Tampilkan postingan dengan label Peh Tem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peh Tem. Tampilkan semua postingan

OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (3)

Oleh Andi Firdaus

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin


Dua malam yang lalu, ocehan demi ocehan telah Aku tulis. Tak berharap apapun dari tulisan sebelumnya. Ini malam ketiga setelah dua tulisan sebelumnya Aku rangkai perlahan dengan maksud tak menyinggung perasaan. Ya!

Malam ini—saat tulisan kecil sedang tertoreh—adalah malam menyambut hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah. Pertanda malam ini merupakan kemenangan bagi orang-orang yang sudah menjalankan ibadah puasa. Bagaimana yang tidak? Aku tak membahasnya di tulisan ini. Maaf!

Dari lantai dua sebuah ruko, dalam kamar ukuran 3x4 sederhana, Aku berada di depan netbook mungil yang Aku beli bukan hasil korupsi. Ini jelas-jelas netbook bermerk Acer hasil keringat yang Aku kumpulkan sejak enam bulan silam. Untung Aku membelinya sudah dilengkapi fasilitas 3G.

Sambil layarnya Aku pandang, gaduh suara motor, mobil, kumandang takbir dan suara marcon—mengingat kembali letusan senjata saat Aku berada dalam kontak senjata di Bireun antara tentara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)—masuk ke telinga. Tapi kenangan suara letusan senjata kubiarkan berlalu.

Pikiranku ingin mengoceh dalam malam-malam menjelang Idul Fitri. Aku tak bermaksud mencela dengan ocehan gelisah dan sakit hati. Hanya sekadar ingin mengoceh agar suara batin tertera di atas kertas microsoft office word di layar netbook. Itu saja, tidak lebih.

Masih di depan layar, tanpa menggunakan baju, kubiarkan saja kulit badan terlihat terang. Rasa ingin keluar menyemarakkan suasana jelang lebaran Aku urungkan. Tak berselera jalan-jalan, apalagi meng-eforia-kan keadaan lantaran pikiran dan kondisi badan lelah setelah seharian tidur pulas.

Hanphone Nexian seharga 1,2 juta produk lokal—bukan karena cinta produk Indonesia, tapi memang harganya murah akibat kondisi keuangan menurun—tidak berhenti berbunyi. Sort Service Message (SMS) hampir saja memakan memori yang hanya berukuran 500 MB lantaran ucapan selamat dan minta maaf. Aku senyum.

Mata kupandang layar netbook, jari terus bermain di atas huruf-huruf A, B dan C. Di lain kesempatan, Aku lihat juga layar Handphone yang berukuran 3 atau 4 cemtimeter saja. Pertanda ada pesan masuk yang aneka ragam. Ada pantun, ada juga mewakili organisasi dan bahkan mewakili dirinya sendiri. Intinya mohon maaf!

Di luar suasana semakin kacau akibat kenderaan roda dua dan empat tak beraturan. Polisi lalu lintas tak bisa bicara banyak. Simpang empat Keunire, Kota Sigli padat. Tak sepadat pengetahuan mereka mengetahui aturan lalu lintas. Ku vonis saja karena lampu merah, hijau dan kuning tak menjadi acuan berkenderaan. Oh malam yang hilang aturan!

Dari lantai dua, mata terus memandang suasana jalan. Ada rombongan yang sesak oleh orang-orang berpeci religius. Di atasnya suara Allahu Akbar berkumandang. Di samping jalan ada sepeda motor melaju pelan yang dikendarai oleh dua insan. Bercengkrama seakan kemenagan mereka rebut setelah puasa penuh sebulan. Ramai sekali!

Meski ramai, Aku tak terpengaruh untuk ikut jalan-jalan menghabiskan malam. Toko-toko diserbu pembeli baju baru. Benar-benar suasana yang belum tentu menang. Tapi otak dan benakku sedikit bermain. Memang Aku akui, bahwa Aku bukan orang suci dan sok baik yang berpikir tentang janda dan anak yatim yang lolos dari keceriaan malam lebaran ini.

Bahkan SMS rekan sejawat dari berbagai pelosok tak Aku reply akibat pulsa Simpati tak sempat terisi. Kawan yang dijanjikan bertemu pun tak kunjung datang dengan alasan diserang hujan lebat di sekitar Caleu, Kecamatan Indrajaya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.21 We-Ie-Be.

Lalu lalang pemuda dan pemudi seakan menyiratkan pesan; malam ini milik kita berdua, tak ada Wilayatul Hisbah (WH) mencegah. Malam yang benar-benar bebas melakukan kehendak. Bersenang-senanglah di saat mereka tak punya daya bertindak. Tak punya kuasa melarang. Teruskanlah! Ini malam lebaran.

Gaduh, sangat gaduh. Tak bisa Aku pagar suara gema takbir masuk ke telinga. Perlahan kurebahkan badan di atas ambal ukuran seadanya. Aku mencoba menulis sesuatu di layar handphone dengan kata; Maafku tak terpinta pada penakluk keangkuhan, pemerkosa alam, pada pemakan ketidakberdayaan kemiskinan dan fakir. Aku menetaskan peluk kasih dan permohonan maaf pada mereka yang terus berpeluk atasnama kemanusiaan. Tanpa serakah, tamak untuk dibawa bersamanya. Lahir Bathin di 1430 Hijriah. Amin (bersambung)


OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (2)

Oleh Andi Firdaus

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan bisikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu dan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

***

Malam ini berbeda seperti malam sebelumnya, bukan karena menjelang lebaran tiba maupun suasana hati gembira. Malam ini adalah tanggal 19 September 2009, persis menjelang hiruk-pikuk pasar hewan menunggu suasana meugang ke-esokan harinya. Tapi bukan karena itu!

Pukul 20 kosong-kosong We-Ie-Be adalah yang pertama Aku mudik dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Sigli, Pidie. Menggunakan sepeda motor honda produk tahun 2006, perjalanan diguyur hujan sepanjang jalan menjadi hal yang belum pernah Aku lakukan dalam kurun empat tahun terakhir. Kondisi cuaca tak bersahabat Aku anggap sebagai pengalaman menjelang lebaran tiba.

Dua alenia di atas hanya sekadar gambaran bayangan. Tetapi ada sekilas bayangan pengalaman yang hendak Aku tulis sebagai renungan kekhawatiran. Dalam tikungan-tikungan hutan di kilometer 50 hingga sekian, dalam redup malam Aku dihadapkan pada jalan-jalan berlubang tanpa perhatian. Di saat perlawanan gencar disuarakan, tak ada perhatian pembangunan dilakukan untuk alam-alam dan jalan-jalan.

Pengalaman pertama kata sebuah iklan memang menggoda. Tapi akankah pengalaman berkelok dalam gelap hutan negeri Antara dengan lobang-lobang di tengah jalan akan terus menjadi pengalaman? Atau dibiarkan saja menjadi perangsang warga di sana agar bernafsu menggugat, hingga syahwat mereka kuat untuk bersuara lantang.

Di pinggir-pinggir jalan ada bunga bermekar warna warni. Aku tak sempat mencium baunya, karena sibuk dengan lelucon dan obrolan kecil di atas sepeda motor tua (semoga tidak bagi mereka yang duduk di kursi terhormat). Sesekali terlihat terang wajah-wajah oleh sinar lampu pijar ukuran standar. Di bawahnya ada lelaki berselimut tebal, dan di sampingnya ada wajah berambut panjang. Dari harapan, tak ada yang diharapkan. Mungkin!

Wajahku tertutup kain songket pemberian sejawat setahun yang lalu. Duduk bersahaja di atas sepeda motor dengan dua bola mata terus memandang pinggiran sepanjang jalan negeri itu. Dalam diam, kebisuan, keluguan dan dinginnya hawa malam, Aku bertanya dengan mata hati. Mungkinkah, hati mereka akan terus begitu? Atau mereka keras ingin melawan untuk tetap tidak bersama kita. Aceh!

