Sisi Lain


Bertahan untuk memeriahkan pesta 17 Agustus dalam perlombaan panjat pinang. Ada sisi kemanusiaan lain yang seharusnya perlu direnung.

Tangis mereka kemudian menjadi sandiwara dan galak tawa ratusan dan bahkan ribuan orang. Kita senang! Anak kita juga dengan riang gembira terbahak. Gaduh!
Namun dibalik kegembiraan kita, Yakinlah! Ada buah hati mereka yang kerap berharap cemas, bila saja insiden yang tidak diharapkan terjadi.
Demi 100 hingga 200 ribu mereka mengabaikan tawa kita. Tau kenapa? Karena keterpaksaan membuat mereka rela melakukan apa saja. Sekali lagi, demi si buah hati dan orang tercinta

Sudut Pandang

Terkadang sesuatu yang terlihat sederhana akan menjadi luar biasa pada saat perspektif yang berbeda. Ini tentang sudut pandang.

Negeri Antara 2009

Oleh Andi Firdaus

Di bulan ‘ber’ kami tak hanya ‘berselingkuh’ dengan hujan dan ‘mesra’ dengan dingin. Tapi bercengkerama dengan orang-orang dalam berbagai latar belakang merupakan fakta yang harus kami bicarakan. Aceh, Jawa, Gayo, dan Batak adalah nuansa pluralisme memaknai sebuah konsep kebersamaan.

Ada sucuil pengalaman penting kami dirasakan pada bulan September, Oktober, November dan Desember. Berhadapan dengan mata dan wajah-wajah yang dimiskinkan oleh system misalnya. Mereka bukan tak mengerti realitas tentang hidup, bahkan mereka justru lebih menikmati hidup dalam pluralisme kebersamaan.

Semangat gotong-royong demi mewujudkan desa yang lebih mandiri adalah tujuan dari aneka factor. Bukan bangunan fisik yang perlu mereka rasakan, tapi kebersamaan dalam kesulitan yang perlu mereka cari. Kami melihat dari celah social movement yang seakan hadir kembali di antara bukit-bukit dan lembah-lembah gunung di Kabupaten Bener Meriah. Kami komitmen, ini jangan sirna!

Meski empat bulan berada dalam bulan ‘ber’ tetapi romantisme itu terjalin kuat seakan tak dipisahkan oleh rasisme yang ditanam ketika konflik mewabah di dataran gayo. Damai Helsinki, 15 Agustus 2005 adalah celah dan ruang memaknai persahaban dan solidaritas. Kami bekerja di LSM, tapi kami belajar dari mereka—orang-orang desa pedalaman—tentang solidaritas memaknai sesama. Kami lemah!

Kami juga menyadari, berada ditengah-tengah kerumunan orang berpakain lusuh—pikiran mereka justru lebih maju tentang kemanusiaan dan harga diri, ketimbang mereka berkerah putih yang selalu membuat ulah di atas muka bumi—sebuah inspirasi menghargai manusia satu dengan lainnya.

Mengutip kata seorang tokoh revolusi pendidikan di Brasil, Paolo Freire tentang bagaimana merubah sebuah realitas berawal dari sifat dan karakter pelaku perubahan itu sendiri. Paolo mengatakan bahwa Pengalaman adalah guru, dan ilmu adalah masyarakat. Jika saja melihat kutipan ini, terlalu besar jasa orang-orang yang kita anggap kampungan telah mengajari kita tentang hidup!

Kadang sebagai pekerja dan pelaku perdamaian terlalu egois. Seakan mereka membawa konsep kebersamaan dan partisipatif kepada masyarakat. Membawa ide hubungan-hubungan social dalam masyarakat. Mereka belajar dari teori lembaran-lembaran buku hasil tulisan para ilmuwan. Tapi dalam keterbalikan, orang-orang ‘kampungan’ tak bisa berteori, tapi mereka mampu melakoni.

Tahun 2001 sebagai petaka yang menorehkan sejarah hitam di bumi dingin negeri Antara. Tanpa senjata yang bicara, maka konsolidari menjadi tatanan terdefrag dengan sendirinya. Mereka seperti kehilangan romantisme bersahabat dengan Jawa, Aceh, gayo dan batak. Itu karena senjata telah memaksa mereka tidak bersaudara.

Kini, iklim demokrasi dan keterbukaan informasi semakan menjadi. Ruang ekspresi terbuka untuk sebuah konsolidasi. Biarkan mereka tersenyum sedikit, tertawa sebentar, dan ‘berselingkuh’ dengan persahabatan. Dan kita yang kerap mengklaim pelaku damai, bisa belajarlah dari keceriaan mereka.

Tak terasa, ruang-ruang itu ternyata mampu mengangkat keangkuhan sang pemilik kesombongan. Seakan bicara damai dan kebersamaan adalah milik si angkuh dan si sombong yang kerap berpenampilan rapi dan bermulut oportunis. Ternyata dilain sisi, mereka yang tinggal di gunung-gunung dan kebun adalah pelaku perdamaian.

Mereka bisa duduk sejajar bahu tanpa ingin menipu. Mereka bisa bersua tanpa niat mencela. Mereka juga bisa bekerja, tanpa meminta tanda jasa. Sekali lagi, mereka bisa bicara tak pandang siapa. Sepertinya mereka sangat dewasa memaknai nostalgia yang lama redup oleh angkuhnya kekuatan senjata. Kini kami belajar, bahwa dalam ruang hampa alam kedinginan, ternyata hati mereka lebih dingin memahami antar sesama. Terima kasih telah mengajari kami-kami yang angkuh! Negeri Antara 2009 sebuah inspirasi.




SUMPAH

Oleh Andi Firdaus

Demi Tuhan Aku bersumpah
Demi Tanah ini Aku berjanji
Demi leluhur yang Aku cintai
Demi nurani Aku mengabdi

Demi manusia yang tak henti menodai
Demi malaikat yang selalu tepat janji
Demi binatang yang tak mengerti
Demi tumbuhan yang setia menemani

Demi semuanya
Demi kita
Demi bangsa
Berikan harga diri pada bangsa kami!


Lancok, 12 Agust 09

PENGKHIANAT

Oleh Andi Firdaus

Aceh!
Tepuk-tepuk dada seragam hilang berantakan
Tak ada lagi keangkuhan di alam-alam sejagat
Romantisme dan kemesraaan telah ditinggalkan

Aceh!
Imajinasi yang kunanti sekian tahun tak kunjung datang
Angguk kepala tanda serentak berbalik sudah
Pendurhaka dan penjaja sumpah bertabur angkuh

Aceh!
Aku tak mengerti sombongmu hari ini
Aku hanya tau nurani yang miskin kau tinggalkan
Kau lari jauh hingga aku sesat dan menjadi pengkhianat

Aceh!
Cukupkah Aku tertawa serakah
Hanya menanti ketidakpastian berubah karena ulah
Sekali lagi Aku tak ingin menjadi laknat

Aceh!
Aku tak akan minta maaf pada pemangsa berbulu manusia
Hingga tetes darah sebangsa jadi hiburan-hiburan di gedung terhormat
Teruskan…..teruskan

Cot Panglima, 2 Desember 09

SELAMATKAN KONSTRUKSI SOSIAL

Oleh Andi Firdaus

Jika saja melihat teori Manuel Castells (1983) dalam bukunya “The City and The Grass Roots,” justru lebih tajam untuk memahami gerakan sosial. Bahkan Castells menegaskan bahwa kota adalah sebagai kreasi warga. Maka apa yang menjadi kekhawatiran dan penafsiran masyarakat Pidie Jaya terhadap kebijakan pemerintah merupakan konsep atas penafsiran, sehingga terfokus pembangunan kota oleh penduduknya sendiri, termasuk jalan layang.


