang. Rasa ingin keluar menyemarakkan suasana jelang lebaran Aku urungkan. Tak berselera jalan-jalan, apalagi meng-eforia-kan keadaan lantaran pikiran dan kondisi badan lelah setelah seharian tidur pulas.

Hanphone Nexian seharga 1,2 juta produk lokal—bukan karena cinta produk Indonesia, tapi memang harganya murah akibat kondisi keuangan menurun—tidak berhenti berbunyi. Sort Service Message (SMS) hampir saja memakan memori yang hanya berukuran 500 MB lantaran ucapan selamat dan minta maaf. Aku senyum.

Mata kupandang layar netbook, jari terus bermain di atas huruf-huruf A, B dan C. Di lain kesempatan, Aku lihat juga layar Handphone yang berukuran 3 atau 4 cemtimeter saja. Pertanda ada pesan masuk yang aneka ragam. Ada pantun, ada juga mewakili organisasi dan bahkan mewakili dirinya sendiri. Intinya mohon maaf!

Di luar suasana semakin kacau akibat kenderaan roda dua dan empat tak beraturan. Polisi lalu lintas tak bisa bicara banyak. Simpang empat Keunire, Kota Sigli padat. Tak sepadat pengetahuan mereka mengetahui aturan lalu lintas. Ku vonis saja karena lampu merah, hijau dan kuning tak menjadi acuan berkenderaan. Oh malam yang hilang aturan!

Dari lantai dua, mata terus memandang suasana jalan. Ada rombongan yang sesak oleh orang-orang berpeci religius. Di atasnya suara Allahu Akbar berkumandang. Di samping jalan ada sepeda motor melaju pelan yang dikendarai oleh dua insan. Bercengkrama seakan kemenagan mereka rebut setelah puasa penuh sebulan. Ramai sekali!

Meski ramai, Aku tak terpengaruh untuk ikut jalan-jalan menghabiskan malam. Toko-toko diserbu pembeli baju baru. Benar-benar suasana yang belum tentu menang. Tapi otak dan benakku sedikit bermain. Memang Aku akui, bahwa Aku bukan orang suci dan sok baik yang berpikir tentang janda dan anak yatim yang lolos dari keceriaan malam lebaran ini.

Bahkan SMS rekan sejawat dari berbagai pelosok tak Aku reply akibat pulsa Simpati tak sempat terisi. Kawan yang dijanjikan bertemu pun tak kunjung datang dengan alasan diserang hujan lebat di sekitar Caleu, Kecamatan Indrajaya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.21 We-Ie-Be.

Lalu lalang pemuda dan pemudi seakan menyiratkan pesan; malam ini milik kita berdua, tak ada Wilayatul Hisbah (WH) mencegah. Malam yang benar-benar bebas melakukan kehendak. Bersenang-senanglah di saat mereka tak punya daya bertindak. Tak punya kuasa melarang. Teruskanlah! Ini malam lebaran.

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin (bersambung)


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (2)

Oleh Andi Firdaus

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan bisikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu dan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

***

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya, bukan karena menjelang lebaran tiba maupun suasana hati gembira. Malam ini adalah tanggal 19 September 2009, persis menjelang hiruk-pikuk pasar hewan menunggu suasana meugang ke-esokan harinya. Tapi bukan karena itu!

Pukul 20 kosong-kosong We-Ie-Be adalah yang pertama Aku mudik dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Sigli, Pidie. Menggunakan sepeda motor honda produk tahun 2006, perjalanan diguyur hujan sepanjang jalan menjadi hal yang belum pernah Aku lakukan dalam kurun empat tahun terakhir. Kondisi cuaca tak bersahabat Aku anggap sebagai pengalaman menjelang lebaran tiba.

Dua alenia di atas hanya sekadar gambaran bayangan. Tetapi ada sekilas bayangan pengalaman yang hendak Aku tulis sebagai renungan kekhawatiran. Dalam tikungan-tikungan hutan di kilometer 50 hingga sekian, dalam redup malam Aku dihadapkan pada jalan-jalan berlubang tanpa perhatian. Di saat perlawanan gencar disuarakan, tak ada perhatian pembangunan dilakukan untuk alam-alam dan jalan-jalan.