Kadang pikiran Aku memaksa untuk ingin berteriak lantang. Seakan Aku ingin sampaikan sesuatu pada mereka yang berdiri kuyup dan sayup. Bahkan seakan Aku ingin berbisik pada mereka-mereka dengan besikan; Bangkitkan syahwat dan nafsu amarahmu, agar suaramu dapat digantikan dengan aspal-aspal penambal lobang di jalan berbatu. Atau suaramu suatu saat digantikan dengan pembangunan rumah-rumah layak huni. Atau minimal kita masih dianggap manusia! Teruskan bersuara tidak apa-apa.

Dalam sedang kupikirkan, sebuah mobil Inova--nomor polisi kelihatan remang-- melaju kencang melewati sepeda motor butut kami. Aku perkirakan kecepatan sekitar 60 Km/ jam. Namun kecepatan itu dapat memercikkan air di jalan hingga celana bawahku sedikit basah. Dalam gelap malam itu, pikiranku kembali tertuju ke penghuni di dalam mbil tanpa nurani.

"Begini jika menjadi orang miskin, basah di guyur hujan ditambah basah oleh keangkuhan pemilik modal," pikirku sekejab dalam hati. Atau keangkuhan di negeri ini bukan hanya dalam kontek kelas sosial yang memang sudah jauh tertinggal, namun keangkuhan pemilik modal yang mencoba memperkosa kekayaan hutan-hutan, hingga longsor menjadi kekhawatiran di saat kami dalam perjalan.

Mungkin mereka ikut mudik, buru-buru agar secepatnya bertemu keluarga sebab hari raya lusa. Mereka mungkin ingin minta maaf pada orang tua, sanak famili, keluarga bahkan tetangga. Aku juga berpikir sebentar saja, tak adakah yang minta maaf pada alam yang telah mereka perkosa? Minta maaf pada wajah-wajah tanpa dosa yang terus bergelut dengan pemiskinan hampir di setiap pelosok desa. tak ada! (Bersambung)



OCEHAN MALAM TENTANG ACEH (1)

Oleh: Andi Firdaus

Malam ini kesekian kalinya Aku kembali menulis setelah hampir enam bulan absen. Aku juga bukan penulis murung yang selalu bergelut dengan kritikan kebijakan. Apalagi membenarkan yang salah dalam kasus tertentu. Sekadar meruahkan kegelisahan pada diri sendiri, maka tulisan ini tidak terpaksa Aku tulis. Dengan iklas dan sedikit senyum Aku mencoba merangkai lagi kalimat dengan harapan tidak panjang-panjang.

Menurunkan ide melalui jemari di atas keybord komputer memang sulit. Mengingatkan kembali pada pelatihan jurnalistik dasar ketika masih kuliah. Penulis pemula memang susah mengawali tulisan, tapi sulit pula mencari ending. Terkadang tidak sedikit tersesat hingga tulisan menjadi gado-gado. Aku juga tidak mengerti bagimana seseorang menilai tulisan itu bagus atau tidak. Apakah karena ide, cara tulisnya, penggunaan kata, mengatur kalimat atau bertabur bahasa istilah.

Tapi Aku tak ingin berlama-lama berpikir tentang itu. Jam sudah menunjukkan pukul kosong tiga we-ie-be. Segelas kopi hitam buatan sendiri tinggal sekitar satu sentimeter. Sekali teguk kopi, sekali pula bayangan pikiran mengarak ke petani kopi yang tergilas oleh arogansi pengusaha bermodal besar. Sekali pula kadang terbayang pemberontakan. Tapi ini ide gila menyuruh orang berontak dalam jaman kekinian yang notabenenya damai.

Bicara pemberontakan, mengingatkan kembali era dua ribu delapan. Era mistis dengan penonjolan heroisme atas ketidakadilan. Tak tahu kenapa ada rasa bangga jika dicap sebagai provokator dan lain sebagainya. Era memaksa dan meminta orang-orang untuk melawan yang kemudian dianggap sebagai pahlawan. Namun itu dulu ketika mimpi dan harapan belum ditukar dengan hotel mewah dan gedung-gedung terhormat.

Bergesa-gesa Aku tolehkan pikiran ke hal lain. Aku tidak berprasangka karena takut dianggap barisan sakit hati, atau lebih parahnya dianggap barisan tidak punya kesempatan. Biarkan waktu berlabuh, karena suatu saat akan menjadi kenyataan, sebab setiap era ada kelahiran-kelahiran tokoh dan intelektual baru. Mungkin inilah jaman yang melahirkan.

Aku kembali meneguk sedikit kopi dingin yang dipengaruhi hawa dingin tengah malam. Tapi yang namanya pikiran kembali berpikir, kenapa gelas kopi ini pun didatangkan dari luar tanah kelahiranku, Aceh. Pikiranku yang goblok!

Jemari melengking pelan di atas keybord. Mata terbelalak menancap layar komputer ukuran sepuluh inci. Kali ini pandanganku hanya berjarak sekitar dua puluh centimeter dengan layar yang penuh tulisan artikel tentang ke-acehan. Tulisan yang ditulis oleh pemikir-pemikir masa depan Aceh. Mereka banyak tahu soal konflik Aceh, bahkan apa yang akan terjadi di Aceh ke depan. Aceh baru.

Berbeda dengan Tuan Ramli di pelosok desa yang terisolir akibat ketiadaan informasi. Jangankan internet, membaca koran saja harus merangkak dengan jalan berbatu dua kilometer ke pusat kecamatan. Belum lagi yang disampaikan koran soal serimonial pejabat, kucuran dana untuk Aceh, pelantikan anggota dewan terpilih dan korupsi yang meredam. Ini jelas membuat Tuan Ramli tak perlu tahu.

Nek Halimah, janda tua berumur 50 tahun tidak berbeda dengan Tuan Ramli. Janda yang berharap rumahnya bukan dari dinding rumbia itu terus meratap sedih. Ratapan yang sudah dilaluinya 20 tahun lalu akibat sang kekasihnya (Suami) ditembak membabi buta di depan mata oleh orang berbaju loreng. Malam itu, tak seorang pun yang kenal identitas mereka. Jika pun tahu, pura-pura bodoh lebih baik.

Maaf, tulisan ini berputar-putar seperti gado-gado. Kalau redaktur media menilai, tulisan ini tidak fokus, tidak langsung pada inti apa yang ingin disampaikan, tidak menyentuh pembaca dan bahkan sering dianggap tidak layak jual dan bukan kebutuhan publik. Saya juga bosan dengan penilain media seperti itu, tapi apa hendak dikata cakap orang seberang.

Jika Aku sebagai tokoh politik dan pejabat teras, maka akan kusampaikan informasi nina bobo sebagai redam kekecewaaan Tuan Ramli dan Nek Halimah begini; Aceh kini mendapat subsidi dana minyak dan Gas, bahkan Aceh ke depan akan mendapat sekian persen hasil APBN. Jadi jumlahnya sekian triliun rupiah dan sekian dolar Amerika Serikat.

Bagaimana jika Saya sebagai elit politik? Apa yang perlu kusampaikan di media agar rakyat tahu Aku sebagai pembelanya dan sebagai tokohnya? Akan Aku sampaikan begini, “Pemerintah Aceh tak mengerti melakukan pemberantasan kemiskinan. Serapan dana saja tidak mampu menaikkan persentasi. Memang pemerintah Aceh bodoh!”. Padahal Aku asal cuap-cuap.

Bagaimana jika Aku menjadi pemimpin redaksi sebuah koran? Itu gampang! Tinggal perintahkan redaktur media untuk menulis judul bombastis yang kontroversi. Soal isi belakangan. Contohnya? LSM Tuding Pemerintah Aceh Gagal. Itu judulnya, meski isinya hanya kegagalan soal kecil. Atau begini; Dana Eks Kombatan Disunat!