***
Ada yang menarik dibicarakan masyarakat soal hadir dan tidaknya pembangunan jalan layang di Kabupaten Pidie Jaya. Satu sisi kehadiran jembatan layang merupakan terobosan pertama di Aceh. Namun di sisi lain, terbesit pertanyaan, seberapa penting jembatan tersebut di bangun tanpa merusak dukungan sosial?
Sebagai warga dan penduduk Pidie Jaya, saya berkepentingan mengutarakan pendapat mengenai kebijakan tersebut, sehingga polemik dan tudingan negatif yang dialamatkan kepada Pemkab dibawah pimpinan Bupati Gade Salam diharapkan menjadi transformasi informasi sebagai pencerdasan publik.
Tudingan masyarakat kepada pemerintah yang lebih mementingkan proyek besar untuk sebuah sensasi ada benarnya. Ini sebagai penjawantahan pemikiran masyarakat setelah hidup dalam keterpurukan ekonomi akibat konflik selama bertahun-tahun. Misalkan saja, bertahun warga di desa pinggiran gunung Jiem-Jiem harus menempuh jalan berbatu untuk menuju kota Kecamatan Bandar Baru.
Memang tak salah, jika keputusan DPRK Pidie Jaya menyepakati rencana eksekutif membangun jalan layang dari jalan Banda Aceh-Medan menuju pusat perkantoran kabupaten, kawasan Cot Trieng. Tapi pertimbangan lain dalam gerahnya pembangunan jalan-jalan desa adalah sebuah realitas yang perlu dijelaskan secara transparan. Sehingga tercipta budaya pencerdasan publik yang bisa dimengerti.
Sedangkan alasan dewan lainnya adalah, demi menyelamatkan dana hibah provinsi sebesar Rp12,8 miliar, dan waktu yang tersedia tidak memungkinkan lagi proyek tersebut dialihkan. Pernyataan tersebut dikatakan Wakil Ketua Sementara DPRK Pidie Jaya, H Sulaiman Ary (Serambi Indonesia, Rabu 14/10). Jika itu alasannya, maka ke depan pemerintah perlu melakukan perencanaan yang matang dalam merumuskan sebuah pembangunan.
Saya juga ingin bertanya, kenapa waktu yang tersedia begitu terburu-buru hingga proyek yang masih menjadi pro dan kontra tidak bisa dialihkan? Apakah ini ada kesalahan eksekutif, sehingga pengajuan proposal dana hibah ke provinsi tanpa ada koordinasi dengan legislatif? Kita tidak ingin soal lemahnya koordinasi dan konsolidasi di tataran Pemkab Pidie Jaya menjadi bumerang yang pada ujungnya berimbas pada pembangunan yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat grassroot.
Anehnya, anggota legislatif lainnya justru dengan terpaksa menyetujui pembangunan jalan layang tersebut, seperti disampaikan H Syahrul Nufa yang beranggapan, secara pribadi dia tidak menyepati jalan layang dalam sidang dengar pendapat (hearing) pada Selasa, 13 Oktober 2009 di aula dewan. Ada apa sebenarnya? Inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Eksekutif atas persepsi tersebut.
Sikap kritis masyarakat sebagai kontrol eksekutif harus ditanggapi secara bijak. Rencana proyek yang menelan dana sekitar Rp 47 miliar bukanlah dana yang sedikit dalam bayangan masyarakat kita. Sebab di depan mereka ada jalan-jalan berbatu, rumah-rumah tak layak huni dan berbagai infrastruktur lainnya yang tak berfungsi untuk dijadikan referensi penggunaan keuangan.
Saya juga perlu menyarankan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pidie Jaya, Hanief Ibrahim atas pernyataannya di media Serambi Indonesia (14/7), bahwa jalan layang dapat menyelamatkan lahan sawah dari pembangunan toko-toko. Sebagai orang PU, wajar Hanief tidak bisa menganalisa bagaimana pertumbuhan ekonomi sebuah kabupaten yang baru lahir tanpa didukung oleh infrastruktur yang baik.
Bagaimana sebuah kota kabupaten bisa maju, jika transaksi ekonomi masyarakat di pedesaan terkendala akibat susahnya sarana transportasi jalan. Ini berakibat fatal pada tujuan pemerintah dalam memajukan dan mensejahterakan ekonomi masyarakat kelas bawah, terutama petani. Sehingga teori memprioritaskan pembangunan kota kabupaten lebih awal sebagai simbul kemajuan daerah perlu dikaji ulang.
Bila pola pikir masyarakat tidak bisa dikalaborasikan dengan cara pikir pelaku pengambil kebijakan, maka pembangunan dan rekonstruksi pemikiran yang sedang dilakukan menjadi gagal. Jika saja dilihat bahwa bangunan itu tidak hanya dalam bentuk fisik dan gedung, tapi juga bangunan pikiran yang kuat demi kebersamaan.
Padahal Bapak Hanif yang terhormat mengetahui, bahwa proyek tersebut mendapat tanggapan pesimis dari masyarakat. Bahkan anggapan masyarakat yang menilai Pemkab lebih mementingkan jalan layang daripada jalan rusak di kampung-kampung sebagai persepsi yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ini bukan hanya kerja dalam bentuk fisik, seyogyanya juga dalam bentuk pembangunan pola pikir yang mesti diperhatikan.
Tanpa rasa menyesal saya juga ingin mengungkapkan kepada Bupati Pidie Jaya. Bahwa kehadiran elemen sipil dan tokoh masyarakat sebagai kontrol sosial jangan dianggap sebagai lawan. Kita menyadari, kepercayaaan masyarakat pada pemilihan tanggal 17 Desember 2009 adalah bagian dari komitmen membangun Pidie Jaya secara bersama.
Masyarakat menyadari, anggaran yang dimiliki Pemkab sebesar Rp 315 miliar dari APBK memang tidak bisa diandalkan untuk pembangunan menyeluruh. Apalagi dana tersebut sudah terkuras 75 persen untuk biaya tidak langsung dan biaya rutin. Masyarakat sadar pembangunan diperlukan bantuan hibah dan bantuan lainnya dari luar.
Untuk itu, pernyataan Bupati di media (Waspada Online, 16/10) yang berharap semua pihak terutama para mahasiwa jangan banyak berpolitik seharusnya tidak perlu dinyatakan, jika bupati menganggap politik sebagai bagian dari sebuah konsolidasi. Kesadaran ini tidak serta merta dapat dibangun tanpa pemahaman yang kuat dan keterlibatan partisipatif semua elemen masyarakat.
Jika saja melihat teori Manuel Castells (1983) dalam bukunya “The City and The Grass Roots,” justru lebih tajam untuk memahami gerakan sosial. Bahkan Castells menegaskan bahwa kota adalah sebagai kreasi warga. Maka apa yang menjadi kekhawatiran dan penafsiran masyarakat Pidie Jaya terhadap kebijakan pemerintah merupakan konsep atas penafsiran, sehingga terfokus pembangunan kota oleh penduduknya sendiri.
Kontoversi pembangunan jalan layang yang hanya 800 meter jangan sampai memecah konsentrasi dukungan masyarakat kepada pemerintah terpilih. Keterbukaan dan kejelasan pada setiap informasi menjadi penting dalam membangun tatanan sosial yang berkelanjutan. Tak berharap seperti dinasti yang otoriter tanpa melihat kepentingan yang lebih besar dalam ranah perpolitikan dan pembangun yang sedang digalakkan.
Belum lagi sisa dana sebesar Rp2,2 miliar dari total bantuan hibah sebesar Rp 15 miliar yang direncanakan untuk guest house--semacam rumah terima tamu—juga perlu pertimbangan yang bijaksana agar tidak menimbulkan persepsi negatif, yang kemudian dianggap bupati lebih mementingkan tempat terima tamu ketimbang rumah korban konflik.
Sehingga kebijakan apapun yang diambil demi kemakmuran dan ksejahteraan rakyat tidak terus menerus menjadi jargon tanpa mampu dibuktikan dengan frame logika. Program pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan harus dimentahkan dalam program yang rasional dan dapat diukur, sehingga tidak menjadi utopia (cét langét).
Inilah yang perlu ditransformasikan ke dalam wacana masyarakat untuk berpikir kritis, tanpa menyuguhkan angin surga yang hanya sesaat terninabobokan. Kesadaran semua elemen sipil dan pemerintah Kabupaten Pidie Jaya perlu diperlihatkan secara berbeda. Karena masyarakat pada dasarnya mendukung setiap program yang jelas dan bisa diukur secara kasat mata.
Rekonstruksi jalan layang perlu, tapi rekonstruksi pemikiran pasca pemilihan dan pasca konflik jauh lebih perlu. Ini menjadi harapan ke depan agar pemerintah Pidie Jaya tidak ditinggalkan di tengah jalan hanya karena egoisme dalam pengambilan kebijakan. Terapkan koordinasi dan jadikan masyarakat sebagai kotrol kemajuan yang sedang dilakukan bertahap.
Tak hanya sekadar jalan layang, unsur lainnya juga perlu dipertimbangkan untuk memajukan sebuah daerah. Lihat saja seperti apa yang dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Ramli Daud SH MM (Serambi Indonesia, Rabu 14/10), soal masih adanya 50 persen pejabat eselon II Pidie Jaya yang masih tinggal di luar daerah. Jika ini terjadi, bukan hanya pelayanan publik bisa terganggu, tetapi perputaran uang yang juga tidak menguntungkan masyarakat setempat.
Kini masyarakat menunggu kebijakan apapun dalam memajukan kabupaten yang dikenal lumbung padi tersebut. Tanpa dibumbui banyak unsur kepentingan, tanpa rasa takut demi kepentingan publik, dan tentunya perlu ide yang brilian yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa euforia. Jalan layang jangan sampai menghancurkan konstruksi pemikiran dan melayangnya dukungan masyarakat . Semoga!

*) Tulisan ini pernah dimuat di halaman Opini Koran Harian Aceh
*) Direktur Center for Humanitarian and Social Empowerment (CHSE) Aceh.


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (3)

Oleh Andi Firdaus

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin


Dua malam yang lalu, ocehan demi ocehan telah Aku tulis. Tak berharap apapun dari tulisan sebelumnya. Ini malam ketiga setelah dua tulisan sebelumnya Aku rangkai perlahan dengan maksud tak menyinggung perasaan. Ya!

Malam ini—saat tulisan kecil sedang tertoreh—adalah malam menyambut hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Pertanda malam ini merupakan kemenangan bagi orang-orang yang sudah menjalankan ibadah puasa. Bagaimana yang tidak? Aku tak membahasnya di tulisan ini. Maaf!

Dari lantai dua sebuah ruko, dalam kamar ukuran 3x4 sederhana, Aku berada di depan netbook mungil yang Aku beli bukan hasil korupsi. Ini jelas-jelas netbook bermerk Acer hasil keringat yang Aku kumpulkan sejak enam bulan silam. Untung Aku membelinya sudah dilengkapi fasilitas 3G.

Sambil layarnya Aku pandang, gaduh suara motor, mobil, kumandang takbir dan suara marcon—mengingat kembali letusan senjata saat Aku berada dalam kontak senjata di Bireun antara tentara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—masuk ke telinga. Tapi kenangan suara letusan senjata kubiarkan berlalu.

Pikiranku ingin mengoceh dalam malam-malam menjelang Idul Fitri. Aku tak bermaksud mencela dengan ocehan gelisah dan sakit hati. Hanya sekadar ingin mengoceh agar suara batin tertera di atas kertas microsoft office word di layar netbook. Itu saja, tidak lebih.

Masih di depan layar, tanpa menggunakan baju, kubiarkan saja kulit badan terlihat terang. Rasa ingin keluar menyemarakkan suasana jelang lebaran Aku urungkan. Tak berselera jalan-jalan, apalagi meng-eforia-kan keadaan lantaran pikiran dan kondisi badan lelah setelah seharian tidur pulas.