Pengalaman pertama kata sebuah iklan memang menggoda. Tapi akankah pengalaman berkelok dalam gelap hutan negeri Antara dengan lobang-lobang di tengah jalan akan terus menjadi pengalaman? Atau dibiarkan saja menjadi perangsang warga di sana agar bernafsu menggugat, hingga syahwat mereka kuat untuk bersuara lantang.

Di pinggir-pinggir jalan ada bunga bermekar warna warni. Aku tak sempat mencium baunya, karena sibuk dengan lelucon dan obrolan kecil di atas sepeda motor tua (semoga tidak bagi mereka yang duduk di kursi terhormat). Sesekali terlihat terang wajah-wajah oleh sinar lampu pijar ukuran standar. Di bawahnya ada lelaki berselimut tebal, dan di sampingnya ada wajah berambut panjang. Dari harapan, tak ada yang diharapkan. Mungkin!

Wajahku tertutup kain songket pemberian sejawat setahun yang lalu. Duduk bersahaja di atas sepeda motor dengan dua bola mata terus memandang pinggiran sepanjang jalan negeri itu. Dalam diam, kebisuan, keluguan dan dinginnya hawa malam, Aku bertanya dengan mata hati. Mungkinkah, hati mereka akan terus begitu? Atau mereka keras ingin melawan untuk tetap tidak bersama kita. Aceh!

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan besikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu. Atau suaramu suatu saat digantikan dengan pembangunan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

Dalam sedang kupikirkan, sebuah mobil Inova--nomor polisi kelihatan remang-- melaju kencang melewati sepeda motor butut kami. Aku perkirakan kecepatan sekitar 60 Km/ jam. Namun kecepatan itu dapat memercikkan air di jalan hingga celana bawahku sedikit basah. Dalam gelap malam itu, pikiranku kembali tertuju ke penghuni di dalam mbil tanpa nurani.

"Begini jika menjadi orang miskin, basah di guyur hujan ditambah basah oleh keangkuhan pemilik modal," pikirku sekejab dalam hati. Atau keangkuhan di negeri ini bukan hanya dalam kontek kelas sosial yang memang sudah jauh tertinggal, namun keangkuhan pemilik modal yang mencoba memperkosa kekayaan hutan-hutan, hingga longsor menjadi kekhawatiran di saat kami dalam perjalan.

Mungkin mereka ikut mudik, buru-buru agar secepatnya bertemu keluarga sebab hari raya lusa. Mereka mungkin ingin minta maaf pada orang tua, sanak famili, keluarga bahkan tetangga. Aku juga berpikir sebentar saja, tak adakah yang minta maaf pada alam yang telah mereka perkosa? Minta maaf pada wajah-wajah tanpa dosa yang terus bergelut dengan pemiskinan hampir di setiap pelosok desa. tak ada! (Bersambung)



OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (1)

Oleh: Andi Firdaus

Malam ini kesekian kalinya Aku kembali menulis setelah hampir enam bulan absen. Aku juga bukan penulis murung yang selalu bergelut dengan kritikan kebijakan. Apalagi membenarkan yang salah dalam kasus tertentu. Sekadar meruahkan kegelisahan pada diri sendiri, maka tulisan ini tidak terpaksa Aku tulis. Dengan iklas dan sedikit senyum Aku mencoba merangkai lagi kalimat dengan harapan tidak panjang-panjang.

Menurunkan ide melalui jemari di atas keybord komputer memang sulit. Mengingatkan kembali pada pelatihan jurnalistik dasar ketika masih kuliah. Penulis pemula memang susah mengawali tulisan, tapi sulit pula mencari ending. Terkadang tidak sedikit tersesat hingga tulisan menjadi gado-gado. Aku juga tidak mengerti bagimana seseorang menilai tulisan itu bagus atau tidak. Apakah karena ide, cara tulisnya, penggunaan kata, mengatur kalimat atau bertabur bahasa istilah.