Kini bukan gelas kopi yang ku angkat. Sebatang rokok perlahan Aku keluarkan dari bungkus kemudian sebuah korek warna-warni kupercikkan api hingga si api biru keluar dari lobangnya. Sambil Api kupandang, semakin hilang rasa optimisku terhadap PT Arun LNG. Sepuluh tahun lagi dia akan berlalu? Jika benar, kemana akan dipandahkan? Apalagi yang dapat dibanggakan Aceh? Jika pun ada, apa pentingnya untuk kesejahteraan kita! Cukup bertanya. (Bersambung)



Politik Apa Ma'in


Oleh: Andi Firdaus

Di sebuah warung, apa Ma’in menebar senyum. “Péu haba anéuk rantô,” celutuk sambil sebatang rokok ‘plat’ merah menyentuh bibirnya. Sudah kebiasaan sapaan ala kadarnya menyerang pemuda yang baru saja pulang dari rantau. Apa Ma’in kenal betul wajah dan gaya orang asing.


Apa Ma’in adalah penghuni tetap desa itu hampir 50 tahun. Maklum dia kenal betul siapa saja yang lewat di depannya. Tak jarang, sesangging senyum dilempar begitu saja. “Péu nacan di rantô, Ku déungê makmu,” sorot matanya menantang. Dia tak sekadar jeli melihat fasion dan orang asing, tapi kondisi politik juga tak dibiarkan lewat begitu saja.

Kebiasaan meukliép di satu tempat sudah seperti tradisi. Duduk di warung kopi untuk sekadar obrolan lepas memang biasa. Separuh kopi hitam ikut menghias meja di depannya. Meski jarum jam mendekati angka 2 siang itu, tak membuat Apa Ma’in beranjak dari kursi bambu panjang yang terlihat lapuk.

Geraknya ceria, santai bersahaja. Raut wajah tak memperlihatkan ia seorang yang sedang dirundung gelisah. Tak juga menampakkan khawatir. Jika pun ditanyakan soal politik kekinian, tanpa olah pikir pun Apa Ma’in spontan bisa menjawab. “Pulitek péu, ka 40 thön gampöng manténg lagé njöe (Politik apa, 40 desa masih seperti ini),” celutuknya

Perlahan dia angkat sarung. “Njöe ija krông manténg hana èk tablöe le (Kain sarung aja tak sanggup kita beli lagi),” pelan-pelan sarungnya dirunkan kembali. Celoteh soal pembangunan siapa saja boleh. Bicara péumakmu gampông hampir setiap hari di televisi. Apalagi ini zaman caleg-caleg tahun 2009 mendatang. “Ken caleg, tapi celeng,” maksudnya semacam celeng yang bisa kumpulkan uang bayak.

Celeng Masjid, celang anak yatim, rumah dhuafa, dan bahkan celeng korban cacat dan sebagainya. Bicara soal celeng, Apa Ma’in punya cara dan pola pikir tersendiri. “Méukesud Apa Ma’in péu?” karena penasaran saya ikut komentar juga. “Nyan hana katéupu! Rugo kajak sikula panyang,” helanya.

Kamu kan bisa lihat betapa banyak celeng-celeng muncul menjelang tahun 2009 mendatang. Mereka sudah tentu dan pasti menjadi celeng, bukan caleg. Karena setelah mereka jadi celeng benaran, pasti akan dikumpulkan uang pembangunan Masjid, uang korban konflik, uang kaum dhuafa, untuk dikumpulkan dalam satu celeng. Ditabung!

Apa Ma’in hanya korban positif atas analisanya sendiri dengan melihat lakon para elite. Perdebatan di desa-desa menjadi apatisme tersendiri melihat karakter pemimpin. Mereka tak pandai berdebat, tapi mereka lebih pintar berdialektika dengan realitas apa yang menjadi nyata di depan mata. Percaya tidak percaya, njöe kéu biet-biet!



KREATIVITAS

Oleh: Andi Firdaus

Setiap individu mempunyai cita-cita. Tapi mewujudkannya tanpa perjuangan merupakan sia-sia, alias cét langét. Perjuangan juga perlu didampingi pengorbanan tinggi. Kén cilét-cilét, jèut mèu kliép. Jika bukan begitu, maka kesuksesan jarang didapat dalam pemahaman standar.


Dari banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan, kreativitas adalah salah satu di antaranya, bahkan ia jarang ditemukan. Pun ditemukan maka perlu dihargai. Tak jarang seseorang bisa sukses karena dampak dari sebuah kreativitas.

Bila Anda menganggap bahwa kreativitas adalah bawaan, secepatnya bisa dihilangkan. Kreativitas atau kemampuan memecahkan masalah adalah usaha bagaimana menghadapi tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Latihan mental sebagai usaha awal mungkin diperlukan.

Menurut Dokter Harvey C.L, ada tiga jenis orang kreatif, mengumpulkan gagasan dan hal yang asing untuk dirancang kembali. Kemudian hal yang lama ditempatkan ke dalam hal yang baru. Mungkin ini sebuah proses menciptakan kreativitas.

Pada dasarnya setiap orang memiliki jiwa kreatif, namun tanpa latihan mengasah pola pikir dengan membangkitkan dialektika-dialektika, maka jiwa kreatif akan tenggelam. Dan orang lain tidak akan pernah bisa melihat dan menikmatinya.

Ide kreatif tidak akan lahir bila ketakutan lebih dulu menjadi momok yang bersarang di kepala kita. Sama sulitnya ketika menghargai kreativitas orang lain, meski lebih bermakna untuk bisa dirasakan secara bersama. Ini tentunya sedikit diberi penekanan kecil untuk mengacu kepada tujuan; Sukses.

Jika tekanan tanpa diringankan, maka yang datang justru rasa frustrasi atau mengalami hambatan tinggi. Karena orang kreatif bekerja pada kondisi dan lingkungan yang baik, atau pada situasi ‘dingin’, atau hubungan yang hangat.

Jadi, membangun kreativitas dari orang lain adalah bagaimana menjalin hubungan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain. Sehingga tercipta kreatif dari orang-orang itu secara pribadi-pribadi. Sebab, setiap individu adalah individu yang lain.
Menciptakan ide kreatif tidak semudah mengeluarkan ludah. Butuh bantuan banyak orang yang membela di saat sulit, membina hubungan secara formal bahkan memberi toleransi. Tak jarang pula menghargai aktivitas individu lainnya.

Jika pun gagal pada suatu saat, orang kreatif selalu akan bilang; Itu merupakan langkah awal untuk sukses, menciptakan kepercayaan diri dan yang penting adalah sebagai keleluasaan bergerak demi mencapai cita-cita.



BANGKIT

Oleh: Andi Firdaus

Malam merapat pada pukul 00.00 WIB. Badan terbaring di atas tikar lusuh ukuran seadanya. Hanya cukup untuk dua atau tiga orang saja. Tapi malam itu kami paksakan agar lima orang dapat berbaring melepaskan penat dan lelah.

Meski jam beranjak pagi, tak juga kutemukan mimpi seperti malam-malam sebelumnya. Menerawang hingga kerap pikiran berada pada kegundahan dan kegelisahan. Berpikir dengan logika kadang semakin rumit. Mengedepankan perasaan juga kerap melebar ke mana-mana.


Nafas kuhembuskan sembarangan. Wajah kuhadapkan ke dinding tanpa cat warna-warni. Tak ada perhiasan dan pernik layaknya rumah mewah. Hanya ada beberapa teman dengan perut kosong yang masih semangat bicara soal cinta.

Dalam keterbaringan kembali kupikirkan. Kenapa mereka mampu menaklukkan kekosongan perut dan kekeringan kantong dengan semangat dan keceriaan. Kenapa aku tak bisa seperti budak-budak itu?

Tapi gelisah tak memandang seberapa banyak uang di kantong, atau jabatan yang disandang di atas pundak. Tetapi gelisah datang di saat pikiran memaksa kita untuk memilih di antara banyak pilihan. Itulah tantangan ketika dihadapkan pada dilematis sebuah kondisi.