Hanphone Nexian seharga 1,2 juta produk lokal—bukan karena cinta produk Indonesia, tapi memang harganya murah akibat kondisi keuangan menurun—tidak berhenti berbunyi. Sort Service Message (SMS) hampir saja memakan memori yang hanya berukuran 500 MB lantaran ucapan selamat dan minta maaf. Aku senyum.

Mata kupandang layar netbook, jari terus bermain di atas huruf-huruf A, B dan C. Di lain kesempatan, Aku lihat juga layar Handphone yang berukuran 3 atau 4 cemtimeter saja. Pertanda ada pesan masuk yang aneka ragam. Ada pantun, ada juga mewakili organisasi dan bahkan mewakili dirinya sendiri. Intinya mohon maaf!

Di luar suasana semakin kacau akibat kenderaan roda dua dan empat tak beraturan. Polisi lalu lintas tak bisa bicara banyak. Simpang empat Keunire, Kota Sigli padat. Tak sepadat pengetahuan mereka mengetahui aturan lalu lintas. Ku vonis saja karena lampu merah, hijau dan kuning tak menjadi acuan berkenderaan. Oh malam yang hilang aturan!

Dari lantai dua, mata terus memandang suasana jalan. Ada rombongan yang sesak oleh orang-orang berpeci religius. Di atasnya suara Allahu Akbar berkumandang. Di samping jalan ada sepeda motor melaju pelan yang dikendarai oleh dua insan. Bercengkrama seakan kemenagan mereka rebut setelah puasa penuh sebulan. Ramai sekali!

Meski ramai, Aku tak terpengaruh untuk ikut jalan-jalan menghabiskan malam. Toko-toko diserbu pembeli baju baru. Benar-benar suasana yang belum tentu menang. Tapi otak dan benakku sedikit bermain. Memang Aku akui, bahwa Aku bukan orang suci dan sok baik yang berpikir tentang janda dan anak yatim yang lolos dari keceriaan malam lebaran ini.

Bahkan SMS rekan sejawat dari berbagai pelosok tak Aku reply akibat pulsa Simpati tak sempat terisi. Kawan yang dijanjikan bertemu pun tak kunjung datang dengan alasan diserang hujan lebat di sekitar Caleu, Kecamatan Indrajaya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.21 We-Ie-Be.

Lalu lalang pemuda dan pemudi seakan menyiratkan pesan; malam ini milik kita berdua, tak ada Wilayatul Hisbah (WH) mencegah. Malam yang benar-benar bebas melakukan kehendak. Bersenang-senanglah di saat mereka tak punya daya bertindak. Tak punya kuasa melarang. Teruskanlah! Ini malam lebaran.

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin (bersambung)


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (2)

Oleh Andi Firdaus

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan bisikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu dan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

***

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya, bukan karena menjelang lebaran tiba maupun suasana hati gembira. Malam ini adalah tanggal 19 September 2009, persis menjelang hiruk-pikuk pasar hewan menunggu suasana meugang ke-esokan harinya. Tapi bukan karena itu!

Pukul 20 kosong-kosong We-Ie-Be adalah yang pertama Aku mudik dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Sigli, Pidie. Menggunakan sepeda motor honda produk tahun 2006, perjalanan diguyur hujan sepanjang jalan menjadi hal yang belum pernah Aku lakukan dalam kurun empat tahun terakhir. Kondisi cuaca tak bersahabat Aku anggap sebagai pengalaman menjelang lebaran tiba.

Dua alenia di atas hanya sekadar gambaran bayangan. Tetapi ada sekilas bayangan pengalaman yang hendak Aku tulis sebagai renungan kekhawatiran. Dalam tikungan-tikungan hutan di kilometer 50 hingga sekian, dalam redup malam Aku dihadapkan pada jalan-jalan berlubang tanpa perhatian. Di saat perlawanan gencar disuarakan, tak ada perhatian pembangunan dilakukan untuk alam-alam dan jalan-jalan.

Pengalaman pertama kata sebuah iklan memang menggoda. Tapi akankah pengalaman berkelok dalam gelap hutan negeri Antara dengan lobang-lobang di tengah jalan akan terus menjadi pengalaman? Atau dibiarkan saja menjadi perangsang warga di sana agar bernafsu menggugat, hingga syahwat mereka kuat untuk bersuara lantang.

Di pinggir-pinggir jalan ada bunga bermekar warna warni. Aku tak sempat mencium baunya, karena sibuk dengan lelucon dan obrolan kecil di atas sepeda motor tua (semoga tidak bagi mereka yang duduk di kursi terhormat). Sesekali terlihat terang wajah-wajah oleh sinar lampu pijar ukuran standar. Di bawahnya ada lelaki berselimut tebal, dan di sampingnya ada wajah berambut panjang. Dari harapan, tak ada yang diharapkan. Mungkin!

Wajahku tertutup kain songket pemberian sejawat setahun yang lalu. Duduk bersahaja di atas sepeda motor dengan dua bola mata terus memandang pinggiran sepanjang jalan negeri itu. Dalam diam, kebisuan, keluguan dan dinginnya hawa malam, Aku bertanya dengan mata hati. Mungkinkah, hati mereka akan terus begitu? Atau mereka keras ingin melawan untuk tetap tidak bersama kita. Aceh!

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan besikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu. Atau suaramu suatu saat digantikan dengan pembangunan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

Dalam sedang kupikirkan, sebuah mobil Inova--nomor polisi kelihatan remang-- melaju kencang melewati sepeda motor butut kami. Aku perkirakan kecepatan sekitar 60 Km/ jam. Namun kecepatan itu dapat memercikkan air di jalan hingga celana bawahku sedikit basah. Dalam gelap malam itu, pikiranku kembali tertuju ke penghuni di dalam mbil tanpa nurani.

"Begini jika menjadi orang miskin, basah di guyur hujan ditambah basah oleh keangkuhan pemilik modal," pikirku sekejab dalam hati. Atau keangkuhan di negeri ini bukan hanya dalam kontek kelas sosial yang memang sudah jauh tertinggal, namun keangkuhan pemilik modal yang mencoba memperkosa kekayaan hutan-hutan, hingga longsor menjadi kekhawatiran di saat kami dalam perjalan.

Mungkin mereka ikut mudik, buru-buru agar secepatnya bertemu keluarga sebab hari raya lusa. Mereka mungkin ingin minta maaf pada orang tua, sanak famili, keluarga bahkan tetangga. Aku juga berpikir sebentar saja, tak adakah yang minta maaf pada alam yang telah mereka perkosa? Minta maaf pada wajah-wajah tanpa dosa yang terus bergelut dengan pemiskinan hampir di setiap pelosok desa. tak ada! (Bersambung)



OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (1)

Oleh: Andi Firdaus

Malam ini kesekian kalinya Aku kembali menulis setelah hampir enam bulan absen. Aku juga bukan penulis murung yang selalu bergelut dengan kritikan kebijakan. Apalagi membenarkan yang salah dalam kasus tertentu. Sekadar meruahkan kegelisahan pada diri sendiri, maka tulisan ini tidak terpaksa Aku tulis. Dengan iklas dan sedikit senyum Aku mencoba merangkai lagi kalimat dengan harapan tidak panjang-panjang.

Menurunkan ide melalui jemari di atas keybord komputer memang sulit. Mengingatkan kembali pada pelatihan jurnalistik dasar ketika masih kuliah. Penulis pemula memang susah mengawali tulisan, tapi sulit pula mencari ending. Terkadang tidak sedikit tersesat hingga tulisan menjadi gado-gado. Aku juga tidak mengerti bagimana seseorang menilai tulisan itu bagus atau tidak. Apakah karena ide, cara tulisnya, penggunaan kata, mengatur kalimat atau bertabur bahasa istilah.

Tapi Aku tak ingin berlama-lama berpikir tentang itu. Jam sudah menunjukkan pukul kosong tiga we-ie-be. Segelas kopi hitam buatan sendiri tinggal sekitar satu sentimeter. Sekali teguk kopi, sekali pula bayangan pikiran mengarak ke petani kopi yang tergilas oleh arogansi pengusaha bermodal besar. Sekali pula kadang terbayang pemberontakan. Tapi ini ide gila menyuruh orang berontak dalam jaman kekinian yang notabenenya damai.

Bicara pemberontakan, mengingatkan kembali era dua ribu delapan. Era mistis dengan penonjolan heroisme atas ketidakadilan. Tak tahu kenapa ada rasa bangga jika dicap sebagai provokator dan lain sebagainya. Era memaksa dan meminta orang-orang untuk melawan yang kemudian dianggap sebagai pahlawan. Namun itu dulu ketika mimpi dan harapan belum ditukar dengan hotel mewah dan gedung-gedung terhormat.

Bergesa-gesa Aku tolehkan pikiran ke hal lain. Aku tidak berprasangka karena takut dianggap barisan sakit hati, atau lebih parahnya dianggap barisan tidak punya kesempatan. Biarkan waktu berlabuh, karena suatu saat akan menjadi kenyataan, sebab setiap era ada kelahiran-kelahiran tokoh dan intelektual baru. Mungkin inilah jaman yang melahirkan.

Aku kembali meneguk sedikit kopi dingin yang dipengaruhi hawa dingin tengah malam. Tapi yang namanya pikiran kembali berpikir, kenapa gelas kopi ini pun didatangkan dari luar tanah kelahiranku, Aceh. Pikiranku yang goblok!

Jemari melengking pelan di atas keybord. Mata terbelalak menancap layar komputer ukuran sepuluh inci. Kali ini pandanganku hanya berjarak sekitar dua puluh centimeter dengan layar yang penuh tulisan artikel tentang ke-acehan. Tulisan yang ditulis oleh pemikir-pemikir masa depan Aceh. Mereka banyak tahu soal konflik Aceh, bahkan apa yang akan terjadi di Aceh ke depan. Aceh baru.