Tapi Aku tak ingin berlama-lama berpikir tentang itu. Jam sudah menunjukkan pukul kosong tiga we-ie-be. Segelas kopi hitam buatan sendiri tinggal sekitar satu sentimeter. Sekali teguk kopi, sekali pula bayangan pikiran mengarak ke petani kopi yang tergilas oleh arogansi pengusaha bermodal besar. Sekali pula kadang terbayang pemberontakan. Tapi ini ide gila menyuruh orang berontak dalam jaman kekinian yang notabenenya damai.

Bicara pemberontakan, mengingatkan kembali era dua ribu delapan. Era mistis dengan penonjolan heroisme atas ketidakadilan. Tak tahu kenapa ada rasa bangga jika dicap sebagai provokator dan lain sebagainya. Era memaksa dan meminta orang-orang untuk melawan yang kemudian dianggap sebagai pahlawan. Namun itu dulu ketika mimpi dan harapan belum ditukar dengan hotel mewah dan gedung-gedung terhormat.

Bergesa-gesa Aku tolehkan pikiran ke hal lain. Aku tidak berprasangka karena takut dianggap barisan sakit hati, atau lebih parahnya dianggap barisan tidak punya kesempatan. Biarkan waktu berlabuh, karena suatu saat akan menjadi kenyataan, sebab setiap era ada kelahiran-kelahiran tokoh dan intelektual baru. Mungkin inilah jaman yang melahirkan.

Aku kembali meneguk sedikit kopi dingin yang dipengaruhi hawa dingin tengah malam. Tapi yang namanya pikiran kembali berpikir, kenapa gelas kopi ini pun didatangkan dari luar tanah kelahiranku, Aceh. Pikiranku yang goblok!

Jemari melengking pelan di atas keybord. Mata terbelalak menancap layar komputer ukuran sepuluh inci. Kali ini pandanganku hanya berjarak sekitar dua puluh centimeter dengan layar yang penuh tulisan artikel tentang ke-acehan. Tulisan yang ditulis oleh pemikir-pemikir masa depan Aceh. Mereka banyak tahu soal konflik Aceh, bahkan apa yang akan terjadi di Aceh ke depan. Aceh baru.

Berbeda dengan Tuan Ramli di pelosok desa yang terisolir akibat ketiadaan informasi. Jangankan internet, membaca koran saja harus merangkak dengan jalan berbatu dua kilometer ke pusat kecamatan. Belum lagi yang disampaikan koran soal serimonial pejabat, kucuran dana untuk Aceh, pelantikan anggota dewan terpilih dan korupsi yang meredam. Ini jelas membuat Tuan Ramli tak perlu tahu.

Nek Halimah, janda tua berumur 50 tahun tidak berbeda dengan Tuan Ramli. Janda yang berharap rumahnya bukan dari dinding rumbia itu terus meratap sedih. Ratapan yang sudah dilaluinya 20 tahun lalu akibat sang kekasihnya (Suami) ditembak membabi buta di depan mata oleh orang berbaju loreng. Malam itu, tak seorang pun yang kenal identitas mereka. Jika pun tahu, pura-pura bodoh lebih baik.

Maaf, tulisan ini berputar-putar seperti gado-gado. Kalau redaktur media menilai, tulisan ini tidak fokus, tidak langsung pada inti apa yang ingin disampaikan, tidak menyentuh pembaca dan bahkan sering dianggap tidak layak jual dan bukan kebutuhan publik. Saya juga bosan dengan penilain media seperti itu, tapi apa hendak dikata cakap orang seberang.

Jika Aku sebagai tokoh politik dan pejabat teras, maka akan kusampaikan informasi nina bobo sebagai redam kekecewaaan Tuan Ramli dan Nek Halimah begini; Aceh kini mendapat subsidi dana minyak dan Gas, bahkan Aceh ke depan akan mendapat sekian persen hasil APBN. Jadi jumlahnya sekian triliun rupiah dan sekian dolar Amerika Serikat.

Bagaimana jika Saya sebagai elit politik? Apa yang perlu kusampaikan di media agar rakyat tahu Aku sebagai pembelanya dan sebagai tokohnya? Akan Aku sampaikan begini, “Pemerintah Aceh tak mengerti melakukan pemberantasan kemiskinan. Serapan dana saja tidak mampu menaikkan persentasi. Memang pemerintah Aceh bodoh!”. Padahal Aku asal cuap-cuap.