Pada malam sebelumnya, seorang kawan lama bersua kembali. Saya berusaha mengingat-ingat kata-katanya pada malam itu. Dia seorang teman dengan canda dan tawa lebar. Sekilas tidak terlihat resah. Apalagi raut wajahnya menampakkan gundah, meski miliaran proyek telah membuat dia rugi.

Malam itu, dia bicara soal semangat. Bicara soal masa depan dan kelicikan. Malam itu juga dia tak hentinya melahirkan ide-ide gerakan. Bahkan dia terus memperlihatkan sebagai dirinya sendiri. Bangkit!

Mungkin, ada banyak orang yang sedang dihadapkan pada situasi stagnan. Keadaan yang bagi sebagian orang tidak banyak memiliki pilihan. Dalam remang lampu, kucoba ingat kembali apa yang dia ucapkan malam itu. Inspirasi yang membuat mata dan pikiranku terpejam jelang pagi. ‘Di mana kau jatuh, di situ kau harus bangkit’.



BECERMIN

Oleh: Andi Firdaus

Kembali ke masa lalu. Mungkin di antara rekan-rekan masih ingat saat kuliah dulu. Kantuk yang tak bisa ditahan akibat dosen sering ceramah bertele-tele. Atau saat menghadiri pertemuan dengan big boss dengan segudang penjelasan yang bertele juga. Membosankan, karena materi yang disampaikan tidak berbobot. Padahal poin inti yang seharusnya dijelaskan tidak dituturkan dengan gamblang.

Tentu tidak ada yang menginginkan seperti itu. Pasalnya, gaya seperti itu bahkan secara psikologi dapat mengganggu pola berpikir yang bersih. Kerap justru akan menjadi sebaliknya dengan penuh kebosanan. Atau kembali becermin melihat diri kita sendiri, apakah gaya dan bicara kita juga sering menonjolkan diri dan bertele? Jika ya, sifat seperti itu dalam pergaulan dan lingkungan harus cepat dijauhkan. Karena di belakang, Anda akan ditertawakan.


Kedewasaan berpikir bukan dibuat-buat untuk terlihat dewasa dan intelektual. Ia akan datang dengan sendirinya untuk sebuah penilaian dan hasil yang terbaik. Orang bahkan kadang menilai bukan pada bicara, tapi kelahiran ide perubahan dalam berbagai konteks, brilian dan percaya diri. Ini butuh proses dan ‘jam terbang’ banyak agar tidak terpaku seperti kodok di bawah tempurung.

Atau mungkin kita termasuk orang yang sering mengulang pendapat yang sering dilontarkan sebelumnya. Ini juga membuat pendengar dan teman atau orang-orang di sekeliling kita menjadi bosan. Bahkan dalam meeting pun kerap mengulang saran atau pendapat dari teman yang lain. Jangan mengulang pendapat yang pernah diutarakan agar terhindar dari ketidakpercayaan intelektual Anda. Cari ide yang fresh, dan baru karena orang tidak akan mendengar ide yang diulang meski dalam ‘kemasan’ berbeda.

Jika Anda seorang penulis, tentu sering mengedit kata-kata yang dinilai lebih singkat dan mudah dimengerti. Seharusnya, gunakan juga dalam komunikasi bahasa verbal agar yang disampaikan dalam mengekspresikan ide tersampaikan dengan tepat. Bagaimana dengan bumbu lelucon? Hati-hati dengan gaya lucu yang ditampilkan walau tak seperti komedi terkenal.

Oh ya, tanpa sadar kita pun sering membuat orang lain jenuh, karena pembahasan dan percontohan sering diarahkan pada diri sendiri. Jika bekerja dalam tim, maka tonjolkan tim bukan individu. Penting becermin, agar di belakang Anda tidak menjadi bahan tertawa. Cerminan itu penting dalam pergaulan keseharian kita.




STAGNASI

Oleh: Andi Firdaus

Ada ungkapan nyentrik tidak bertele. Ada kalanya langkah terhenti oleh tindakan tersendiri dalam realitas. Di alam nyata, pengujian potensi diri sering terbentur oleh sebuah situasi. Potensi yang menuju kepada menguji kemampuan. Termasuk tindakan politik, gerakan sosial maupun komunikasi antar komunitas.

Proses itu tidak semudah menumpahkan segelas air atau mencabut sehelai rambut di kepala. Tetapi butuh perjuangan keras, pengorbanan, cinta, ketulusan bahkan butuh keyakinan penting. Jangan menganggap kerap seperti alur sungai tanpa bebatuan besar. Mengalir.


Kadang juga dalam pergulatan situasi seperti itu sering terbentur. Bahkan harus dan terpaksa berhenti di pertengahan akibat sebuah situasi yang terpaksa. Ini yang dinamakan stagnasi. Berhenti pada sebuah keadaan yang sulit menuju proses yang rumit.

Dalam kamus bahasa, stagnasi bisa diartikan sebagai keadaan yang berhenti, tidak bergerak, atau diam. Jika dibenturkan dalam realitas konteks Aceh, maka situasi politik yang stagnasi bisa jadi sebuah kendala pada cita-cita perubahan pascadamai. Atau bisa menjadi dilema pada situasi yang top.

Mungkin saja, stagnasi boleh disebut sebagai kemacetan jiwa. Saat sepeti ini ada rentan yang sangat dekat pada kemunduran. Rapuh dan mudah patah. Jika guncangan terjadi pada penghuninya, maka tak lama ia berhenti pada tujuan ekstremnya. Jika mengumpamakan cita-cita perubahan Aceh, maka akan terbentur yang kemudian menjadi mundur.

Dampak yang paling kontras adalah membiarkan kondisi tersebut. Jika kita ibaratkan Aceh, masih terlalu kekanak-kanakan karena masa transisi baru tiga tahun pasca-Helsinki. Dalam saat-saat sepeti ini, kebodohan, apatis, individualis semarak di mana-mana. Euforia muncul ke permukaan meski tak punya nilai.

Jika masa stagnasi ini berlaku, ada perlawanan yang seharusnya kita menjadi agent of change terhadap diri kita sendiri. Ini mungkin pergumulan wisata jiwa yang sedang bergentayangan mencari jati diri. Dan pada akhirnya harus sadar, bahwa keadaan yang statis, merupakan mundur ke belakang.

Aceh dalam realita yang bukan cet langet dengan segudang amunisi ide-de, notabene bergerak maju ke depan. Romantisme masa lalu mungkin sekadar cermin yang tak perlu diretakkan, apalagi dipecahkan. Cermin masa lalu sebagai background untuk menjadi senjata membunuh stagnasi. Maju!



RESISTENSI

Oleh: Andi Firdaus

Sekejab! Bukan vonis atas sebuah dilema realitas dalam kehidupan. Ada banyak hal menjadi barometer dari sebuah situasi. Misalnya, mengapa manusia alergi dengan perubahan? Mungkin jawabnya sederhana. Dalam kontek kekinian, manusia rasional ingin mempertahankan hidup.

Jawaban tak dibesar-besarkan. Bahkan alam sendiri mengajari makhluk hidup untuk dapat menghemat energi. Ular jarang bergerak bukan karena malas, tapi karena menghemat energi. Kura-kura malas mengeluarkan kepala karena ada saatnya energi digunakan pada waktu yang tepat.


Perubahan lingkungan, rumah dan pekerjaan, tentu menguras lebih banyak energi, bahkan perubahan diluar batas kemampuan dan batas toleransi dapat mengorbankan hal yang prinsip dan melanggar norma-norma yang berlaku. Pada dasarnya manusia juga sama dengan makhluk lainnya, tidak suka perubahan.

Secara alami manusia membuat ‘pola’ dalam tindakan, respon dan berpikir. Kebanyakan pola atau persepsi ini memang banyak menghemat energi. Sebagaimana kita tidak perlu mempertimbangkan, jika di pipi kita menempel seekor nyamuk, secara refleks kita ayunkan tangan untuk menampar pipi kita. Perubahan terhadap persepsi dan pola tindak, jelas kurang disukai karena kita harus memprogram ulang respon kita.