Berbeda dengan Tuan Ramli di pelosok desa yang terisolir akibat ketiadaan informasi. Jangankan internet, membaca koran saja harus merangkak dengan jalan berbatu dua kilometer ke pusat kecamatan. Belum lagi yang disampaikan koran soal serimonial pejabat, kucuran dana untuk Aceh, pelantikan anggota dewan terpilih dan korupsi yang meredam. Ini jelas membuat Tuan Ramli tak perlu tahu.

Nek Halimah, janda tua berumur 50 tahun tidak berbeda dengan Tuan Ramli. Janda yang berharap rumahnya bukan dari dinding rumbia itu terus meratap sedih. Ratapan yang sudah dilaluinya 20 tahun lalu akibat sang kekasihnya (Suami) ditembak membabi buta di depan mata oleh orang berbaju loreng. Malam itu, tak seorang pun yang kenal identitas mereka. Jika pun tahu, pura-pura bodoh lebih baik.

Maaf, tulisan ini berputar-putar seperti gado-gado. Kalau redaktur media menilai, tulisan ini tidak fokus, tidak langsung pada inti apa yang ingin disampaikan, tidak menyentuh pembaca dan bahkan sering dianggap tidak layak jual dan bukan kebutuhan publik. Saya juga bosan dengan penilain media seperti itu, tapi apa hendak dikata cakap orang seberang.

Jika Aku sebagai tokoh politik dan pejabat teras, maka akan kusampaikan informasi nina bobo sebagai redam kekecewaaan Tuan Ramli dan Nek Halimah begini; Aceh kini mendapat subsidi dana minyak dan Gas, bahkan Aceh ke depan akan mendapat sekian persen hasil APBN. Jadi jumlahnya sekian triliun rupiah dan sekian dolar Amerika Serikat.

Bagaimana jika Saya sebagai elit politik? Apa yang perlu kusampaikan di media agar rakyat tahu Aku sebagai pembelanya dan sebagai tokohnya? Akan Aku sampaikan begini, “Pemerintah Aceh tak mengerti melakukan pemberantasan kemiskinan. Serapan dana saja tidak mampu menaikkan persentasi. Memang pemerintah Aceh bodoh!”. Padahal Aku asal cuap-cuap.

Bagaimana jika Aku menjadi pemimpin redaksi sebuah koran? Itu gampang! Tinggal perintahkan redaktur media untuk menulis judul bombastis yang kontroversi. Soal isi belakangan. Contohnya? LSM Tuding Pemerintah Aceh Gagal. Itu judulnya, meski isinya hanya kegagalan soal kecil. Atau begini; Dana Eks Kombatan Disunat!

Kini bukan gelas kopi yang ku angkat. Sebatang rokok perlahan Aku keluarkan dari bungkus kemudian sebuah korek warna-warni kupercikkan api hingga si api biru keluar dari lobangnya. Sambil Api kupandang, semakin hilang rasa optimisku terhadap PT Arun LNG. Sepuluh tahun lagi dia akan berlalu? Jika benar, kemana akan dipandahkan? Apalagi yang dapat dibanggakan Aceh? Jika pun ada, apa pentingnya untuk kesejahteraan kita! Cukup bertanya. (Bersambung)



Pemimpin dan Demokrasi

Oleh: Andi Firdaus

REFORMASI politik di Indonesia telah berlangsung lama. Ini terjadi akibat bangkitnya gerakan mahasiswa pada tahun 1998. Pasca-reformasi itu pula, segudang harap dinanti-nanti oleh ratusan juta penduduk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Menanti yang tak lain adalah perubahan dalam berbagai sektor. Hukum, politik, sosial dan tentunya bidang ekonomi.

Reformasi menuju demokrasi bukan hanya sekadar euforia petinggi dan elit politik di negeri seribu pulau ini. Jauh dari itu, demokrasi yang diinginkan adalah bagaimana menjadikan nilai demokrasi itu sendiri bagian yang tak terpisahkan untuk aplikasi kejujuran yang substansial, bukan symbol semata-mata.

Mari sejenak merenung realitas kekinian situasi demokrasi yang kini sedang berjalan. Atau sejenak melihat barometer yang notabenenya menjadi penting untuk dijalankan demi jutaan rakyat yang masih berharap-harap cemas. Karena cemas terhadap perubahan yang stagnan, sehingga menimbulkan apatisme rakyat di berbagai pelosok desa di Indonesia.

Misalnya, kita bisa menelisik sistem pertanggungjawaban publik sebagai fondasi good governance. Karena sebelumnya, sistem hukum yang lemah mengakibatkan negeri ini selalu meninggalkan sejarah kelam. Hingga meninggalkan pesimisme dalam setiap memori kepada, bahwa pemerintah tidak serius melakukan tindakan penegakan hukum, terutama bagi pelaku korupsi.

Menghilangkan rasa pesimis rakyat adalah tugas berat pemimpin di negeri yang sangat plural ini. Tugas yang tak bisa diremehkan untuk menancapkan kepada jutaan kepala penduduk bahwa, pemerintah serius menegakkan hukum. Termasuk membangun institusional, baik secara politik, ekonomi, hukum dan birokrasi di level pemerintah itu sendiri.

Bagaimana dari aspek hukum? Tentunya juga perlu perangkat hukum dan lembaga pengawasan yang ketat. Dalam hal ini, pemerintah dituntut berani dan mandiri dalam melakukan pengawasan yang konsisten, dan konsistensi penegakan hukum harus dibuktikan dengan nyata.

Selain itu, responsibility yang merupakan kepekaan menangkap aspirasi masyarakat secara luas. Ada banyak aspirasi dari berbagai daerah di Indonesia yang belum selesai. Kemudian melahirkan Pekerjaan Rumah (PR) yang menjadi duri dalam menjalankan roda pemerintahan di Indonesia. Sebut saja, aspirasi ratusan korban pelanggaran HAM ketika Aceh dilanda konflik dan tuntutan keadilan dari rakyat Papua.

Mengingat ada banyak kelemahan pada masa sebelumnya, maka pemimpin harus mengupayakan sistem peradilan yang kuat dengan melakukan perubahan pada administrasi, meningkatkan kemampuan pada lembaga perwakilan rakyat serta adanya pendidikan hukum lanjutan dan pengujian berkenaan disiplin profesi hukum itu sendiri.

Kalau dari sisi politik, jika kita ingin melihat liberalisasi politik awal ini, maka tidak selalu berhasil oleh sebuah pemilu untuk membentuk pemerintahan baru yang kemudian masuk ke masa transisi. Sehingga tak ada garansi bahwa masa transisi tersebut berhasil mengantar kita ke suatu pencapaian untuk melakukan konsolidasi demokrasi.

Dalam mewujudkan itu maka pemimpin pemerintah perlu melakukan langkah yang tepat. Termasuk menyiapkan peluang demokratisasi dan menutup ruang otoritarian. Sehingga pada masa transisi ini ada tabiat baru dalam kehidupan masyarakat. Secara politik juga bagaimana membentuk masyarakat yang terus menjadi control atas kebijakan pemerintah.

Karena tanpa pelibatan partisipatif masyarakat mewujudkan good governance di era demokrasi, maka membangun Indonesia jauh dari harapan. Jika transparansi terus dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai control social, maka konsolidasi demokrasi untuk sebuah wacana membangun Indonesia bukan sebuah euforia.

Kita berharap, era demokrasi ini benar-benar menjadi era baru dalam penegakan hukum yang adil terhadap masyarakat, pengembalian sumber daya manusia yang handal, penyaringan aspirasi masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan, pelayanan publik yang professional serta penegakan hukum secara adil. Hingga Indonesia menjadi daerah dengan sistem good governace yang selalu dibanggakan.






LUKA BELUM SELESAI

Oleh: Andi Firdaus

Bang Mus pernah menjadi satpam di hotel Renggali, Takengen, Aceh Tengah tahun 1990. Badannya masih kekar. Kumisnya tebal dan lebat. Rambut cepak. Selembar foto masih terpampang di dinding berkayu lapuk. Saya mengamati foto dalam bingkai itu penuh tanya. Masih atletis, janggung dan gagah.

LANCOK adalah desa seperti kebanyakan dusun di Aceh. Ada rumah sekolah, meunasah, kedai kopi, dan hilir mudik para penggarap sawah yang lalu lalang. Kehidupan masyarakat berjalan seiring berjalannya waktu. Lancok masih berada Kecamatan Bandar Baru, Pidie.

Selebihnya empat desa tetangga, Lancok Mesjid, Sawang, Lancok Baroh dan desa Manyang. Jaraknya dengan kota Kecamatan Bandar Baru, sekitar 3 kilometer.

Jika menuju desa itu, kita dihadapkan pada bentangan sawah dan pemandangan petani sedang menggarap sawah. Ada lembu sedang membajak, perempuan menanam padi, burung-burung berkicau, juga anak-anak lari tanpa baju. Benar-benar suasana desa.

Dari kelima desa, Lancok terbilang beda. Di desa ini Mustafa menghabiskan hari-hari bersama warga lain. Pembawaannya santai, bersahaja dan ramah.

Tak ada pertengkaran dengan tetangga meski hidupnya sudah puluhan tahun. Siang itu penampilannya sederhana. Memakai baju putih abu-abu layaknya lelaki seusianya. Meski penampilan sederhana, tapi tak jarang senyumnya yang istimewa.

Jika senyum, gigi berkarat. Pecandu rokok. Matanya sebelah kanan kecil, hidungnya bergores bagai disayat pisau. Kulit hitam, matanya lembam. Orang-orang Lancok memanggilnya Bang Mus.

Lebih akrab. ”Nama lengkap Mustafa Usman,” Katanya sambil mengeluarkan senyum.
Mustafa dilahirkan pada 12 Januari 1970. Usianya kini memasuki 38 tahun. Pertemuan saya dengannya berlangsung sederhana. Di atas tikar ukuran 3x3 kami duduk. Kaki terlipat dan saling berhadapan.