Bagaimana jika Aku menjadi pemimpin redaksi sebuah koran? Itu gampang! Tinggal perintahkan redaktur media untuk menulis judul bombastis yang kontroversi. Soal isi belakangan. Contohnya? LSM Tuding Pemerintah Aceh Gagal. Itu judulnya, meski isinya hanya kegagalan soal kecil. Atau begini; Dana Eks Kombatan Disunat!

Kini bukan gelas kopi yang ku angkat. Sebatang rokok perlahan Aku keluarkan dari bungkus kemudian sebuah korek warna-warni kupercikkan api hingga si api biru keluar dari lobangnya. Sambil Api kupandang, semakin hilang rasa optimisku terhadap PT Arun LNG. Sepuluh tahun lagi dia akan berlalu? Jika benar, kemana akan dipandahkan? Apalagi yang dapat dibanggakan Aceh? Jika pun ada, apa pentingnya untuk kesejahteraan kita! Cukup bertanya. (Bersambung)



Politik Apa Ma'in


Oleh: Andi Firdaus

Di sebuah warung, apa Ma’in menebar senyum. “Péu haba anéuk rantô,” celutuk sambil sebatang rokok ‘plat’ merah menyentuh bibirnya. Sudah kebiasaan sapaan ala kadarnya menyerang pemuda yang baru saja pulang dari rantau. Apa Ma’in kenal betul wajah dan gaya orang asing.


Apa Ma’in adalah penghuni tetap desa itu hampir 50 tahun. Maklum dia kenal betul siapa saja yang lewat di depannya. Tak jarang, sesangging senyum dilempar begitu saja. “Péu nacan di rantô, Ku déungê makmu,” sorot matanya menantang. Dia tak sekadar jeli melihat fasion dan orang asing, tapi kondisi politik juga tak dibiarkan lewat begitu saja.

Kebiasaan meukliép di satu tempat sudah seperti tradisi. Duduk di warung kopi untuk sekadar obrolan lepas memang biasa. Separuh kopi hitam ikut menghias meja di depannya. Meski jarum jam mendekati angka 2 siang itu, tak membuat Apa Ma’in beranjak dari kursi bambu panjang yang terlihat lapuk.

Geraknya ceria, santai bersahaja. Raut wajah tak memperlihatkan ia seorang yang sedang dirundung gelisah. Tak juga menampakkan khawatir. Jika pun ditanyakan soal politik kekinian, tanpa olah pikir pun Apa Ma’in spontan bisa menjawab. “Pulitek péu, ka 40 thön gampöng manténg lagé njöe (Politik apa, 40 desa masih seperti ini),” celutuknya

Perlahan dia angkat sarung. “Njöe ija krông manténg hana èk tablöe le (Kain sarung aja tak sanggup kita beli lagi),” pelan-pelan sarungnya dirunkan kembali. Celoteh soal pembangunan siapa saja boleh. Bicara péumakmu gampông hampir setiap hari di televisi. Apalagi ini zaman caleg-caleg tahun 2009 mendatang. “Ken caleg, tapi celeng,” maksudnya semacam celeng yang bisa kumpulkan uang bayak.

Celeng Masjid, celang anak yatim, rumah dhuafa, dan bahkan celeng korban cacat dan sebagainya. Bicara soal celeng, Apa Ma’in punya cara dan pola pikir tersendiri. “Méukesud Apa Ma’in péu?” karena penasaran saya ikut komentar juga. “Nyan hana katéupu! Rugo kajak sikula panyang,” helanya.

Kamu kan bisa lihat betapa banyak celeng-celeng muncul menjelang tahun 2009 mendatang. Mereka sudah tentu dan pasti menjadi celeng, bukan caleg. Karena setelah mereka jadi celeng benaran, pasti akan dikumpulkan uang pembangunan Masjid, uang korban konflik, uang kaum dhuafa, untuk dikumpulkan dalam satu celeng. Ditabung!