Sekarang jelas bahwa secara anatominya, resistensi terhadap perubahan adalah rasional dan seringkali juga tindakan pengamanan untuk ‘survive’, meskipun seringkali resistensi juga menghambat kemajuan budaya manusia. Perlu sebuah jawaban dari pertanyaan bagaimana seharusnya ‘melawan’ resistensi?

Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar ‘tidak ikut’, apatis, sampai pada aksi ‘perlawanan’, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan individu/komunitas yang resisten. Sikap resisten akan terlihat jelas apabila program transformasi diwujudkan, ada yang bersikap mencoba mencari titik lemah dari transformasi tersebut ataupun berusaha menjauhinya.

Jika begini maka manusia adalah bagian dari keingin individu yang selalu mencoba untuk tidak ingin berubah. Lantasan secara global menjadi sering ditanykan kepada banyak orang. Apakah perubahan itu datangnya dari luar? Atau dari dalam. Memungkinkan untuk dijawab secara rasional, bukan karena refleksi dari sebuah keadaan atau lingkungan.



TOPENG

Oleh: Andi Firdaus

Bermain-main dengan topeng. Wah, permainan ini menyadarkan kembali masa kecilku setelah lama terlupakan begitu saja. Kesadaran menghayati kekanak-kanakan bangkit saat membaca tulisan seorang teman di ruangan péh tém. Memang unik!

Saya mencoba merenung kembali permainan itu. Permainan penuh canda dan tawa hingga lupa pada waktu. Peran-peran yang kucoba renungkan kembali meski aku sendiri tak ingat. Peran yang kulakonkan menjadi sirna dalam memori kepala.


Topeng masa kecil tak banyak polemik dan intrik. Benar-benar hanya sekadar topeng menyembunyikan keaslian, bukan menyembunyikan kepalsuan. Topeng kemunafikan dalam lingkup-lingkup kecil sekalipun.

Saya tak ingin komentar soal topeng itu lagi. Karena ada yang lebih unik jika dibandingkan dengan rekaman-rekaman kisah ketika saya berhadapan dengan komunitas di luar Sumatera. Ada permainan yang kerap dijadikan bisnis untuk kepentingan pribadi tanpa pertimbangan rasa.

Permainan “Topeng Monyet”. Pemainnya bukan manusia, tapi hanya seekor monyet yang dipaksa berlakon bertingkah manusia. Ada wajah monyet yang gelisah bercampur derita karena dipaksa menghasilkan karya agar penonton jadi ceria. Soalnya ya, jika penonton tidak ceria, gak bakal dikasih uang. Bisa-bisa permainan atraksi bisa gulung tikar.

Atraksi macam-macam! Jadi tertawa sendiri, sebab ada yang gaya seperti ‘Bos’ dan satunya lagi ‘bawahan’ sambil disuruh-suruh. Tingkah dibuat-buat saja biar penonton jadi lucu. Padahal saya tertawa bukan karena lucu, tapi kasihan (gak selamanya donk tertawa karena lucu).

Kasihan juga donk lihat monyetnya, kelelahan mencari uang. Banyak luka di sana sini yang tidak diobati. “Dasar tidak berperi kemonyetan, mau uangnya doang,” batinku. “Monyet itu tidurnya di mana ya?” Kasihan kalau tidur di sembarang tempat, bisa demam atau masuk angin.

Sambil senyum-senyum terlintas juga dipikiran jelek ini. Eh, monyet itu cewek atau cowok? Kalau cowok gimana dong gak pernah bertemu pacarnya. Begitu juga sebaliknya. “Kebutuhan biologis ditahan!”

Kok jadi cerita topeng monyet sich? Oke-oke begini aja deh! Pilih pawangnya atau monyetnya. Pilih nurani atau rezeki.



MEMUTUSKAN

Oleh: Andi Firdaus

Berani memutuskan sesuatu? “Tentu donk,” kata karyawan di sebuah perusahaan “Manyak-Manyak” beberapa waktu lalu. Memang bagi sebagian orang, mengambil keputusan kadang sangat sulit, sama sulitnya seperti membuat satu kebijakan.

Di blog, saya pernah menulis tentang mengambil keputusan. Mungkin ada yang sulit ketika berhadapan dengan banyak pilihan-pilihan dalam menjalankan sebuah realitas. Tetapi bagaimana jika tidak punya pilihan sama sekali? Ingin memutuskan apa?
Sedangkan realitas konteks tetap berjalan seiring waktu.


Bahkan kebingungan yang sering muncul ke permukaan, bukan kesenangan. Mengejar ambisi-ambisi yang terus lari dalam lorong-lorong pengecut. Karena keberanian sudah awal terkubur dalam bilik-bilik tanpa irama.

“Hidup sebuah pilihan” adalah kata usang yang sering diucapkan banyak orang. Jika “Hidup sebuah pilihan” tentu ini memerlukan sebuah keputusan. Jadi bagi kita yang masih belum berani untuk itu, maka anggap ini sebuah laboratorium baru untuk uji coba. Belum lagi menyangkut dengan hal-hal yang akan diputuskan. Lebih sulit donk.

Bagi orang yang sadar bahwa posisinya harus mengambil keputusan, ia tak akan ragu untuk memutuskan. Sebab keraguan sedikit saja akan merusak kredibilitasnya sebagai pengambil keputusan. Banyak hal di dunia ini yang tak akan berjalan normal tanpa sebuah keputusan.

Maldini tidak akan pernah mencetak goal, meski kiper lawan sudah terjatuh. Hingga ia berani memutuskan sesuatu untuk kemenangan. Kenapa contohnya Maldini? Karena dia pemain favorit saya. Bayangkan jika seluruh rakyat Endonehsya tak mengambil keputusan saat Pemilu?

Bayangkan lagi jika Pemred, Redpel, Redaktur dan wartawan tidak berani memutuskan mana berita yang terbaik? Apa jadinya wajah koran. Bayangkan jika sebelumnya Anda tak pernah mengambil keputusan, maka posisi tak akan pernah ada.
Sama saja ketika Anda tak pernah mengambil keputusan untuk menikahi perempuan pujaan? Jadi, segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini memang harus diputuskan. So pasti.




KAWAN

Oleh: Andi Firdaus

Belakangan kucoba renung kembali. Renungan yang tak begitu berarti, tapi minimal membawa alam bawah sadar saya pada dua hal. Pertama soal hubungan kerja, dan yang kedua adalah penamaan kebersamaan dalam ruang lingkup solidaritas.

Hubungan kerja awalnya hanya dibentuk pada penyamaan tujuan. Persepsi yang sama akan membawa keinginan dalam menindaklanjuti sesuatu yang belum terwujud. Dalam pemahaman ini, perlu juga diungkapkan seberapa besar kesamaan kerja bisa mempengaruhi semangat kerja. Berbalik-balik deh.


Sebelum menelusuri kenapa persamaan bisa terbentuk menjadi solidaritas, mungkin kita harus bertanya seberapa penting memahami istilah filosofi membentuk konsistensi budaya kerja? Ini perlu agar tidak melewati kontribusi dan keinginan porsi.

Mungkin jawabannya adalah seberapa konsistensi tersebut merasuk menjadi sebuah kerangka berpikir yang kokoh, sehingga filosofi mampu menjadi cermin. Memantulkan sinar semangat untuk bekerja secara bersama untuk merealitaskan ide-ide yang terkukung.

Apa hubungannya? Tetap saja ada jika dilihat dari konsistensi pemikiran yang disumbangkan dalam mengembangkan sebuah usaha. Kesalahan terbesar bangsa kita adalah meminta sesuatu melebihi porsi benefit yang diciptakan—mungkin ada keadilan yang tak tercipta.