Di samping kanan terletak satu kursi papan warna dasar kayu. Tak ada cat warna-warni layakya rumah warga lain. Ada meja kecil di sebelah kanan tak beraturan. Di atas kepala kami ada tali, penuh dengan sangkutan kain.

Celana dalam, baju putih pendek dan kebayak warna biru. Semua kotor kena lumpur. “Ini lah rumah kami apa-adanya,” sambil tangannya memegang sebatang rokok siap dihisap. Kami duduk dengan obrolan santai. Bersila tikar pandan, di atas serambi rumah.

Mustafa menghabiskan separuh usianya di rumah yang masih berarsitektur ke-Aceh-an. Atapnya rumbia. Di depan rumah terlihat kandang lembu, dan sebatang pohon jambu. Benar-benar bukan tata ruang yang bagus, apik. Apa adanya. Bukan pemandangan indah memang. Dari sudut kesehatan lingkungan juga tak elok.

Jika di depan rumah ada kandang lembu dan taiknya berserakan. “Kesehatan lingkungan perlu diperhatikan agar penyakit tak mudah menyerang,” kata perawat kesehatan, Anita yang baru dua tahun menikah dengan pemuda setempat.

Senin siang, 3 Februari 2008 saya bertemu dengan laki-laki biasa, bukan artis yang beritanya sering menghiasi halaman media, meski berita tak berbobot, penuh gosip dan bahkan soal foya-foya selebriti di hotel mewah. Untung saja Mustafa tak nonton acara TV semacam cek dan ricek, kasak-kusuk dan bibir. Mustafa seumur hidupnya belum pernah masuk surat kabar, apalagi televisi.

Tak ada wartawan yang datang ke pelosok desa tempat ia tinggal, meski hanya sekadar wawancara singkat, bukan eklusif. Tak ada media elektronik bertemu dengan Mustafa, meski hanya merekam sekilas gambar wajahnya yang tua, bersahaja.

Sama sekali belum ada. ”Wartawan jino le beurita peujabat dum, asai haba pejabat di tameng koran (wartawan sekarang banyak berita pejabat, kalau kata-kata pejabat masuk koran),’ Bang Mus coba menyentil. Keinginan saya berjumpa dengan Bang Mus seharusnya sudah kulakukan lima tahun silam. Meski profesi saya sebagai wartawan freelance.

Namun, ketika itu Aceh dalam situasi konflik. Perang. Ini berawal ketika pada Senin pukul 00.00 Wib, 19 Mei 2003 pemerintah Indonesia mengumumkan status darurat militer. Bahaya bagi keselamatan saya jika lalu lalang di pelosok-pelosok desa ketika itu. Pengumuman itu tak terkecuali berimbas ke desa Lancok. Desa di mana Mustafa tinggal dalam kondisi tubuhnya yang lusuh.

Di sebuah rumah Aceh yang tak tertata dengan rapi, apik dan semak. Lorong menuju rumah Mustafa juga tak mudah masuk bagi setiap orang. Pandangan mata orang was-was. Tamu yang datang tak sedikit yang di plototin. Curiga.

Sejak Lancok berada di bawah status darurat militer seperti desa-desa lainya di Aceh, sepertinya warga sudah memahami ilmu kecurigaan. Bak ada pelatihan curiga yang diberikan sebelumnya. Setiap tamu yang masuk akan dicurigai dengan spontanitas. Apalagi tamu yang baru pertama sekali mengunjungi ke desa tersebut.

Di samping Bang Mus duduk seorang pria, rambut gondrong, tingginya sekitar 170 cm, kulit putih, badannya tegap. “Susah bila konflik, untung ada damai,” kata Muzakir pemuda desa setempat setengah berharap agar damai terus membumi di Aceh. Kecurigaan warga pada tamu bukan tak beralasan.

Banyak kejadian di depan mata, terus lengket di kepala pemuda dan warga hingga kini. “Kami masih ingat,” kata pemuda berusia 29 tahun singkat. Tahun 1990 ketika Aceh berada di bawah payung Daerah Operasi Militer (DOM) misalnya, sesosok mayat ditemukan warga persis di atas badan jalan menuju arah kota Kecamatan Bandar Baru. Tepatnya di depan pabrik pengolah padi milik Muhammad (50). Tak ada yang melihat di malam buta itu.

Paginya, seorang pria tergeletak tanpa identitas. “Semua warga tau, dulu ditemukan mayat di sana,” jelas Zakir sambil tangannya menunjuk ke arah pabrik yang dulunya sempat menghebohkan warga sekitar. Mayat tersebut ditemukan warga tanpa identitas. “Yang jelas bukan orang dari kampung ini,” Zakir meyakinkan saya ketika kami minum kopi bersama di desa itu.

Bagi anak muda, tinggal di kampung tanpa pekerjaan merupakan ketakutan tersendiri. ”Saya pergi ke Malaysia, cari kerja,” kata bang Mus seraya menjelaskan bahwa kepergiaanya ke negeri jiran untuk menghindari konflik.

Lima tahun Bang Mus melalang buana di negeri mantan perdana menteri Muhazir Muhammad. ”Bang Mus merantau ke negeri orang gak pulang-pulang,” kata Zakir. ”Nanggroe teh Kir (negeri mana Kir)?” Jawab Bang Mus sambil wajahnya menoreh Zakir.

”Kalau jadi anak muda jangan mau tahan sepatu pa’i (Sebutan untuk tentara pemeritah Indonesia) di kampung,” sindirnya lagi.

Sebelum ke malaysia, Bang Mus pernah menjadi satpan di hotel renggali, Takengen, Aceh Tengah tahun 1990. Badannya masih kekar. Kumisnya tebal dan lebat. Rambut cepak. Selembar foto masih terpampang di dinding berkayu lapuk.

Saya mengamati foto dalam bingkai itu penuh tanya. Foto Bang Mus atletis, jangkung. ”Itu foto tahun 90-an saat saya masih menjadi pengaman hotel,” jari tangan menunjuk tepat ke arah wajahnya.

”Foto ini di depan hotel Renggali,” tuturnya semangat.

MUSTAFA kini sendiri. Bukan seperti dulu gagah dan tegar. Tak banyak yang tahu Mustafa anggota Gerakan Aceh Merdeka. Pada tahun 90-an, sebutannya masih AM (Aceh merdeka), ia bergabung di Malaysia.

”Kami dulu mendengar saja Mus anggota Aceh Merdeka, tapi tak pernah jumpa,” sebut Rusyidah Ahmad (35) tetangga Mus di lain waktu kepada saya.

Perjuangan Mus di negeri jiran bukan tak ada tantangan. Mus harus lari bersembunyi dari kejaran polisi Malaysia, karena dianggap sebagai pendatang haram. Tapi tak jarang juga tertangkap akhirnya menjalani hukuman di penjara Malaysia.

”Kena tangkap sangat banyak, paling tiga bulan kemudian lepas,” dengan bangga Bang Mus bercerita. Hampir jutaan orang Aceh punya mimpi ketika itu. ”Bangsa Aceh ingin merdeka dari pemerintah Indon,” ketus Bang Mus sambil kedua tangannya sibuk memperbaiki sandal jepit.

Zakir tersenyum. ”Aceh merdeka tinggal mimpi Bang Mus,” jawab Zakir spontan. ”Perjuangan masih panjang,” timpalnya lagi. Pembicaraan berhenti. Zakir menadahkan wajahnya ke langit. ”Tarek rukok-rokok dile (Hisap rokok dulu),” gudang garam merah dia sodorkan.

Ekonomi Bang Mus payah, tak ada pekerjaan tetap. ”Rukok nyoe ata gob bie (rokok ini pemberian orang),” logat Acehnya kental. Sulit merubah ideologi merdeka yang sudah tertanam di kepada Bang Mus sejak puluhan tahun. Ia juga korban penyiksaan.

Masih ingat dalam kepala hampir jutaan rakyat Aceh, ketika pemukulan orang-orang Aceh di negeri jiran. Bang Mus salah satu dari sekian ribu orang yang hampir mati disiksa. Camp tahanan Semenyih, Port Klang, Kuala Lumpur pagi sekitar pukul 05.00. Bang Mus masih lelap tidur. Berbantal lengan, berkasur lantai dari semen.

“Doorr…dorrr,” suara tembakan membangunkannya. “Tahanan lari tak menentu arah,” sambungnya. Dalam sekejab Bang Mus disiksa, dipukul, ditendang hingga badannya seperti mayat.

Tragedi yang merengut nyawa ratusan orang Aceh mati tak beralasan. Selebihnya 45 ribu lebih warga Aceh dan pencari suaka panik. Begitu data sementara yang dikeluarkan konsul RI di Malaysia. Peristiwa Semenyih, 26 Maret 1998 adalah tragedy

menghentakkan dunia Internasional. Tak tanggung-tanggung, organisasi Solidaritas Perempuan (SP) menghimbau kepada lembaga seperti ILO, UNHCR, ICRC, Komisi HAM PBB untuk menyelenggarakan aksi bantuan kemanusiaan. Menurut Bang Mus, para tahanan saat itu diperlakukan tidak manusiawi.

Diperlakukan seperti binatang, dihina dan disiksa. “Kami dikasih racun oleh penjaga penjara,” katanya. Alasan tersebut membuat tahanan tak tahan diperlakukan layaknya binatang.

“Kami masih punya harga diri, kami manusia,” lanjut Bang Mus sambil wajahnya menoleh ke Zakir.

“Kami lawan,” suaranya sedikit tinggi. “Phet that Kir (Pahit sekali Kir),” dengan nada serak Bang Mus mengeluarkan kata.

“Popor senjata mengena ke wajah dan mata saya. Kami diserang pada malam gelap saat kami sedang lelap tidur.

Suara tembakan terdengar di mana-mana, kami kocar-kacir,” pelan-pelan Bang Mus memegang wajahnya. “Aneuk mata teuset u lua (Biji mata keluar),”

“Ini contoh penyiksaan,” jari telunjuknya mengarah ke mata sebelah kiri.