Apa Ma’in hanya korban positif atas analisanya sendiri dengan melihat lakon para elite. Perdebatan di desa-desa menjadi apatisme tersendiri melihat karakter pemimpin. Mereka tak pandai berdebat, tapi mereka lebih pintar berdialektika dengan realitas apa yang menjadi nyata di depan mata. Percaya tidak percaya, njöe kéu biet-biet!



KREATIVITAS

Oleh: Andi Firdaus

Setiap individu mempunyai cita-cita. Tapi mewujudkannya tanpa perjuangan merupakan sia-sia, alias cét langét. Perjuangan juga perlu didampingi pengorbanan tinggi. Kén cilét-cilét, jèut mèu kliép. Jika bukan begitu, maka kesuksesan jarang didapat dalam pemahaman standar.


Dari banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan, kreativitas adalah salah satu di antaranya, bahkan ia jarang ditemukan. Pun ditemukan maka perlu dihargai. Tak jarang seseorang bisa sukses karena dampak dari sebuah kreativitas.

Bila Anda menganggap bahwa kreativitas adalah bawaan, secepatnya bisa dihilangkan. Kreativitas atau kemampuan memecahkan masalah adalah usaha bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Latihan mental sebagai usaha awal mungkin diperlukan.

Menurut Dokter Harvey C.L, ada tiga jenis orang kreatif, mengumpulkan gagasan dan hal yang asing untuk dirancang kembali. Kemudian hal yang lama ditempatkan ke dalam hal yang baru. Mungkin ini sebuah proses menciptakan kreativitas.

Pada dasarnya setiap orang memiliki jiwa kreatif, namun tanpa latihan mengasah pola pikir dengan membangkitkan dialektika-dialektika, maka jiwa kreatif akan tenggelam. Dan orang lain tidak akan pernah bisa melihat dan menikmatinya.

Ide kreatif tidak akan lahir bila ketakutan lebih dulu menjadi momok yang bersarang di kepala kita. Sama sulitnya ketika menghargai kreativitas orang lain, meski lebih bermakna untuk bisa dirasakan secara bersama. Ini tentunya sedikit diberi penekanan kecil untuk mengacu kepada tujuan; Sukses.

Jika tekanan tanpa diringankan, maka yang datang justru rasa frustrasi atau mengalami hambatan tinggi. Karena orang kreatif bekerja pada kondisi dan lingkungan yang baik, atau pada situasi ‘dingin’, atau hubungan yang hangat.

Jadi, membangun kreativitas dari orang lain adalah bagaimana menjalin hubungan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Sehingga tercipta kreatif dari orang-orang itu secara pribadi-pribadi. Sebab, setiap individu adalah individu yang lain.
Menciptakan ide kreatif tidak semudah mengeluarkan ludah. Butuh bantuan banyak orang yang membela di saat sulit, membina hubungan secara formal bahkan memberi toleransi. Tak jarang pula menghargai aktivitas individu lainnya.

Jika pun gagal pada suatu saat, orang kreatif selalu akan bilang; Itu merupakan langkah awal untuk sukses, menciptakan kepercayaan diri dan yang penting adalah sebagai keleluasaan bergerak demi mencapai cita-cita.



BANGKIT

Oleh: Andi Firdaus

Malam merapat pada pukul 00.00 WIB. Badan terbaring di atas tikar lusuh ukuran seadanya. Hanya cukup untuk dua atau tiga orang saja. Tapi malam itu kami paksakan agar lima orang dapat berbaring melepaskan penat dan lelah.

Meski jam beranjak pagi, tak juga kutemukan mimpi seperti malam-malam sebelumnya. Menerawang hingga kerap pikiran berada pada kegundahan dan kegelisahan. Berpikir dengan logika kadang semakin rumit. Mengedepankan perasaan juga kerap melebar ke mana-mana.


Nafas kuhembuskan sembarangan. Wajah kuhadapkan ke dinding tanpa cat warna-warni. Tak ada perhiasan dan pernik layaknya rumah mewah. Hanya ada beberapa teman dengan perut kosong yang masih semangat bicara soal cinta.

Dalam keterbaringan kembali kupikirkan. Kenapa mereka mampu menaklukkan kekosongan perut dan kekeringan kantong dengan semangat dan keceriaan. Kenapa aku tak bisa seperti budak-budak itu?