Jika melihat kehancuran bangsa bahkan perusahaan sekali pun, itu disebabkan oleh orang yang cenderung meminta benefit melebihi kontribusi yang diberikan. Hingga menjadi ending saling menjatuhkan dalam kontek persaingan pemikiran yang tak sehat—seperti anak kecil yang dijatuhkan permen dan saling berebut.

Jarang memahi filosofi tepat untuk membangun. Substansi menjadi saling berbagi ketika kebersamaan membangun dikedepankan, ketimbang porsi awal tak menentu dibangun untuk sebuah kemajuan. Kesejahteraan yang diinginkan tak berujung pada solidaritas kebersamaan.

Kawan dalam ruang kebersamaan adalah kawan yang mencoba memahami filosofi tersebut. Jika dianggap kawan sebagai kepentingan, maka menyatukan dua kontek penciptaan porsi benefit dengan kontek kontribusi selalu bertabrakan. Hasilnya? Menciptakan kesenjangan perebutan yang tak perlu diperebutkan.

Saya pernah menyadari, menabrakkan diri pada keinginan benefit bagi kebanyakan orang dianggap munafik. Tapi bagi ketidakmunafikan adalah memalukan, karena saya adalah porsi tersendiri yang tak bersinggungan dengan nama latar belakang. Menghargai latar belakang atau kekinian?

Kawan, mungkin alam bawah sadar menjadi petaka untuk tidak selamanya ada. Karena ada banyak ungkapan sering diucapkan; Tak ada kawan sejati karena yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Itu pun tak membuat saya optimis dalam konsistensi kerja. Karena saya ingat pepatah dari antah barantah; Jangan pernah percaya perempuan yang mengucapkan cinta kepada kamu dalam keadaan telanjang. Masih optimis kawan?


SULIT

Oleh: Andi Firdaus

Lama tak menulis di péh tém. Kini saya mencoba menorehkan ide dalam tulisan yang terbatas. Meski tak bermakna, namun setidaknya ini sebuah realita dalam kegamangan tanpa arah.

Ini hanya soal pergaulan yang kerap kita jumpai. Terutama orang-orang tertentu yang sulit dihadapi. Mungkin ‘manusia’ jenis ini kita jumpai di kantor dan pergaulan dalam berbagai variasi, watak serta pola pikirnya.


Sebut saja tipe orang yang tak hentinya bicara. Bicara lugas terhadap sebuah realitas untuk perubahan. Ini soal ambisi yang harus disesuaikan dengan karater dalam pergulatan dan pergaulan keseharian. Satu sisi positif, namun tak sedikit menjadi negative.

Lebih parahnya lagi, ada kalanya ada teman sering mengkritik, meski bukan bidangnya. Apalagi bidang yang menjadi ahlinya. Ini juga perlu dilihat sebagai sensasi dalam ruang hampa tanpa demokrasi. Artinya, kebijakan pada kesadaran individu yang tak dilahirkan dalam lingkup kebersamaan.

Ada juga orang dengan ketidakkomitmennya. Tidak menghargai komitmen dalam pengertian merubah sebuah kondisi awal ke kondisi yang baru. Hingga sering dalam perjalanan menjadi ‘abu-abu’ di antara hitam dan putih. Di antara melakukan gebrakan dengan bertahan di tempat.

Bagaimana dengan orang yang membentuk ‘geng’ tanpa sepengetahun kita? Mungkin pada awalnya tidak menjadi masalah. Pada akhir gilirannya tetap akan menjadi persoalan tersediri yang berpengaruh pada lingkup kita. Sebab ‘geng’ adalah bagian terkecil dari kelemahan melakukan sebuah terobosan. Perlukah ditelusuri?

Menurut kolumnis soal Sumber Daya Manusia (SDM), Susan M Heathfield, bila kita mendiamkan sulit seperti itu, maka dengan sendirinya situasi akan berubah. Biasanya menjadi lebih buruk. Cuek atau hanya sekadar memperbaiki situasi di atas permukaan yang sebenarnya adalah konflik, sehingga kontraproduktif pun meledak.

Bisa saja ‘shock’ jika kemudian dianggap tak professional maka renungkan bahwa sebuah situasi sulit sedang terjadi. Jika kita menyadarinya, bukan merupakan pilihan terbaik berlama-lama pada kondisi itu. Kemudian melangkah ke situasi yang semakin tak rasional.

Alangkah baiknya, jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit tapi masih bersikap objektif dan dapat mengendalikan emosi. Lebih penting lagi adalah membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan bukan hanya kita dianggap ‘tidak becus layaknya sebagai pekerja profesional’ bahkan kita sendiri akan dicap sebagai orang sulit.

Saya tak ingin berada pada posisi sulit dan menyulitkan untuk sebuag variable pemicu konflik. Tahapan ada pada genggam kemesraan melakukan terobasan. Jangan kerap menunggu yang kemudian terus menjadi ‘abu-abu’. Sulit.



GELAP

Oleh: Andi Firdaus

Secercah pelangi harapan mendulang dalam redup malam. Aku sendiri berharap cahaya dari pelangi remang. Bukan sekadar berharap kemudian terus pergi. Mungkin ada banyak rekan takut kegelapan, hingga perlu sedikit cahaya penerangan. Jika satu sisi kegelapan adalah ketakutan, maka sisi yang lain berarti ilusi.

Ada banyak orang, inspirasi lahir ketika gelap. Tapi tak sedikit bahwa gelap adalah petaka. Memahami ide sambil menerang, kemudian yang terlihat adalah gulita. Mungkin ada di antara kita, mencoba melihat pelangi dalam gelap. Memejamkan mata, kemudian melihat warna-warni.
Melihat pelangi dalam gelap jangan berharap jadi kenyataan. Sama seperti berpikir atas ilusi dan utopia perubahan. Tak akan pernah menjadi sebuah realitas memaknai kekinian perubahan. Boleh berangan-angan, maka akan terbayang keindahan, masa depan dan sebagainya. Tapi tanpa alat ukur, maka ide perubahan adalah cet langet.

Masalah pada kenyataan inilah yang membebani pikiran banyak orang. Gamang boleh jadi. Namun yang lebih menyiksa adalah membebani perasaan orang yang mengalaminya. Kemudian kerap respons emosional sering kali berkutat dan menjadi rumit. Sebab tak ada platform dan format sebagai kerangka acuan untuk bergerak.

Jika si buta berjalan dalam kegelapan, maka tongkat menjadi ukuran sejauh mana dia harus berjalan. Bagaimana dengan kita? Onani pemikiran menjadi kelucuan, dan penonton akan tertawa terbahak. Sebab, bermain drama dalam gelap tanpa konsep menjadi olokan dan bahan tertawa. Ini drama publik.

Inilah gelap model kita ‘mungkin’. Gelap yang bagi banyak orang menganggap tak kunjung selesai. Bahkan tak sedikit yang meyakini, semakin hari kegelapan semakin kusut. Jika masih bertahan boleh jadi, namun apa jadinya jika tahap akhir berada di jalan pintas?

Memang ini menjadi pekerjaan tersendiri, termasuk melihat pelangi dalam gelap. Bahkan menerawang dengan tongkat penyangka. Hasilnya, ketika mata terbuka tak juga menjadi nyata, Pelangi dalam gelap hanya ada dalam ilusi belaka.



Onde Mande

Oleh: Andi Firdaus

Menyebalkan! Hingga suara onde mande—tak mengerti apa maknanya—yang disuarakan seorang rekan di balik meja kerja. Sebelumnya ada kata, Aneeeeeek, onoooooo, dan kata lempap. Kini ode mande kerap disuarakan untuk melepaskan penat pikiran yang saban hari dihadapkan pada rutinitas editing berita. Ya.


Bahkan, kerap teriakan itu akibat besarnya tekanan saat bekerja. Atau ada teman cerewet—meu pep-pep—mengelurkan keluh kesah untuk memajukan sebuah perusahaan. Keinginan besar itu pula, ambisi dan lain sebagainya membuat panik karena rasa tanggung jawab. Apalagi tidak puas dengan pekerjaan bahkan mencela hasil kerjanya sendiri.