“Saya pingsan tak sadarkan diri,” kepalanya menggeleng-geleng.

Tak hanya camp Semenyih ratusan orang mati dan ribuan lainnya cedera. Machap, Umbo dan camp Langgeng juga terjadi insiden yang sama. Para tahanan tak berdaya. Bukan hanya pendatang haram (ilegal) merasakan penyiksaan, pencari suaka politik semacam Bang Mus juga ikut menjadi sasaran kekerasan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Suara Rakyat Malaysia (SUARAM) menggugah prihatin. Mereka mendesak kerajaan menghentikan pendekatan kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap imigran Indonesia dan pencari suaka di Malaysia.

Selain itu, LSM juga meminta agar segera mengumumkan nama-nama korban yang tewas dalam kejadian di Semenyih, Machap, Umboo dan Lenggeng.

Demikian siaran pers yang dikirim kepada pemerintah Malaysia dan Indonesia melalui seruan solidaritas Internasional untuk perlindungan Hak Asasi Imigran Indonesia di Malaysia, 22 April 1998.

“Muka saya berdarah, kaki patah, mata tak bisa melihat apapun,”

“Terus….terus,” saya mencoba bertanya.

“Supot supeut hana kuthe droe kuh (gelap tanpa sadar diri),” sebutnya sambil menarik asap rokok dalam-dalam. Menggunakan kapal TNI angkatan laut, bang Mus dipulangkan dalam kondisi tak berdaya.

Tubuhnya tak bergerak. Warga menanti kedatangan bang Mus. Isak tangis tak tertahankan. “Bang Mus seperti mayat,” kata Rusyidah. “Dia hidup tapi tidak bisa berbuat apapun, hanya terbaring di ranjang ,” sambungnya lagi.

15 AGUSTUS 2005, secercah harapan datang. Tsunami 26 Desember 2004 menggugah pihak bertikai bicara damai. Bermil-mil dari Lancok, Kota dingin Helsinki menjadi pembicaraan mewujudkan perdamaian. Ada pertimbangan kemanusiaan di balik perlawanan yang digencarkan lebih 30 tahun.

Rekonstruksi, rehabilitasi, reintegrasi, rekonsiliasi adalah agenda diantara segudang agenda lainnya. Korban konflik menjadi bagian terpenting mewujudkan damai permanen. Jika Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh berperan mengurus korban tsunami, maka Badan Reintegrasi Aceh (BRA) ditujukan untuk korban konflik.

Bang Mus korban nyata yang bisa dilihat dengan mata kepala. Tak perlu riset, penyelidikan, atau pembuktian jenis apapun. Jalannya pincang, matanya buta. Tak memiliki pekerjaan karena fisiknya tak tahan.

“Hek that bantuan lawet njoo (susah dapat bantuan),” dia sambil bergurau.
“Datang saja ke BRA,” saran saya.

“Ke BRA?” wajahnya memperlihatkan ketidakpercayaan.

“Saya tak bisa buat proposal, kalau dikasih saya ambil,” ungkapnya.

Cerita bang Mus, dirinya pernah ke Dinas Sosial Kabupaten Pidie tak terhitung jumlahnya, apalagi ke BRA. Jika ada informasi pengobatan gratis, baik dari LSM lokal maupun internasional, tak pernah ia sia-siakan. Siapa tahu nasib mujur berpihak padanya.

Tak banyak kepentingan, hanya sekadar biaya pengobatan sebelah matanya yang rabun, dan fisiknya yang cacat. Itu pun harus menunggu tanpa kepastian. “Begitulah,” nada pasrah dia keluarkan.

Hari-harinya berharap belas kasihan. Berharap dibayar secangkir kopi dan sebatang rokok sudah lumayan. Berharap banyak dari pemerintah bukan pekerjaan mudah. “Usaha sep that ka (Usaha sudah melebihi),” sebutnya.

Saya sempat berpikir lama. Berpikir apa yang diperbincangkan di Helsinki untuk korban seperti bang Mus. Bila bang Mus bagian yang terlupakan, bagaimana dengan ribuan korban yang lain? “Reintegrasi bukan untuknya?” batinku.

Juni 2008 Bang Mus tak bisa berbagi cerita lagi. Dari balik kaca mobile phone sore itu, sebuah Sort Service Message (SMS) memberi tanda; Andi, bang Mus meninggal.

Saya bergegas melayat ke rumah duka. Tepat pukul 12.00 WIB bang Mus disemayamkan dengan dihadiri warga desa setempat. Saya berada di belakang iringan jenazah menuju pemakaman terakhir. Menyiratkan saya pada cerita-cerita tentang kematian reintegrasi yang tak berpihak.

"Bang Mus meninggalkan luka yang belum selesai," bisik teman seperjuangannya.





Politik Apa Ma'in


Oleh: Andi Firdaus

Di sebuah warung, apa Ma’in menebar senyum. “Péu haba anéuk rantô,” celutuk sambil sebatang rokok ‘plat’ merah menyentuh bibirnya. Sudah kebiasaan sapaan ala kadarnya menyerang pemuda yang baru saja pulang dari rantau. Apa Ma’in kenal betul wajah dan gaya orang asing.


Apa Ma’in adalah penghuni tetap desa itu hampir 50 tahun. Maklum dia kenal betul siapa saja yang lewat di depannya. Tak jarang, sesangging senyum dilempar begitu saja. “Péu nacan di rantô, Ku déungê makmu,” sorot matanya menantang. Dia tak sekadar jeli melihat fasion dan orang asing, tapi kondisi politik juga tak dibiarkan lewat begitu saja.

Kebiasaan meukliép di satu tempat sudah seperti tradisi. Duduk di warung kopi untuk sekadar obrolan lepas memang biasa. Separuh kopi hitam ikut menghias meja di depannya. Meski jarum jam mendekati angka 2 siang itu, tak membuat Apa Ma’in beranjak dari kursi bambu panjang yang terlihat lapuk.

Geraknya ceria, santai bersahaja. Raut wajah tak memperlihatkan ia seorang yang sedang dirundung gelisah. Tak juga menampakkan khawatir. Jika pun ditanyakan soal politik kekinian, tanpa olah pikir pun Apa Ma’in spontan bisa menjawab. “Pulitek péu, ka 40 thön gampöng manténg lagé njöe (Politik apa, 40 desa masih seperti ini),” celutuknya

Perlahan dia angkat sarung. “Njöe ija krông manténg hana èk tablöe le (Kain sarung aja tak sanggup kita beli lagi),” pelan-pelan sarungnya dirunkan kembali. Celoteh soal pembangunan siapa saja boleh. Bicara péumakmu gampông hampir setiap hari di televisi. Apalagi ini zaman caleg-caleg tahun 2009 mendatang. “Ken caleg, tapi celeng,” maksudnya semacam celeng yang bisa kumpulkan uang bayak.

Celeng Masjid, celang anak yatim, rumah dhuafa, dan bahkan celeng korban cacat dan sebagainya. Bicara soal celeng, Apa Ma’in punya cara dan pola pikir tersendiri. “Méukesud Apa Ma’in péu?” karena penasaran saya ikut komentar juga. “Nyan hana katéupu! Rugo kajak sikula panyang,” helanya.

Kamu kan bisa lihat betapa banyak celeng-celeng muncul menjelang tahun 2009 mendatang. Mereka sudah tentu dan pasti menjadi celeng, bukan caleg. Karena setelah mereka jadi celeng benaran, pasti akan dikumpulkan uang pembangunan Masjid, uang korban konflik, uang kaum dhuafa, untuk dikumpulkan dalam satu celeng. Ditabung!

Apa Ma’in hanya korban positif atas analisanya sendiri dengan melihat lakon para elite. Perdebatan di desa-desa menjadi apatisme tersendiri melihat karakter pemimpin. Mereka tak pandai berdebat, tapi mereka lebih pintar berdialektika dengan realitas apa yang menjadi nyata di depan mata. Percaya tidak percaya, njöe kéu biet-biet!



KREATIVITAS

Oleh: Andi Firdaus

Setiap individu mempunyai cita-cita. Tapi mewujudkannya tanpa perjuangan merupakan sia-sia, alias cét langét. Perjuangan juga perlu didampingi pengorbanan tinggi. Kén cilét-cilét, jèut mèu kliép. Jika bukan begitu, maka kesuksesan jarang didapat dalam pemahaman standar.


Dari banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan, kreativitas adalah salah satu di antaranya, bahkan ia jarang ditemukan. Pun ditemukan maka perlu dihargai. Tak jarang seseorang bisa sukses karena dampak dari sebuah kreativitas.

Bila Anda menganggap bahwa kreativitas adalah bawaan, secepatnya bisa dihilangkan. Kreativitas atau kemampuan memecahkan masalah adalah usaha bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Latihan mental sebagai usaha awal mungkin diperlukan.

Menurut Dokter Harvey C.L, ada tiga jenis orang kreatif, mengumpulkan gagasan dan hal yang asing untuk dirancang kembali. Kemudian hal yang lama ditempatkan ke dalam hal yang baru. Mungkin ini sebuah proses menciptakan kreativitas.

Pada dasarnya setiap orang memiliki jiwa kreatif, namun tanpa latihan mengasah pola pikir dengan membangkitkan dialektika-dialektika, maka jiwa kreatif akan tenggelam. Dan orang lain tidak akan pernah bisa melihat dan menikmatinya.

Ide kreatif tidak akan lahir bila ketakutan lebih dulu menjadi momok yang bersarang di kepala kita. Sama sulitnya ketika menghargai kreativitas orang lain, meski lebih bermakna untuk bisa dirasakan secara bersama. Ini tentunya sedikit diberi penekanan kecil untuk mengacu kepada tujuan; Sukses.