Tapi gelisah tak memandang seberapa banyak uang di kantong, atau jabatan yang disandang di atas pundak. Tetapi gelisah datang di saat pikiran memaksa kita untuk memilih di antara banyak pilihan. Itulah tantangan ketika dihadapkan pada dilematis sebuah kondisi.

Pada malam sebelumnya, seorang kawan lama bersua kembali. Saya berusaha mengingat-ingat kata-katanya pada malam itu. Dia seorang teman dengan canda dan tawa lebar. Sekilas tidak terlihat resah. Apalagi raut wajahnya menampakkan gundah, meski miliaran proyek telah membuat dia rugi.

Malam itu, dia bicara soal semangat. Bicara soal masa depan dan kelicikan. Malam itu juga dia tak hentinya melahirkan ide-ide gerakan. Bahkan dia terus memperlihatkan sebagai dirinya sendiri. Bangkit!

Mungkin, ada banyak orang yang sedang dihadapkan pada situasi stagnan. Keadaan yang bagi sebagian orang tidak banyak memiliki pilihan. Dalam remang lampu, kucoba ingat kembali apa yang dia ucapkan malam itu. Inspirasi yang membuat mata dan pikiranku terpejam jelang pagi. ‘Di mana kau jatuh, di situ kau harus bangkit’.



BECERMIN

Oleh: Andi Firdaus

Kembali ke masa lalu. Mungkin di antara rekan-rekan masih ingat saat kuliah dulu. Kantuk yang tak bisa ditahan akibat dosen sering ceramah bertele-tele. Atau saat menghadiri pertemuan dengan big boss dengan segudang penjelasan yang bertele juga. Membosankan, karena materi yang disampaikan tidak berbobot. Padahal poin inti yang seharusnya dijelaskan tidak dituturkan dengan gamblang.

Tentu tidak ada yang menginginkan seperti itu. Pasalnya, gaya seperti itu bahkan secara psikologi dapat mengganggu pola berpikir yang bersih. Kerap justru akan menjadi sebaliknya dengan penuh kebosanan. Atau kembali becermin melihat diri kita sendiri, apakah gaya dan bicara kita juga sering menonjolkan diri dan bertele? Jika ya, sifat seperti itu dalam pergaulan dan lingkungan harus cepat dijauhkan. Karena di belakang, Anda akan ditertawakan.


Kedewasaan berpikir bukan dibuat-buat untuk terlihat dewasa dan intelektual. Ia akan datang dengan sendirinya untuk sebuah penilaian dan hasil yang terbaik. Orang bahkan kadang menilai bukan pada bicara, tapi kelahiran ide perubahan dalam berbagai konteks, brilian dan percaya diri. Ini butuh proses dan ‘jam terbang’ banyak agar tidak terpaku seperti kodok di bawah tempurung.

Atau mungkin kita termasuk orang yang sering mengulang pendapat yang sering dilontarkan sebelumnya. Ini juga membuat pendengar dan teman atau orang-orang di sekeliling kita menjadi bosan. Bahkan dalam meeting pun kerap mengulang saran atau pendapat dari teman yang lain. Jangan mengulang pendapat yang pernah diutarakan agar terhindar dari ketidakpercayaan intelektual Anda. Cari ide yang fresh, dan baru karena orang tidak akan mendengar ide yang diulang meski dalam ‘kemasan’ berbeda.

Jika Anda seorang penulis, tentu sering mengedit kata-kata yang dinilai lebih singkat dan mudah dimengerti. Seharusnya, gunakan juga dalam komunikasi bahasa verbal agar yang disampaikan dalam mengekspresikan ide tersampaikan dengan tepat. Bagaimana dengan bumbu lelucon? Hati-hati dengan gaya lucu yang ditampilkan walau tak seperti komedi terkenal.

Oh ya, tanpa sadar kita pun sering membuat orang lain jenuh, karena pembahasan dan percontohan sering diarahkan pada diri sendiri. Jika bekerja dalam tim, maka tonjolkan tim bukan individu. Penting becermin, agar di belakang Anda tidak menjadi bahan tertawa. Cerminan itu penting dalam pergaulan keseharian kita.