Jika begini, maka Anda sedang dihadapkan apa yang dinamakan burnout atau jenuh. Jika sedang merasa ‘teman’ burnout datang, maka jangan anggap enteng lho. Salah-salah bukan hanya pekerjaan yang terganggu, tapi kesehatan Anda juga terancam. Bayangin kalau harus keluarin uang untuk yang gak perlu. Gila!

Ada beberapa saran. Pertama mungkin kita bisa nikmati kehidupan di luar pekerjaan. Duduk sambil ngobrol dengan secangkir kopi, atau main catur—jangan taruhan—sambil membuang pikiran ke masalah lain. Bagaimana yang kedua? Buat saja kesalahan kecil atau pekerjaan yang lucu di mata orang lain. Mungkin ini bisa merangsang imajinasi dan tantangan baru tercipta.

Apa rencana ketiga? Jangan menjadikan Anda sebagai seorang yang individualis. Jika begini, masalah kecil menjadi besar jika Anda tanggung sendiri. Bagi-bagi masalah dengan rekan-rekan kerja—kan gak ngeluarin biaya—mumpung teman lagi mau gratis. Siapa tahu teman kerja punya solusi kerja Anda.

Nih ada soal satu lagi. Meditasi cepat jika Anda bekerja semakin mudah terserang stres. Hee..heee bisa juga untuk mengatasinya catat semua masalah yang membuat Anda stres. Udah dicatat? Jika sudah renungkan catatan Anda kalau lagi berada di rumah. Misalnya, hal-hal apa saja yang membuat Anda stres, dan cari solusinya. Gampangkan? Toh di perusahaan kita kan sebagai tukang kerja, bukan pemilik. Jadi kerja profesional aja.

Semoga, kerja menjadi nikmat tanpa dibebani rasa frustrasi dan kesal. Hidup sudah pasti tua, tapi jangan bebankan pikiran yang membuat Anda semakin cepat tua. Ondeeeee..Mande.




CERMIN

Oleh: Andi Firdaus

Tak jarang pikiran kita bergentayangan. Bahkan gentayangannya sampai berpikir telah mengenal diri sendiri, dan kerap berpikir sudah mengenal orang di sekeliling kita. Jika begini, ada satu pertanyaan, apakah benar kita telah mengenal diri sendiri dan memahami orang lain? Ini juga perlu ditanyakan di saat kita sedang menasehati orang lain. Apakah kita layak memberi nasehat kepada orang lain? Sementara kita tak paham dengan masalahnya? Itu sekadar input.

Bagaimana output-nya? Perasaan bukan buku yang dapat dengan mudahnya di baca dan dimengerti, perasaan adalah sekumpulan dari pengalaman hidup, emosi, situasi, kondisi dan lainnya. Hal itu dimiliki oleh setiap orang secara individu dan unik. Saya sendiri sedang berusaha belajar meluangkan waktu untuk mencoba memahami orang lain.

Usaha ini seringkali terhambat dengan kenyataan kalau saya belum bisa memahami diri saya sendiri. Masih banyak tanya tentang diri saya sendiri, sebelum saya berusaha memahami orang lain. Akan tetapi, upaya untuk memahami diri sendiri justru telah mengantarkan saya kepada suatu pemikiran sederhana mengenai apa dan bagaimana memahami diri sendiri.

Caranya mungkin begini. Untuk memahami diri sendiri, cobalah memahami orang lain. Dengan kata lain, kita menjadikan orang lain tersebut sebagai cerminan dari diri kita sendiri. Mungkin, setiap hari kita melihat orang emosi yang dapat kita jadikan cermin untuk diri kita sendiri.

Jika kita melihat ada orang yang marah ngga jelas sebabnya, maka sebaiknya kita berpikir, apakah kita juga pernah marah nggak jelas sebabnya? Ada contoh lainnya, ada rekan suka celoteh panjang lebar dengan tema aneka macam dan tidak fokus untuk sebuah pemahaman intelektual, kita bisa bertanya, apakah kita juga celoteh seperti itu? Mungkin kita bisa memahami diri sendiri dengan memahami orang atau rekan kita.

Jadi simpulan yang dapat saya ambil adalah “Semakin sering kita berinteraksi dengan orang lain dan semakin sering kita berupaya memahami orang lain, berarti semakin kita mendekati pemahaman terhadap diri kita sendiri. Dan pasti, kita juga bakal dihargai. Ode mandeeeeeeeee.


PELAKON

Oleh: Andi Firdaus

Hidup kadang seperti seni, lakon dan mainan. Kadang asik, kadang menjengkelkan. Bahkan, Aristoteles mengungkapnya sebagai seni dalam hidup. Seni yang diperankan seperti drama di atas pentas. Berbentuk lakon-lakon, teater, serius bahkan berbagai bentuk acting lainnya.


Ada yang keliatan bodoh, tapi pintar memainkan kebodohannya. Ada berlagak pintar, tapi tak mampu melihat kepandaian si bodoh. Ini hanya lakon dalam sebuah pertunjukan. Sementara, penonton bersorak riuh dari sudut pandang individu dalam kerumunan.

Tertawa kadang bukan ditujukan ke pemeran si bodoh, justru sebaliknya. Begitulah kemeriahan sebuah pentas dari group seni yang baru pertama muncul di depan publik. Ada segelintir yang memuji, dan tak sedikit mencaci. Ini memang resiko jika bermain di depan ratusan pandangan mata.

Ada dua pihak, penonton dan pemain. Kita kerap melupakan berada di antara keduanya. Berbeda dengan Aristoteles, maka Goffman justru mendalaminya dari sudut sosiolagi. Bahkan ia kerap mentransformasikan aneka perilaku interaksi dalam kehidupannya. Perilaku itu diaduk ke dalam sebuah terminology sosial untuk dijadikan kepuasan ‘sepakat'.

Tak jarang perilaku itu tanpa disadari menonjolkan diri, bahkan menarik diri untuk menjadi aktor dadakan. Sementara penonton tertawa geli hingga menjadi tak berarti. Melakonkan diri terus bermain, tanpa melihat bahasa komunikasi verbal yang kerap berujung permainan di luar naskah.

Memahami karakter publik, rekan dan lainnya adalah bahasa verbal yang sungguh harus digunakan. Jangan disalahartikan, karena rekan dan publik akan meninggalkan pertunjukan yang egois. Pada ujungnya adalah menyembunyikan pertunjukan yang gagal secara diam-diam.

Bila kerja adalah pentas drama, maka kendalinya pada sutradara. Bagaimana kalau pentas adalah karakter? Jelas dan pasti, sutradara hanya bisa berkutat pada naskah, bukan menaskahkan karakter. Ini perlu dimengerti jika ingin pertunjukan tak hanya selesai, tapi memuaskan.

Sehingga tepuk sorak bukan sekadar manipulasi, tapi kepuasan. Jika tidak, maka keringat yang sedang dipersiapkan untuk sebuah tujuan adalah utopia. Persiapan drama pun akan mengambang tanpa interaksi komunikasi yang dipersiapkan. Ada dua kemungkinan, kalau bukan penonton yang kecewa, tentu pemain yang jera.

Dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran, sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita inginkan. Mungkin, seorang pelakon yang tak bijak, lebih baik penonton kecewa, ketimbang dirinya jera. Toh, karena hanya pelakon, bukan panitia.



MOTIVASI

Oleh: Andi Firdaus

Ada pepatah tua: manajer dapat dengan mudah menggiring kuda ke dalam air, tetapi manajer tidak dapat memaksanya untuk minum. Mengapa demikian? Karena kuda baru akan minum kalau ia sedang haus.

Begitu pula dengan manusia. Mereka baru akan mengerjakan sesuatu kalau ada yang mereka inginkan, atau sesuatu unsur yang membuat seseorang mengerjakannya. Tak hanya itu, lingkungan dan adanya stimulan dari luar juga bagian yang berpengaruh.