Jika tekanan tanpa diringankan, maka yang datang justru rasa frustrasi atau mengalami hambatan tinggi. Karena orang kreatif bekerja pada kondisi dan lingkungan yang baik, atau pada situasi ‘dingin’, atau hubungan yang hangat.

Jadi, membangun kreativitas dari orang lain adalah bagaimana menjalin hubungan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Sehingga tercipta kreatif dari orang-orang itu secara pribadi-pribadi. Sebab, setiap individu adalah individu yang lain.
Menciptakan ide kreatif tidak semudah mengeluarkan ludah. Butuh bantuan banyak orang yang membela di saat sulit, membina hubungan secara formal bahkan memberi toleransi. Tak jarang pula menghargai aktivitas individu lainnya.

Jika pun gagal pada suatu saat, orang kreatif selalu akan bilang; Itu merupakan langkah awal untuk sukses, menciptakan kepercayaan diri dan yang penting adalah sebagai keleluasaan bergerak demi mencapai cita-cita.



BANGKIT

Oleh: Andi Firdaus

Malam merapat pada pukul 00.00 WIB. Badan terbaring di atas tikar lusuh ukuran seadanya. Hanya cukup untuk dua atau tiga orang saja. Tapi malam itu kami paksakan agar lima orang dapat berbaring melepaskan penat dan lelah.

Meski jam beranjak pagi, tak juga kutemukan mimpi seperti malam-malam sebelumnya. Menerawang hingga kerap pikiran berada pada kegundahan dan kegelisahan. Berpikir dengan logika kadang semakin rumit. Mengedepankan perasaan juga kerap melebar ke mana-mana.


Nafas kuhembuskan sembarangan. Wajah kuhadapkan ke dinding tanpa cat warna-warni. Tak ada perhiasan dan pernik layaknya rumah mewah. Hanya ada beberapa teman dengan perut kosong yang masih semangat bicara soal cinta.

Dalam keterbaringan kembali kupikirkan. Kenapa mereka mampu menaklukkan kekosongan perut dan kekeringan kantong dengan semangat dan keceriaan. Kenapa aku tak bisa seperti budak-budak itu?

Tapi gelisah tak memandang seberapa banyak uang di kantong, atau jabatan yang disandang di atas pundak. Tetapi gelisah datang di saat pikiran memaksa kita untuk memilih di antara banyak pilihan. Itulah tantangan ketika dihadapkan pada dilematis sebuah kondisi.

Pada malam sebelumnya, seorang kawan lama bersua kembali. Saya berusaha mengingat-ingat kata-katanya pada malam itu. Dia seorang teman dengan canda dan tawa lebar. Sekilas tidak terlihat resah. Apalagi raut wajahnya menampakkan gundah, meski miliaran proyek telah membuat dia rugi.

Malam itu, dia bicara soal semangat. Bicara soal masa depan dan kelicikan. Malam itu juga dia tak hentinya melahirkan ide-ide gerakan. Bahkan dia terus memperlihatkan sebagai dirinya sendiri. Bangkit!

Mungkin, ada banyak orang yang sedang dihadapkan pada situasi stagnan. Keadaan yang bagi sebagian orang tidak banyak memiliki pilihan. Dalam remang lampu, kucoba ingat kembali apa yang dia ucapkan malam itu. Inspirasi yang membuat mata dan pikiranku terpejam jelang pagi. ‘Di mana kau jatuh, di situ kau harus bangkit’.



BECERMIN

Oleh: Andi Firdaus

Kembali ke masa lalu. Mungkin di antara rekan-rekan masih ingat saat kuliah dulu. Kantuk yang tak bisa ditahan akibat dosen sering ceramah bertele-tele. Atau saat menghadiri pertemuan dengan big boss dengan segudang penjelasan yang bertele juga. Membosankan, karena materi yang disampaikan tidak berbobot. Padahal poin inti yang seharusnya dijelaskan tidak dituturkan dengan gamblang.

Tentu tidak ada yang menginginkan seperti itu. Pasalnya, gaya seperti itu bahkan secara psikologi dapat mengganggu pola berpikir yang bersih. Kerap justru akan menjadi sebaliknya dengan penuh kebosanan. Atau kembali becermin melihat diri kita sendiri, apakah gaya dan bicara kita juga sering menonjolkan diri dan bertele? Jika ya, sifat seperti itu dalam pergaulan dan lingkungan harus cepat dijauhkan. Karena di belakang, Anda akan ditertawakan.


Kedewasaan berpikir bukan dibuat-buat untuk terlihat dewasa dan intelektual. Ia akan datang dengan sendirinya untuk sebuah penilaian dan hasil yang terbaik. Orang bahkan kadang menilai bukan pada bicara, tapi kelahiran ide perubahan dalam berbagai konteks, brilian dan percaya diri. Ini butuh proses dan ‘jam terbang’ banyak agar tidak terpaku seperti kodok di bawah tempurung.

Atau mungkin kita termasuk orang yang sering mengulang pendapat yang sering dilontarkan sebelumnya. Ini juga membuat pendengar dan teman atau orang-orang di sekeliling kita menjadi bosan. Bahkan dalam meeting pun kerap mengulang saran atau pendapat dari teman yang lain. Jangan mengulang pendapat yang pernah diutarakan agar terhindar dari ketidakpercayaan intelektual Anda. Cari ide yang fresh, dan baru karena orang tidak akan mendengar ide yang diulang meski dalam ‘kemasan’ berbeda.

Jika Anda seorang penulis, tentu sering mengedit kata-kata yang dinilai lebih singkat dan mudah dimengerti. Seharusnya, gunakan juga dalam komunikasi bahasa verbal agar yang disampaikan dalam mengekspresikan ide tersampaikan dengan tepat. Bagaimana dengan bumbu lelucon? Hati-hati dengan gaya lucu yang ditampilkan walau tak seperti komedi terkenal.

Oh ya, tanpa sadar kita pun sering membuat orang lain jenuh, karena pembahasan dan percontohan sering diarahkan pada diri sendiri. Jika bekerja dalam tim, maka tonjolkan tim bukan individu. Penting becermin, agar di belakang Anda tidak menjadi bahan tertawa. Cerminan itu penting dalam pergaulan keseharian kita.




STAGNASI

Oleh: Andi Firdaus

Ada ungkapan nyentrik tidak bertele. Ada kalanya langkah terhenti oleh tindakan tersendiri dalam realitas. Di alam nyata, pengujian potensi diri sering terbentur oleh sebuah situasi. Potensi yang menuju kepada menguji kemampuan. Termasuk tindakan politik, gerakan sosial maupun komunikasi antar komunitas.

Proses itu tidak semudah menumpahkan segelas air atau mencabut sehelai rambut di kepala. Tetapi butuh perjuangan keras, pengorbanan, cinta, ketulusan bahkan butuh keyakinan penting. Jangan menganggap kerap seperti alur sungai tanpa bebatuan besar. Mengalir.


Kadang juga dalam pergulatan situasi seperti itu sering terbentur. Bahkan harus dan terpaksa berhenti di pertengahan akibat sebuah situasi yang terpaksa. Ini yang dinamakan stagnasi. Berhenti pada sebuah keadaan yang sulit menuju proses yang rumit.

Dalam kamus bahasa, stagnasi bisa diartikan sebagai keadaan yang berhenti, tidak bergerak, atau diam. Jika dibenturkan dalam realitas konteks Aceh, maka situasi politik yang stagnasi bisa jadi sebuah kendala pada cita-cita perubahan pascadamai. Atau bisa menjadi dilema pada situasi yang top.

Mungkin saja, stagnasi boleh disebut sebagai kemacetan jiwa. Saat sepeti ini ada rentan yang sangat dekat pada kemunduran. Rapuh dan mudah patah. Jika guncangan terjadi pada penghuninya, maka tak lama ia berhenti pada tujuan ekstremnya. Jika mengumpamakan cita-cita perubahan Aceh, maka akan terbentur yang kemudian menjadi mundur.

Dampak yang paling kontras adalah membiarkan kondisi tersebut. Jika kita ibaratkan Aceh, masih terlalu kekanak-kanakan karena masa transisi baru tiga tahun pasca-Helsinki. Dalam saat-saat sepeti ini, kebodohan, apatis, individualis semarak di mana-mana. Euforia muncul ke permukaan meski tak punya nilai.

Jika masa stagnasi ini berlaku, ada perlawanan yang seharusnya kita menjadi agent of change terhadap diri kita sendiri. Ini mungkin pergumulan wisata jiwa yang sedang bergentayangan mencari jati diri. Dan pada akhirnya harus sadar, bahwa keadaan yang statis, merupakan mundur ke belakang.

Aceh dalam realita yang bukan cet langet dengan segudang amunisi ide-de, notabene bergerak maju ke depan. Romantisme masa lalu mungkin sekadar cermin yang tak perlu diretakkan, apalagi dipecahkan. Cermin masa lalu sebagai background untuk menjadi senjata membunuh stagnasi. Maju!



RESISTENSI

Oleh: Andi Firdaus

Sekejab! Bukan vonis atas sebuah dilema realitas dalam kehidupan. Ada banyak hal menjadi barometer dari sebuah situasi. Misalnya, mengapa manusia alergi dengan perubahan? Mungkin jawabnya sederhana. Dalam kontek kekinian, manusia rasional ingin mempertahankan hidup.

Jawaban tak dibesar-besarkan. Bahkan alam sendiri mengajari makhluk hidup untuk dapat menghemat energi. Ular jarang bergerak bukan karena malas, tapi karena menghemat energi. Kura-kura malas mengeluarkan kepala karena ada saatnya energi digunakan pada waktu yang tepat.


Perubahan lingkungan, rumah dan pekerjaan, tentu menguras lebih banyak energi, bahkan perubahan diluar batas kemampuan dan batas toleransi dapat mengorbankan hal yang prinsip dan melanggar norma-norma yang berlaku. Pada dasarnya manusia juga sama dengan makhluk lainnya, tidak suka perubahan.