Kemampuan apapun yang dimiliki seseorang, motivasi dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan. Dengan perkataan lain potensi sumber daya manusia adalah sesuatu yang terbatas. Kinerja seseorang merupakan fungsi dari faktor-faktor kemampuan dan motivasi dirinya.

Pekerjaan manajer adalah mendapat hasil atas apa yang dilakukan karyawannya. Tak hanya ‘selesai’ tetapi berkualitas. Mendapatkan hasil itu tentu manajer perlu memberi dorongan atau motivasi. Namun itu mudah diucapkan, sulit ditetapkan. Motivasi sebagai teori merupakan hal yang sulit untuk diimplementasikan karena ia menyangkut beragam disiplin ilmu dan background.

Motivasi diibaratkan sebagai jantungnya manajemen karyawan. Motivasi merupakan dorongan yang membuat karyawan melakukan sesuatu dengan cara dan mencapai tujuan. Tak berhasil mengelola karyawan, termasuk hasil yang diharapkan maka ini bagian dari format motivasi yang hilang. Dan, bersama harus mencarinya.

Manajer membutuhkan keterampilan untuk memahami dan menciptakan kondisi di mana semua anggota tim kerja dapat termotivasi. Ini tantangan besar karena tiap karyawan memiliki perbedaan karakteristik dan respons pada kondisi yang berbeda. Setiap individu adalah karakter tersendiri, yang kemudian dikelola menjadi karakter bersama. Ini lebih sulit.

Dalam kitap tajul muluk, ada banyak cerita ramalan dikisahkan. Dari karakter sebagai elang, kerbau, kambing, dan burung merak. Dan masing-masing memiliki gaya tersendiri. Jika seseorang dikategorikan burung merak, maka dia sering dinobatkan rapi dan necis. Begitu juga dengan yang lainnya.

Sementara, kondisi itu sendiri termasuk jenis persoalan. Apalagi menyatukannya dalam satu kandang. Jika pun bersama maka keanehan bakal terjadi. Beginilah, kondisi ketika kebersamaan karakter tidak disesuaikan dengan memberi dorongan atau motivasi.

Sebaliknya, karyawan yang tidak memiliki motivasi dicirikan antara lain oleh sering stres, sakit fisik, malas bekerja, kualitas kerja rendah, komunikasi personal yang kurang, dan masa bodoh dengan tugas pekerjaannya. Jika ia sebagai kuda, maka paksakan tendang ke dalam air. Jika tak mati, maka hausnya akan hilang. Tentu, ini bukan urusan kita. Karena yang kita butuhkan adalah binatang seperti unta, tanpa dipaksa dengan sendirinya haus di padang sahara.


Pekerja Bermoral

Oleh: Andi Firdaus
Satu tulisan terpampang di baju warna hitam milik teman sekerja. Tulisannya, “Jurnalis Juga Buruh Wak’. Mungkin, jika mengucapkan buruh, kita terbayang ke dalam pabrik-pabrik besar. Tapi sebenarnya, tanpa sadar kita juga buruh yang terus bekerja untuk melahirkan karya melalui rangkaian kata.

Saya tak mengulas devinisi buruh dan undang-undang perburuhan. Apalagi mengungkit berapa gaji yang seharusnya dibayar sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK) atau Upah Minimum Regional (UMR). Pada intinya adalah, buruh juga sebagai manusia yang bekerja demi banyak kepentingan.

Tulisan ini hanya bagian kecil bagi sentuhan melihat pekerja. Bukan pekerjanya, tapi bagaimana bekerja yang professional secara moral. Ini menjadi penting melihat seseorang bekerja professional dari sisi moral. Menurut saya, jika Anda ingin dianggap seperti itu, maka tiga hal menjadi pertimbangan. Tidak memaksa, tidak mengiba dan terakhir tidak berjanji.

Pertama misalnya keterpaksaan. Interaksi pekerja dan yang mempekerjakan (employee-employer) selalu muncul kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan. Seandainya ada salah satu diantara kedua pihak merasa ada yang merasa terpaksa melakukan atau mengikuti aturan kerja, maka kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak profesional dalam menangani perjanjian kerja ini.

Kedua adalah soal mengiba. Susuatu yang dilakukan dengan tindakan mengiba dalam sebuah pekerjaan juga bukan merupakan bagian dari kerja professional. Misalnya, ada karyawan datang kepada atasan memohon tidak di PHK dengan alasan aneka ragam. Sebagai pekerja professional yang bermoral, tindakan ini tidak akan pernah dilakukan. Karena perusahaan memilih seseorang bukan dari kasihan, dan seseorang bekerja juga bukan karena dikasihani.

Sementara yang terakhir soal tidak berjanji. Ada banyak program yang dituntut, seperti target produksi, target penjualan, serta target target perusahaan lainnya. Target tersebut hendaknya bukan merupakan janji, melainkan sebagai pemicu saja dan sebagai ‘alat ukur performance’ dari kedua pihak. Pekerja dan yang mempekerjakan.
Ketiga sikap di atas adalah cermin melihat pantulan cahaya keprofesionalitas individu-individu yang tergabung dalam sebuah perusahaan saat bekerja.

Tidak mengiba dari atasan atau bawahan, tidak memaksa atasan atau bawahan, dan tidak berjanji untuk bawahan dan atasan. Profesional secara moral adalah ukuran perkiraan awal membanguan kemajuan sebuah perusahaan. Jika menganggap diri seorang jurnalis atau yang memperkerjakan jurnalis, maka tulisan di baju rekan saya bisa ditambah, “Jurnalis juga buruh yang bermoral’.


Lemah Otak

Oleh: Andi Firdaus

Ada kalanya Lemah Otak (Lemot) datang tiba-tiba. Memang tak diundang, apalagi dinginkan. Jika begini, sebel, jengkel, gondok (entah kata-kata yang mana lagi) kerap mendampingi. Apalagi menjelang dikejar deadline, harus selesai besok, karena ini koran harian. Kondisi ini pasti pernah dialami banyak orang, bahkan orang yang pernah merasakan bernaung di bawah payung media. May be.

Jangan tanya apa sebabnya. Sebagai orang yang mempelari kejiwaan manusia, mungkin lebih tahu. Why, yang jelas bila dihadapkan dengan kondisi ini, bikin emosi tak stabil. Pinginnya marah melulu. Parahnya, kondisi ini dapat mempengaruhi pencernaan. Apa urusannya ya? Yang pasti tetap ada dong, seperti sering lapar. Ini terjadi karena beban kerjaan yang over load.

Tapi kalau dampaknya, banyak juga. Dan kalau gak mampu dimanage, berbahaya juga. misalnya emosi yang gak stabil. Selain emosi jadi gak stabil, juga jadi gak produktif. Nongkrong di depan komputer, tapi gak ngerjain apa pun, dan gak bisa juga diajak mikir. Kacau betulkan? Masalah semakin berat kalau kebetulan saat itu dead line dari kerjaan kita.

Boss, jika begini cari suasana baru. Jangan jauh-jauh karena dikirain menghilang dari pekerjaan. Cari aja tempat di sekitar tempat kerja. Ini juga berpengaruh bagi mata anda yang memang duluan lelah. Anda liat pemandangan, anak kecil main karet, liat bebek berdebat atau ayam menari. Rasanya sedikit bisa meringankan beban kerja kita. Tak percaya, besok sore coba aja ya?

Setelah itu, jangan langsung duduk di depan komputer. Jangan buru-buru mengerjakan tugas dulu, semacam edit berita ata mencari bahan di website. Ngobrol dulu sama rekan kerja semisal, Onooooooook. O nya panjang, biar kesan nadanya lucu. Atau sekali-kali buat aja gaya kocak, misal Loooo sich, dengan gaya terserah Loe aja deh. Jangan lama-lama, membosankan.