Secara alami manusia membuat ‘pola’ dalam tindakan, respon dan berpikir. Kebanyakan pola atau persepsi ini memang banyak menghemat energi. Sebagaimana kita tidak perlu mempertimbangkan, jika di pipi kita menempel seekor nyamuk, secara refleks kita ayunkan tangan untuk menampar pipi kita. Perubahan terhadap persepsi dan pola tindak, jelas kurang disukai karena kita harus memprogram ulang respon kita.

Sekarang jelas bahwa secara anatominya, resistensi terhadap perubahan adalah rasional dan seringkali juga tindakan pengamanan untuk ‘survive’, meskipun seringkali resistensi juga menghambat kemajuan budaya manusia. Perlu sebuah jawaban dari pertanyaan bagaimana seharusnya ‘melawan’ resistensi?

Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar ‘tidak ikut’, apatis, sampai pada aksi ‘perlawanan’, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan individu/komunitas yang resisten. Sikap resisten akan terlihat jelas apabila program transformasi diwujudkan, ada yang bersikap mencoba mencari titik lemah dari transformasi tersebut ataupun berusaha menjauhinya.

Jika begini maka manusia adalah bagian dari keingin individu yang selalu mencoba untuk tidak ingin berubah. Lantasan secara global menjadi sering ditanykan kepada banyak orang. Apakah perubahan itu datangnya dari luar? Atau dari dalam. Memungkinkan untuk dijawab secara rasional, bukan karena refleksi dari sebuah keadaan atau lingkungan.



TOPENG

Oleh: Andi Firdaus

Bermain-main dengan topeng. Wah, permainan ini menyadarkan kembali masa kecilku setelah lama terlupakan begitu saja. Kesadaran menghayati kekanak-kanakan bangkit saat membaca tulisan seorang teman di ruangan péh tém. Memang unik!

Saya mencoba merenung kembali permainan itu. Permainan penuh canda dan tawa hingga lupa pada waktu. Peran-peran yang kucoba renungkan kembali meski aku sendiri tak ingat. Peran yang kulakonkan menjadi sirna dalam memori kepala.


Topeng masa kecil tak banyak polemik dan intrik. Benar-benar hanya sekadar topeng menyembunyikan keaslian, bukan menyembunyikan kepalsuan. Topeng kemunafikan dalam lingkup-lingkup kecil sekalipun.

Saya tak ingin komentar soal topeng itu lagi. Karena ada yang lebih unik jika dibandingkan dengan rekaman-rekaman kisah ketika saya berhadapan dengan komunitas di luar Sumatera. Ada permainan yang kerap dijadikan bisnis untuk kepentingan pribadi tanpa pertimbangan rasa.

Permainan “Topeng Monyet”. Pemainnya bukan manusia, tapi hanya seekor monyet yang dipaksa berlakon bertingkah manusia. Ada wajah monyet yang gelisah bercampur derita karena dipaksa menghasilkan karya agar penonton jadi ceria. Soalnya ya, jika penonton tidak ceria, gak bakal dikasih uang. Bisa-bisa permainan atraksi bisa gulung tikar.

Atraksi macam-macam! Jadi tertawa sendiri, sebab ada yang gaya seperti ‘Bos’ dan satunya lagi ‘bawahan’ sambil disuruh-suruh. Tingkah dibuat-buat saja biar penonton jadi lucu. Padahal saya tertawa bukan karena lucu, tapi kasihan (gak selamanya donk tertawa karena lucu).

Kasihan juga donk lihat monyetnya, kelelahan mencari uang. Banyak luka di sana sini yang tidak diobati. “Dasar tidak berperi kemonyetan, mau uangnya doang,” batinku. “Monyet itu tidurnya di mana ya?” Kasihan kalau tidur di sembarang tempat, bisa demam atau masuk angin.

Sambil senyum-senyum terlintas juga dipikiran jelek ini. Eh, monyet itu cewek atau cowok? Kalau cowok gimana dong gak pernah bertemu pacarnya. Begitu juga sebaliknya. “Kebutuhan biologis ditahan!”

Kok jadi cerita topeng monyet sich? Oke-oke begini aja deh! Pilih pawangnya atau monyetnya. Pilih nurani atau rezeki.



MEMUTUSKAN

Oleh: Andi Firdaus

Berani memutuskan sesuatu? “Tentu donk,” kata karyawan di sebuah perusahaan “Manyak-Manyak” beberapa waktu lalu. Memang bagi sebagian orang, mengambil keputusan kadang sangat sulit, sama sulitnya seperti membuat satu kebijakan.

Di blog, saya pernah menulis tentang mengambil keputusan. Mungkin ada yang sulit ketika berhadapan dengan banyak pilihan-pilihan dalam menjalankan sebuah realitas. Tetapi bagaimana jika tidak punya pilihan sama sekali? Ingin memutuskan apa?
Sedangkan realitas konteks tetap berjalan seiring waktu.


Bahkan kebingungan yang sering muncul ke permukaan, bukan kesenangan. Mengejar ambisi-ambisi yang terus lari dalam lorong-lorong pengecut. Karena keberanian sudah awal terkubur dalam bilik-bilik tanpa irama.

“Hidup sebuah pilihan” adalah kata usang yang sering diucapkan banyak orang. Jika “Hidup sebuah pilihan” tentu ini memerlukan sebuah keputusan. Jadi bagi kita yang masih belum berani untuk itu, maka anggap ini sebuah laboratorium baru untuk uji coba. Belum lagi menyangkut dengan hal-hal yang akan diputuskan. Lebih sulit donk.

Bagi orang yang sadar bahwa posisinya harus mengambil keputusan, ia tak akan ragu untuk memutuskan. Sebab keraguan sedikit saja akan merusak kredibilitasnya sebagai pengambil keputusan. Banyak hal di dunia ini yang tak akan berjalan normal tanpa sebuah keputusan.

Maldini tidak akan pernah mencetak goal, meski kiper lawan sudah terjatuh. Hingga ia berani memutuskan sesuatu untuk kemenangan. Kenapa contohnya Maldini? Karena dia pemain favorit saya. Bayangkan jika seluruh rakyat Endonehsya tak mengambil keputusan saat Pemilu?

Bayangkan lagi jika Pemred, Redpel, Redaktur dan wartawan tidak berani memutuskan mana berita yang terbaik? Apa jadinya wajah koran. Bayangkan jika sebelumnya Anda tak pernah mengambil keputusan, maka posisi tak akan pernah ada.
Sama saja ketika Anda tak pernah mengambil keputusan untuk menikahi perempuan pujaan? Jadi, segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini memang harus diputuskan. So pasti.




KAWAN

Oleh: Andi Firdaus

Belakangan kucoba renung kembali. Renungan yang tak begitu berarti, tapi minimal membawa alam bawah sadar saya pada dua hal. Pertama soal hubungan kerja, dan yang kedua adalah penamaan kebersamaan dalam ruang lingkup solidaritas.

Hubungan kerja awalnya hanya dibentuk pada penyamaan tujuan. Persepsi yang sama akan membawa keinginan dalam menindaklanjuti sesuatu yang belum terwujud. Dalam pemahaman ini, perlu juga diungkapkan seberapa besar kesamaan kerja bisa mempengaruhi semangat kerja. Berbalik-balik deh.


Sebelum menelusuri kenapa persamaan bisa terbentuk menjadi solidaritas, mungkin kita harus bertanya seberapa penting memahami istilah filosofi membentuk konsistensi budaya kerja? Ini perlu agar tidak melewati kontribusi dan keinginan porsi.

Mungkin jawabannya adalah seberapa konsistensi tersebut merasuk menjadi sebuah kerangka berpikir yang kokoh, sehingga filosofi mampu menjadi cermin. Memantulkan sinar semangat untuk bekerja secara bersama untuk merealitaskan ide-ide yang terkukung.

Apa hubungannya? Tetap saja ada jika dilihat dari konsistensi pemikiran yang disumbangkan dalam mengembangkan sebuah usaha. Kesalahan terbesar bangsa kita adalah meminta sesuatu melebihi porsi benefit yang diciptakan—mungkin ada keadilan yang tak tercipta.

Jika melihat kehancuran bangsa bahkan perusahaan sekali pun, itu disebabkan oleh orang yang cenderung meminta benefit melebihi kontribusi yang diberikan. Hingga menjadi ending saling menjatuhkan dalam kontek persaingan pemikiran yang tak sehat—seperti anak kecil yang dijatuhkan permen dan saling berebut.

Jarang memahi filosofi tepat untuk membangun. Substansi menjadi saling berbagi ketika kebersamaan membangun dikedepankan, ketimbang porsi awal tak menentu dibangun untuk sebuah kemajuan. Kesejahteraan yang diinginkan tak berujung pada solidaritas kebersamaan.

Kawan dalam ruang kebersamaan adalah kawan yang mencoba memahami filosofi tersebut. Jika dianggap kawan sebagai kepentingan, maka menyatukan dua kontek penciptaan porsi benefit dengan kontek kontribusi selalu bertabrakan. Hasilnya? Menciptakan kesenjangan perebutan yang tak perlu diperebutkan.

Saya pernah menyadari, menabrakkan diri pada keinginan benefit bagi kebanyakan orang dianggap munafik. Tapi bagi ketidakmunafikan adalah memalukan, karena saya adalah porsi tersendiri yang tak bersinggungan dengan nama latar belakang. Menghargai latar belakang atau kekinian?

Kawan, mungkin alam bawah sadar menjadi petaka untuk tidak selamanya ada. Karena ada banyak ungkapan sering diucapkan; Tak ada kawan sejati karena yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Itu pun tak membuat saya optimis dalam konsistensi kerja. Karena saya ingat pepatah dari antah barantah; Jangan pernah percaya perempuan yang mengucapkan cinta kepada kamu dalam keadaan telanjang. Masih optimis kawan?